PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) berhasil mencatatkan pendapatan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp 5,52 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini melampaui target yang ditetapkan sebelumnya, yaitu sebesar Rp 5 triliun.
Menurut Presiden Direktur SMRA, Adrianto Pitojo Adi, pencapaian ini menunjukkan kinerja positif perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar properti. Ia menyatakan bahwa segmen pengembangan properti akan terus menjadi kontributor utama pendapatan, dengan kontribusi sebesar 70%. Sisanya berasal dari recurring income.
Untuk memenuhi target tersebut, SMRA melakukan ekspansi bisnis mal. Salah satu contohnya adalah peresmian Summarecon Mal Bekasi Tahap 2 (SMB 2). Hal ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan pangsa pasar dan daya tarik konsumen.
Berdasarkan laporan Tim Riset Stockbit, marketing sales SMRA pada 2025 naik sebesar 27% secara tahunan (year on year). Dengan total penjualan sebesar Rp 5,52 triliun, perusahaan mencatatkan realisasi sekitar 11% lebih tinggi dari target yang ditetapkan.
Lonjakan penjualan terjadi pada kuartal IV 2025, dengan angka mencapai Rp 1,96 triliun. Angka ini tumbuh 15% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya dan meningkat 41% dibandingkan kuartal III 2025 (quarter on quarter).
Produk residensial tetap menjadi motor utama pertumbuhan SMRA. Segmen rumah tapak menjadi penopang utama dengan porsi mencapai 74% dari total marketing sales. Selanjutnya, segmen ruko menyumbang sekitar 17%, kavling tanah sebesar 7%, apartemen 2%, serta perkantoran dan komersial hanya berkontribusi sekitar 0,1%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa marketing sales SMRA didorong oleh segmen penjualan properti, baik rumah tapak maupun apartemen. Menurutnya, hal ini bisa memberikan tren positif untuk kinerja keuangan perusahaan.
Research Analyst Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, menjelaskan bahwa pertumbuhan marketing sales SMRA di tahun 2025 juga dipengaruhi oleh pertumbuhan produk house sebesar 24% secara tahunan (year on year) dengan kontribusi sebesar 73% terhadap total marketing sales.
Secara geografis, Summarecon Serpong masih menjadi kontributor utama dengan pencapaian sebesar Rp 2,48 triliun sepanjang 2025, naik 45% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, proyeksi laporan keuangan tahun 2025 belum akan terimplikasi dari kinerja marketing sales karena biasanya butuh waktu 1–3 tahun untuk pencatatan ke dalam akuntansi dan dapat diakui sebagai pendapatan.
Di tahun 2026, Nafan melihat prospek kinerja SMRA tetap positif dengan portofolio propertinya yang menarik, khususnya untuk segmen masyarakat menengah ke atas. Aqil menilai katalis positif untuk SMRA di tahun 2026 berasal dari potensi pemangkasan suku bunga, insentif PPN DTP yang masih berlangsung hingga 2027, dan peluncuran produk baru.
Namun, ada tantangan negatif seperti ketidakpastian ekonomi global dan daya beli masyarakat kelas menengah bawah yang bisa memengaruhi kinerja.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa kinerja SMRA di tahun 2026 bisa lebih baik karena recurring income dari mal yang mulai pulih. Ia juga menyebut potensi penurunan suku bunga KPR sebagai sentimen positif. Namun, kenaikan harga bahan bangunan bisa menggerus margin perusahaan.
Wafi menilai valuasi saham SMRA masih menarik dengan diskon net asset value (NAV) yang besar dan harga saat ini di bawah rata-rata historis price to book (PBV) lima tahun terakhir. Ia merekomendasikan beli untuk SMRA dengan target harga Rp 630 per saham.
Aqil menghitung bahwa valuasi SMRA saat ini berada di PBV 0,60x. Ia memberikan rekomendasi hold dengan target harga Rp 450 per saham. Sementara Nafan merekomendasikan add dengan target harga Rp 412 per saham.







