Hendrik Irawan Membatalkan Rencana Laporan terhadap Netizen
Hendrik Irawan, seorang mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, akhirnya memilih jalan damai setelah sempat tersulut emosi akibat hujatan di media sosial. Meskipun awalnya berencana melaporkan netizen, ia kini secara resmi menyatakan tidak akan melanjutkan laporannya.
Peristiwa ini bermula dari video joget dan klaim penghasilan Rp6 juta per hari yang viral di media sosial. Video tersebut menimbulkan kontroversi dan gelombang hujatan dari masyarakat. Hendrik mengaku bahwa niat awalnya melaporkan dua akun media sosial ke Polres Cimahi dipicu oleh kondisi psikologis yang sedang tidak stabil. Ia merasa terkejut karena video lama miliknya kembali viral dan memicu reaksi negatif.
“Kemarin itu mungkin karena saya lagi tersulut emosi, dan kaget karena konten saya yang terdahulu, ada yang sudah 5 bulan diviralkan,” ujarnya di Desa Pangauban, Jumat (27/3/2026). Meskipun sempat diarahkan untuk membuat laporan resmi ke Polda Jawa Barat, Hendrik memilih untuk mengurungkan niat tersebut.
Permohonan Maaf kepada Presiden Prabowo Subianto
Selain membatalkan laporan, Hendrik juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia menyadari bahwa konten flexing atau pamer penghasilan Rp6 juta sehari telah menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Ia mengklarifikasi bahwa angka tersebut sebenarnya sesuai dengan petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN), namun menyesali cara penyampaiannya yang dianggap kurang bijak.
“Saya mohon maaf kepada Presiden Prabowo Subianto kepada netizen. Silakan jika ada yang kecewa atau marah, saya memahami. Ini jadi pelajaran bagi saya,” tandas Hendrik.
Isi Video Klarifikasi
Dalam video klarifikasinya, Hendrik menjelaskan bahwa ia diberhentikan oleh Ibu Nani selaku Wakil Badan Gizi Nasional. Ia menyebutkan bahwa hujatan dan cacian dari netizen menyebabkan SPBG-nya ditutup. Selain itu, ia juga menyampaikan rasa prihatin atas nasib 150 relawan yang tidak bisa bekerja karena penutupan SPBG tersebut.
Ia juga mengungkapkan bahwa aksi hujatan dan laporan dari netizen kepada BPN menyebabkan beberapa relawan tidak bisa melakukan produksi pada tanggal 31. Hendrik menyatakan bahwa ia tidak menyalahkan netizen, tetapi merasa sedih karena SPBG-nya harus ditutup sementara waktu.
Sosok Hendrik Irawan
Hendrik merupakan sosok yang cukup aktif di media sosial dalam mengampanyekan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di wilayah Kecamatan Batujajar, ia mengelola dapur SPPG dan sering membagikan aktivitas penyediaan makanan bergizi. Karena keaktifannya, ia kerap dijuluki netizen sebagai Hendrik MBG.
Kontras dengan Aksi Haji Her di Pamekasan

Di tengah sorotan terhadap Hendrik Irawan, aksi inspiratif justru datang dari CEO PT Bawang Mas Group, Khairul Umam atau yang akrab disapa Haji Her. Sebagai sesama pengelola dapur SPPG di Pamekasan, Haji Her memilih fokus pada aksi bagi-bagi. Menjelang Idul Fitri, Haji Her menggelontorkan dana sebesar Rp45 miliar untuk santunan.
4.000+ Anak Yatim mendapatkan Rp5 juta per orang. Warga miskin mendapatkan Rp1 juta per orang. Santunan diantarkan langsung ke rumah warga di 13 kecamatan tanpa dokumentasi berlebihan. “Saya memang memerintahkan untuk tidak ada dokumentasi. Biar semuanya berjalan natural,” kata Haji Her.







