Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Hasil Super League – Pendekar Cisadane Comeback Sensasional dalam Satu Menit, Persita Menang Dramatis atas PSBS Biak

    18 Februari 2026

    Jadwal KM Gunung Dempo 13 Februari – 6 Maret 2026: Rute ke Nabire, Wasior, Manokwari, Sorong

    17 Februari 2026

    5 Film dan Serial Superhero Pilihan untuk Akhir Pekanmu

    17 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 18 Februari 2026
    Trending
    • Hasil Super League – Pendekar Cisadane Comeback Sensasional dalam Satu Menit, Persita Menang Dramatis atas PSBS Biak
    • Jadwal KM Gunung Dempo 13 Februari – 6 Maret 2026: Rute ke Nabire, Wasior, Manokwari, Sorong
    • 5 Film dan Serial Superhero Pilihan untuk Akhir Pekanmu
    • Ni Luh Puspa Buka Rute Penerbangan Jakarta-Luwuk dan Guangzhou-Palu
    • Isyarat Bagnaia: Peluang Dibuang Ducati di MotoGP 2027
    • Cara Licik AKBP Didik Menyelundupkan Narkoba di Rumah Polwan Dianita
    • 3 Alasan Roy Suryo Cs Minta Irwasum Polri Hentikan Kasus Ijazah Jokowi
    • Kondisi Terkini Leo Lelis dan Risto Mitrevski! Andalan Persebaya Jegal Transisi Cepat Bhayangkara FC
    • Berlebih-lebihan dalam Hal Mubah: Refleksi Menuju Ramadhan
    • Balita di Karawang Dianiaya Pacar Ibunya
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Ekonomi»Berlebih-lebihan dalam Hal Mubah: Refleksi Menuju Ramadhan

    Berlebih-lebihan dalam Hal Mubah: Refleksi Menuju Ramadhan

    adm_imradm_imr17 Februari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Ramadhan: Persimpangan Antara Spiritualitas dan Realitas Ekonomi

    Setiap kali bulan Ramadhan tiba, suasana religius semakin terasa. Masjid-masjid lebih ramai, kajian-kajian bertambah, dan ruang publik dihiasi dengan nuansa spiritual. Namun di sisi lain, data ekonomi menunjukkan dinamika yang tak kalah signifikan.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan menjelang Idul Fitri pada kisaran 0,33–0,40 persen, dengan kontribusi terbesar dari kelompok makanan dan minuman. Komoditas seperti beras, daging ayam ras, dan telur menjadi penyumbang utama kenaikan harga. Bank Indonesia juga melaporkan penguatan konsumsi rumah tangga—yang menyumbang lebih dari 50 persen Produk Domestik Bruto—serta lonjakan transaksi ritel dan pembayaran digital selama periode Ramadhan.

    Angka-angka ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum ekonomi terbesar dalam setahun. Secara makro, fenomena ini bisa dibaca sebagai dinamika positif: UMKM bergerak, sektor ritel tumbuh, dan industri modest fashion mencatat peningkatan signifikan.

    Namun, pertanyaan normatif muncul ketika kita mengaitkan fakta ini dengan makna ibadah Ramadhan, khususnya puasa. Alquran menegaskan bahwa puasa diwajibkan “agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah: 183). Takwa, menurut Al-Ghazali, adalah kesadaran diri yang melahirkan pengendalian hawa nafsu. Jika puasa adalah latihan pembatasan, mengapa konsumsi justru meningkat? Di sinilah Ramadhan berada di persimpangan antara makna spiritual dan realitas ekonomi.

    Ramadhan, Madrasah Pengendalian Diri

    Puasa merupakan mekanisme pendidikan jiwa. Ketika makan dan minum—yang secara hukum mubah—dibatasi sepanjang hari, manusia dilatih untuk memahami batas. Pembatasan terhadap yang halal mengandung pesan pedagogis: kebebasan tidak identik dengan tanpa batas, tapi kebebasan dengan pengendalian dari dalam.

    Nabi SAW mengingatkan, “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa puasa tidak berhenti pada dimensi fisik. Ia menuntut transformasi sikap dan kesadaran.

    Pengendalian diri tidak akan datang sendirinya, tapi hanya bisa dilakukan dengan kesadaran. Dalam perspektif maqaṣid al-syari‘ah, puasa menjaga agama (hifz al-din) melalui tazkiyah dan menjaga jiwa (hifz al-nafs) melalui pengendalian diri.

    Dengan demikian, esensi Ramadhan adalah restrukturisasi orientasi hidup dari dominasi hasrat menuju kedewasaan moral dan spiritual.

    Industrialisasi Ramadhan dan Komodifikasi Simbol

    Lonjakan transaksi digital dan ritel selama Ramadhan menunjukkan intensifikasi aktivitas konsumsi. Restoran menawarkan paket berbuka premium, pusat perbelanjaan memperpanjang jam operasional, dan kampanye “Ramadhan Sale” membanjiri media sosial. Dalam kajian Islam publik, fenomena ini dipahami sebagai pertemuan simbol religius dengan logika pasar.

    Ekonomi halal tentu sah dan penting untuk tumbuh dan berkembang. Namun saat simbol ibadah digunakan sebagai strategi pemasaran, terjadi komodifikasi nilai. Agama tak lagi sekadar sistem etika, juga instrumen branding. Ramadhan menjadi “high season” industri halal.

    Dalam kerangka etika Islam, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis identik dengan kemaslahatan. Islam mengenal prinsip wasathiyah—moderasi—sebagai jalan tengah. Logika pasar mendorong “lebih banyak”, sementara puasa mengajarkan “cukup”.

    Ketegangan ini menempatkan Ramadhan pada posisi dialektis antara spiritualitas dan kapitalisme.

    Mubah, Israf, dan Dampak Sosial

    Dalam fikih, makan saat berbuka dan membeli pakaian baru adalah mubah. Namun Alquran memberikan batas tegas: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan” (QS. al-A‘raf: 31). Ibn Kathir menjelaskan, israf berarti melampaui batas dalam perkara halal.

    Ulama ushul fikih menegaskan, hukum dapat berubah mengikuti dampaknya. Al-Syatibi menyatakan seluruh hukum Islam bertujuan merealisasikan kemaslahatan dan mencegah mafsadah. Jika praktik mubah mendorong pemborosan, tekanan sosial, atau utang konsumtif, maka ia berpotensi bergerak menuju wilayah etis yang problematik.

    Inflasi 0,3 persen mungkin tampak kecil secara makro, tetapi bagi keluarga miskin, kenaikan harga beras atau telur berarti pengurangan konsumsi harian. Peningkatan konsumsi sebagian kelompok dapat berdampak pada kelompok rentan.

    Dalam perspektif maqaṣid, situasi ini menyentuh dimensi hifz al-mal dan hifz al-nafs. Ramadhan yang seharusnya memperkuat empati justru berisiko memperlebar jarak sosial jika solidaritas tidak ikut meningkat.

    Solidaritas Sosial: Kaum Dhuafa dan Korban Bencana

    Alquran mengingatkan dalam Surat al-Ma‘un (QS. 107:1–3), agama tidak cukup dengan ritual, tetapi harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap yatim dan miskin. Nabi SAW bersabda, “Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Indonesia hampir setiap tahun menghadapi bencana alam, yang melahir kaum dhuafa baru. Banyak keluarga di Sumatra dari Aceh sampai Sumatra Barat menjalani Ramadhan di tenda-tenda pengungsian dengan keterbatasan pangan dan air bersih. Mereka adalah saudara kita, solidaritas bukan sekadar anjuran moral, tetapi bagian dari esensi ibadah, khususnya Ramadhan.

    Kaum dhuafa ada di mana-mana, mereka ada di sekitar kita. Ada juga di tempat yang jauh di penjuru Nusantara, juga di Palestina, negara-negara konflik, negara-negara miskin di Afrika. Mereka semua memperhatikan gerak-gerik kita, menunggu kepedulian terbaik kita.

    Meskipun kajian filantropi Islam menunjukkan, penghimpunan zakat dan sedekah meningkat selama Ramadhan, idealnya, peningkatan kepedulian harus melampaui pola musiman. Jika konsumsi meningkat 5–10 persen selama Ramadhan, maka solidaritas sosial seharusnya meningkat lebih besar lagi.

    Menjaga Batas, Menjaga Takwa

    Ramadhan berada di persimpangan antara tazkiyah dan industrialisasi ibadah. Angka-angka ekonomi menunjukkan dinamika pasar, tetapi ayat dan hadis mengingatkan pada tujuan spiritual.

    Puasa bukan hanya menahan lapar, juga menahan hasrat konsumsi. Ia bukan sekadar mengurangi makan, tetapi juga memperluas empati. Jika konsumsi meningkat tanpa diiringi solidaritas, maka Ramadhan kehilangan sebagian ruhnya.

    Allah SWT berfirman, “Dan janganlah engkau menjadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula terlalu mengulurkannya” (QS. al-Isra’: 29). Keseimbangan adalah kunci.

    Takwa tidak lahir dari kelimpahan tak terkendali, tetapi dari batas yang dijaga. Dan batas itu bukan ditentukan pasar, melainkan kesadaran hati.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Lima Perusahaan Tiongkok Bersaing untuk Proyek WTE Danantara

    By adm_imr17 Februari 20261 Views

    Bapanas Siapkan Langkah Turunkan Harga Cabai Rawit

    By adm_imr17 Februari 20260 Views

    Informasi PPPK Kemenkumham 2026: Persyaratan, Gaji, dan Pendaftaran

    By adm_imr17 Februari 20260 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Hasil Super League – Pendekar Cisadane Comeback Sensasional dalam Satu Menit, Persita Menang Dramatis atas PSBS Biak

    18 Februari 2026

    Jadwal KM Gunung Dempo 13 Februari – 6 Maret 2026: Rute ke Nabire, Wasior, Manokwari, Sorong

    17 Februari 2026

    5 Film dan Serial Superhero Pilihan untuk Akhir Pekanmu

    17 Februari 2026

    Ni Luh Puspa Buka Rute Penerbangan Jakarta-Luwuk dan Guangzhou-Palu

    17 Februari 2026
    Berita Populer

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    Kabupaten Malang 6 Februari 2026

    Kabupaten Malang– Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang menggeledah Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten…

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026

    Kabar Transfer: AC Milan Beralih dari Vlahovic ke Striker Nomor 9

    9 Februari 2026

    Unduh Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026, Lengkap Muhammadiyah dan Kemenag

    8 Februari 2026
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?