Virus Nipah: Penyakit yang Perlu Diwaspadai
Setelah wabah virus corona (COVID-19) yang muncul pada tahun 2019, dunia menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan munculnya penyakit baru. Baru-baru ini, beberapa negara di Asia Tenggara mengalami kaget dengan munculnya wabah virus Nipah di Bangladesh. Meski di Indonesia belum ada kasus virus Nipah, penting bagi kita untuk tetap waspada terhadap penyakit ini.
Virus Nipah adalah virus zoonosis, yang berarti berasal dari hewan sebelum menjangkit manusia. Dalam kasus ini, inang utamanya adalah kelelawar, mirip dengan virus corona. Jika kedua virus ini berasal dari inang yang sama, apakah virus Nipah juga bisa menyebabkan pandemik? Berikut penjelasannya!
Virus Nipah Mudah Menyebar
Layaknya virus lain seperti COVID-19 dan influenza, virus Nipah memiliki kemampuan untuk menyebar dengan mudah. Kelelawar buah merupakan inang alami dari virus Nipah. Namun, dalam kelelawar, virus ini tidak menyebabkan masalah apa pun. Virus kemudian menyebar ke babi dan hewan lain melalui cairan tubuh seperti air kencing, tinja, darah, dan air liur. Pada manusia, virus ini memiliki banyak cara untuk menyebar.
Pertama, virus Nipah bisa menyebar dari hewan ke manusia melalui makanan. Contohnya, konsumsi buah yang sudah digigit atau disentuh oleh hewan terinfeksi. Selain itu, virus juga bisa menyebar melalui cairan tubuh. Cairan tubuh ini tidak selalu dalam bentuk air kencing atau liur, bahkan tetesan air yang menyebar melalui udara ketika seseorang bersin atau batuk pun bisa membuat orang lain tertular virus Nipah.
Infeksi Virus Nipah Memiliki Tingkat Kematian Tinggi

Setelah seseorang terinfeksi, virus Nipah membutuhkan waktu antara 4 hingga 21 hari masa inkubasi sebelum gejala muncul. Gejala awalnya meliputi demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan nyeri otot. Gejala ini sering membuat orang salah mengira dirinya hanya menderita flu biasa. Banyak penderita juga mengalami pneumonia atau kesulitan bernapas yang memaksa mereka harus dirawat di rumah sakit.
Namun komplikasi yang paling serius adalah ensefalitis (radang otak) dan meningitis, yang biasanya berkembang antara 3 hingga 21 hari setelah gejala awal muncul. Gejalanya mencakup kebingungan, kantuk, kejang, hingga koma dalam waktu 24-48 jam. Infeksi virus Nipah juga memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, antara 40 hingga 75 persen. Bahkan setelah sembuh, penderita masih berisiko mengalami infeksi kembali karena virus Nipah bisa aktif kembali.
Apakah Virus Nipah Bisa Menyebabkan Pandemik?

Virus Nipah pertama kali ditemukan di Malaysia pada tahun 1998 saat wabah peternakan babi. Setelah itu, virus ini juga ditemukan di beberapa negara lain seperti Singapura, Filipina, India, hingga Bangladesh. Di Bangladesh, kasus infeksi virus Nipah muncul hampir setiap tahun, termasuk empat kasus fatal pada pertengahan 2025 lalu. Di Barat Bengal, India, kasus serupa juga terjadi pada awal 2026.
Meski virus Nipah bisa menyebar dari manusia ke manusia, infeksinya tidak menyebar secara global seperti virus corona. Sebaliknya, virus ini lebih sering menyebabkan outbreak lokal di Asia Selatan, terutama di negara-negara seperti India dan Bangladesh.
Cara Mencegah Penyebaran Virus Nipah

Karena saat ini belum ada vaksin yang disetujui untuk melindungi diri dari virus Nipah, kita harus melakukan pencegahan sebaik mungkin. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Menghindari kontak dengan kelelawar serta hewan yang sakit.
- Tidak mengonsumsi buah yang jatuh di tanah atau memiliki bekas gigitan hewan.
- Mencuci buah secara menyeluruh dengan air bersih.
- Mengupas kulit buah sebelum dikonsumsi.
- Menggunakan pakaian pelindung dan sarung tangan saat berhadapan dengan hewan sakit.
- Mencuci tangan setelah merawat atau mengunjungi orang yang terinfeksi.
- Menghindari kontak dengan siapa pun yang terinfeksi virus Nipah.
Meskipun virus Nipah tidak menyebabkan pandemik, infeksi ini tetap sangat berbahaya karena tingkat kematian yang tinggi. Ditambah lagi, belum ada vaksin atau obat yang dapat mengatasi penyakit ini, sehingga pengendalian dan pencegahan tetap menjadi kunci utama.







