Cadangan BBM Nasional Masih Aman untuk 20 Hari
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih cukup untuk 20 hari ke depan. Meskipun konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran di Timur Tengah semakin memanas, situasi domestik tetap terkendali.
Bahlil mengatakan, subsidi BBM untuk masyarakat juga tidak mengalami masalah hingga saat ini. Namun, ia mengingatkan adanya potensi koreksi harga seiring gejolak geopolitik global. “Harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa pihaknya akan segera melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN) setelah itu akan menyampaikan hasil analisis dan kajian dari DEN.
Dampak Jika Konflik Berlangsung Lebih Lama
Jika perang AS-Israel melawan Iran berlangsung lebih lama, Indonesia terpaksa membeli minyak dengan harga yang lebih mahal. Menurut pengamat energi dan ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, cadangan BBM dalam negeri yang mampu bertahan dalam 20 hari ke depan adalah cadangan BBM yang dibeli dengan harga sebelum konflik Timur Tengah meletus.
“Kalau perang lebih lama, ya Indonesia terpaksa beli dengan harga yang lebih mahal. Bisa 100.000 dollar AS per barel,” kata Fahmi. Ia menjelaskan serangan pertama AS-Israel ke Iran saja sudah menyebabkan kenaikan harga minyak dunia menjadi 67.000 dollar AS.
Dilansir dari Reuters, pada penutupan perdagangan 2 Maret 2026, harga minyak mentah Brent naik 4,87 dollar AS atau naik 6,7 persen menjadi 77,74 dolar AS per barel. Kenaikan tajam ini menyusul pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mengindikasikan kesiapan mereka untuk menyerang kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Adapun harga minyak mentah WTI naik 4,21 dollar AS atau 6,3 persen menjadi 71,23 dollar AS per barel.
Pengawasan Ketersediaan Energi Selama Ramadhan
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun memastikan, ketersediaan energi dalam negeri selama bulan Ramadhan telah dipantau oleh Satgas RAFI. Ia menjelaskan, fokus kelancaran arus mudik dan arus balik terpantau siap diamankan.
Roberth menjelaskan, Satgas RAFI nantinya akan memonitor dan mengevaluasi apabila Indonesia memerlukan langkah-langkah dalam memastikan kelancaran ketersediaan energi di tengah konflik Timur Tengah.
Dampak Ekonomi dan Krisis BBM
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menyatakan, pembelian minyak dunia dengan harga terbaru usai konflik di Timur Tengah akan memengaruhi perekonomian di Indonesia. Jika pertempuran antara AS-Israel dan Iran bertahan lebih lama, maka pasokan BBM di dalam negeri tentu akan terganggu sehingga terjadi krisis di semua SPBU.
“Antrian panjang mencari BBM, bahkan terjadi black market atau transaksi BBM ilegal,” kata Bhima. Dia memprediksi, fenomena penimbunan BBM juga bisa terjadi. Gejolak BBM ini turut memengaruhi sektor transportasi hingga listrik di Tanah Air.
“Bukan cuma ganggu sektor transportasi, tapi juga memicu black out listrik. Pemadaman listrik karena komponen fossil masih mendominasi sangat berisiko ketika krisis minyak terjadi,” jelasnya.
Indonesia Belum Siap Menghadapi Transisi Energi
Di saat yang bersamaan, Bhima menyampaikan bahwa Indonesia belum mempersiapkan transisi energi dengan serius. “Transisi energi terbarukan gantikan bahan bakar fosil di pembangkit listrik masih rendah, baru 13 persen. Sebenarnya ini momentum untuk dorong energi terbarukan masif, melalui proyek 100 GW,” terang Bhima.
Dia menambahkan, percepatan transisi ke energi terbarukan di Indonesia sangat diperlukan untuk mengurangi ketergantungan impor minyak, terutama di sektor pembangkit listrik, misalnya dengan memberikan stimulus fiskal ke instalasi panel surya, angin, dan air.
Pengaruh Pelayaran di Selat Hormuz
Kenaikan harga minyak dunia sangat dipengaruhi kondisi di Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang strategis untuk ekspor minyak global. Mengutip Al Jazeera (3/3/2026) dan data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barrel minyak per hari melewati selat ini pada 2024, setara dengan seperlima konsumsi minyak global dengan nilai mencapai 500 miliar dolar AS (sekitar Rp 8,4 kuadriliun, kurs Rp 16.700).
Negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah seperti Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) mengandalkan selat Hormuz untuk menyalurkan ekspor minyak ke Asia, Amerika Utara, dan Eropa. Pasar Asia sendiri menjadi konsumen terbesar, dengan 84 persen ekspor kondensat diarahkan ke negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.







