Perdebatan tentang Status Hukum Whip Pink dan Dampaknya terhadap Generasi Muda
Jagat media sosial kembali diguncang oleh perdebatan yang muncul setelah seorang tokoh publik, Rachel Aseelah Hanafi atau BTR Rachel, mengungkapkan pendapatnya mengenai whip pink. Sebagai Brand Ambassador termuda Bigetron Esports (BTR), ia menyampaikan pandangan bahwa penggunaan whip pink pada tahun 2024 belum dianggap berbahaya. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk netizen dan kalangan influencer.
Pernyataan Rachel Mengenai Status Hukum Whip Pink
Dalam video yang viral, Rachel menyebut bahwa whip pink legal pada 2024 karena belum ada korban jiwa. Ia juga menegaskan bahwa gas N2O dalam tabung tersebut belum masuk golongan narkoba. Menurutnya, keadaan saat itu tidak seburuk sekarang, sehingga penggunaan whip pink dinilai tidak berisiko tinggi.
“2024 itu legal, sori. Dan sampai sekarang belum masuk golongan narkoba kan? Lu mau tangkep juga yaudah gue enggak ada tabungnya,” ujar Rachel.
Ia menambahkan bahwa skala kasus saat itu belum sebesar sekarang, sehingga penggunaan whip pink dianggap tidak berbahaya. Namun, pernyataan ini justru menjadi sorotan tajam dari banyak pihak.
Kecaman Netizen: Dinilai Menyesatkan dan Berbahaya
Reaksi publik cepat muncul setelah pernyataan Rachel beredar. Banyak warganet mengecam ucapan tersebut karena dianggap meremehkan potensi bahaya gas N2O. Mereka khawatir pernyataan ini bisa memengaruhi anak muda untuk menganggap enteng risiko penyalahgunaan whip pink demi kesenangan sesaat.
Kritik tidak hanya datang dari pengguna media sosial biasa, tetapi juga dari kalangan influencer yang memiliki basis pengikut besar. Salah satu suara paling nyaring datang dari Tiara Pangestika, istri Arief Muhammad. Lewat akun media sosialnya, Tiara melontarkan sindiran yang langsung menjadi perbincangan luas.
“Nah, adik-adik, ini dia efek samping tabung tersebut,” tulis Tiara.
Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar warganet. Hingga pukul 16.17 WIB, postingan itu tercatat telah disukai sekitar 17 ribu kali dan menuai ratusan komentar. Banyak netizen memuji sindiran Tipang yang dinilai tepat sasaran dan menyentil pernyataan Rachel secara halus namun tajam.
BNN Tegaskan: Bukan Narkotika, Tapi Berbahaya Jika Disalahgunakan
Di tengah polemik yang kian memanas, Badan Narkotika Nasional (BNN) akhirnya angkat bicara. Kepala BNN Komjen Pol. Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa gas N2O dalam tabung whip pink memang tidak termasuk zat narkotika. Namun, ia mengingatkan keras agar masyarakat tidak menyalahgunakannya demi mengejar sensasi euforia.
“Zat ini, gas ini disalahgunakan oleh masyarakat kita atau anak-anak kita ya, untuk euforia, kesenangan yang secara efeknya cepat gitu ya. BNN tentunya juga tidak bisa bekerja sendiri, kita akan terus bekerja sama dengan stakeholder yang lain ya, untuk terus mengawasi ya peredaran ini. Karena memang secara regulasi zat ini belum diatur dalam narkotika,” ujar Suyudi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Suyudi menekankan bahwa meski belum dikategorikan sebagai narkotika, gas N2O memiliki efek stimulan yang tinggi dan berisiko membahayakan keselamatan, bahkan berujung pada kematian jika disalahgunakan.
Digunakan untuk Medis dan Makanan, Bukan Euforia
Lebih lanjut, Kepala BNN menjelaskan bahwa whip pink sejatinya digunakan untuk kepentingan yang sah, seperti medis dan industri makanan. Gas tersebut lazim dipakai dalam dunia kuliner maupun kebutuhan kesehatan.
“Whip pink ini kan adalah zat yang digunakan baik untuk medis maupun juga untuk produk makanan sebenarnya ya. Baik itu untuk kopi misalnya, untuk roti, kue, dan sebagainya,” jelas Suyudi.
Karena itu, ia meminta peran aktif orang tua dan lingkungan sekitar untuk mengawasi anak-anak agar tidak menyalahgunakan gas tersebut demi kesenangan sesaat.
Status Hukum Masih Dikaji
Meski belum masuk kategori narkotika, BNN memastikan kajian terkait status hukum zat dalam whip pink masih terus berjalan. Pemerintah membuka kemungkinan pengetatan regulasi jika risiko penyalahgunaan dinilai semakin membahayakan masyarakat.
“Iya, iya, masih,” imbuh Suyudi singkat saat ditanya apakah kajian tersebut masih berlangsung.
Kontroversi ini pun menjadi pengingat keras bahwa pernyataan figur publik di ruang digital memiliki dampak luas dan bisa membentuk persepsi generasi muda terhadap isu serius yang menyangkut keselamatan jiwa.







