Kabupaten Malang – Diduga gagal menepis memori masa lalu, seorang pria beristri berinisial FR alias RID tega mengkhianati rumah tangganya demi wanita lain, UM alias KUL yang juga berstatus istri orang. Indikasi perselingkuhan yang melibatkan sejoli yang mengaku pernah menjadi teman masa SMA itu terungkap saat keduanya terpergok momen berduaan di sebuah penginapan di wilayah Kabupaten Malang (13/2/2026).
Jarak yang sempat memisahkan mereka karena masing-masing telah memutuskan menikah ternyata tak cukup kuat untuk memadamkan api asmara yang sudah telanjur berkobar sejak mereka masih berstatus pelajar.
Dalam keterangannya kepada media (14/2/2026), UM saat dikonfirmasi di kediamannya di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang itu tak menampik bahwa ia dan RID merupakan teman lama semasa masih berseragam abu-abu putih. “Saya teman lama sama dia, teman SMA” akunya.
Mimik wajah UM berubah memerah saat pertanyaan mengarah pada intensitas pertemuan mereka. Dalam pengakuannya UM menyatakan baru sekali menuruti kemauan RID untuk ke hotel. Di sisi lain, UM yang merupakan istri dari pria berinisial AGS itu tak membantah bahwa dirinya telah mengetahui jika RID sudah beristri. “Iya, saya tahu” ujarnya sambil mengangguk mantap.
Yang mengejutkan, ketika ditanya apa yang mendorongnya melakukan hubungan terlarang itu, perempuan yang sehari-hari bekerja di sebuah klinik tak jauh dari rumahnya itu tersenyum tipis dan memilih jawaban singkat. “Saya hanya coba-coba.”, ungkapnya.
Terpisah, RID saat dikonfirmasi sejumlah awak media, warga Dusun Bendo, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang itu membenarkan bahwa dirinya mempunyai hubungan rahasia dengan UM. Namun, dirinya tak menyangka apa yang dilakukannya berdua bersama UM yang diakuinya baru pertama kali di hotel itu, bisa terungkap.
Pria berkulit gelap dengan rambut lurus berwarna terang ini mengaku bahwa momen berduaan di hotel itu terjadi karena dia dan UM sama-sama menginginkannya. Malahan pria beranak dua ini membeberkan kalau sebelumnya sudah sering bertemu dan berkomunikasi dengan UM dan telah lama menunggu kesempatan dapat bermesraan dan mengenang masa SMA bersama UM. “Saya sering ketemu sama dia (UM). Kadang saya sengaja ke bengkel yang ada di dekat rumahnya, kadang juga saya ke tempat kerjanya.”, katanya.
Sangat ironis, meski mengakui sangat menyayangi istrinya dan tidak mempunyai masalah dalam rumah tangganya, namun RID mengaku ingin merasakan sensasi berselingkuh dari istrinya. “Saya pengen tau sensasinya. Ibarat saya tiap hari makan pecel, saya mau yang lainnya.”, ujarnya.
Tak hanya itu. RID yang dikenal sebagai sosok suami setia yang rajin bekerja di sebuah bengkel yang dirintisnya bersama sang istri berinisial PRW itu, menguak alasan mengapa dirinya nekad mengajak UM. “Dulu saya tidak punya kesempatan (berhubungan-red) sama dia. Sekarang sudah ada HP jadi mudah menghubungi.”, akunya.
Rasa yang telah lama terpendam itu akhirnya membawa RID dan UM ke dalam sebuah cerita gelap tentang kisah dugaan perselingkuhan. “Saya tahu dia (UM-red) sudah punya suami.”, katanya lesu nampak menyesali perbuatannya.
Kebutuhan Emosional atau Masalah Psikologi?
Fenomena seseorang yang mengaku sangat mencintai istrinya namun nekat berselingkuh adalah situasi kompleks yang sering membingungkan, namun umum dalam studi psikologi hubungan. Mengaku cinta dan berkhianat bisa terjadi bersamaan karena selingkuh sering kali bukan tentang hilangnya rasa cinta, melainkan tentang kebutuhan pribadi, pelarian, ketidakpercayaan diri atau kerentanan diri. Hal ini telah dikupas tuntas dalam beberapa artikel dan konten edukasi yang diulas oleh affair recovery experts di laman situs relationshipexpertonline.com dan laman YouTube Effective Infidelity Recovery Program. Berikut adalah beberapa alasan psikologis mengapa hal ini terjadi:
- Mencari “High” atau Kebaruan (Novelty). Manusia terkadang memiliki keinginan bawah sadar untuk mencari kegembiraan, tantangan, atau sensasi baru yang tidak lagi ditemukan dalam hubungan jangka panjang, bahkan jika hubungan tersebut bahagia.
- Ketakutan akan Komitmen atau Konflik. Terkadang, perselingkuhan terjadi sebagai cara untuk menghindari masalah rumah tangga yang sebenarnya (misalnya, takut konfrontasi) atau untuk melepaskan stres.
- Kesenjangan antara Fantasi dan Realita. Perselingkuhan seringkali didorong oleh ilusi atau fantasi yang tidak nyata, terutama di era media sosial, yang memicu seseorang untuk mencari sensasi sesaat tanpa berniat meninggalkan istrinya.
- Masalah Psikologis atau Adiksi. Dalam laman Integrative Psychotherapy sebuah layanan khusus menangani terapi pasca trauma menjelaskan bahwa perilaku ini didorong oleh masalah kepribadian seperti narsisme (merasa berhak mendapatkan lebih) atau kecenderungan impulsif, di mana pelaku mencari kepuasan fisik tanpa melibatkan emosi.
Dalam banyak kasus, pelaku selingkuh tipe ini beranggapan bahwa tindakan mereka adalah “kekhilafan” dan memisahkan cinta emosional pada istri dengan pemuasan hasrat fisik/fantasi di luar. Mereka mungkin benar-benar mencintai istrinya, namun ego atau ketidakmampuan mengelola emosi dan keinginan membuat mereka nekat berkhianat.
Suami Selingkuh Bagaimana Dampak Hukumnya?
Kondisi di mana seseorang mengetahui risiko dan dampak hukum/sosial dari perselingkuhan namun tetap tidak bisa berhenti sering kali merujuk pada perilaku adiksi (kecanduan) selingkuh atau selingkuh berulang. Ini bukan hanya masalah moral, melainkan juga masalah psikologis, neurobiologis, dan konsekuensi hukum yang serius.
Berdasarkan Pasal 284 KUHP lama atau Pasal 411 UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Baru), selingkuh yang melibatkan hubungan badan (persetubuhan) dikategorikan sebagai perzinaan.
Perselingkuhan yang berakhir menjadi masalah hukum seringkali menjadi konsumsi publik, yang mengakibatkan rusaknya reputasi pelaku di mata keluarga, teman dan rekan kerja. Stigma sebagai “penghancur rumah tangga” seringkali lebih berat ditanggung daripada hukuman penjara.
Masalah utama bagi banyak pelaku selingkuh yang sudah memiliki anak adalah kehilangan akses atau hak asuh anak. Karena dampak perceraian akibat perselingkuhan sering kali mengakibatkan anak-anak memilih pihak yang diselingkuhi, membuat pelaku kehilangan figur “ayah/ibu” yang ideal dan ikatan emosional dengan anak-anak mereka. (RYD)







