Keterputusan Hubungan Pentagon dengan Harvard: Tanda Perpecahan di Amerika Serikat
Di tengah dinamika politik yang semakin memanas, sebuah keputusan penting yang mengguncang dunia pendidikan dan pertahanan Amerika Serikat diumumkan. Pentagon, di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, secara resmi memutus seluruh hubungan pendidikan profesional dengan Universitas Harvard.
Keputusan ini disebut Hegseth sebagai “sudah lama tertunda”, tetapi bukan sekadar perubahan kebijakan administratif. Ini adalah tindakan yang menandai pergeseran signifikan dalam hubungan antara pemerintah dan institusi akademik elit. Sebagai salah satu pilar tradisional yang menjadi fondasi kekuatan Amerika Serikat, sinergi antara militer dan akademik kini terancam.
Langkah ini tidak hanya disayangkan, melainkan juga menjadi peringatan bahwa pemerintah semakin menjauh, bahkan bersikap antagonis terhadap pusat-pusat keilmuan yang selama berabad-abad menjadi inkubator pemikiran dan inovasi bangsa. Dengan retorika yang tegas dan penuh tuduhan, Hegseth menjelaskan alasan di balik pemutusan hubungan tersebut.
“Harvard itu progresif; Departemen Pertahanan tidak,” ujarnya dengan nada final. Ia menggambarkan universitas bergengsi itu sebagai tempat yang gagal memahami “kelas prajurit” Amerika, dan justru mengirimkan perwira-perwiranya pulang dengan “kepala penuh ideologi globalis dan radikal” yang dianggapnya tidak berguna bagi kesiapan tempur.
Lebih jauh, ia melemparkan serangkaian tudingan berat: bahwa Harvard menciptakan iklim yang “merayakan Hamas”, membiarkan anti-Semitisme, mempromosikan diskriminasi ras, dan yang paling sensitif secara geopolitik, bahwa kampus tersebut telah bermitra dalam penelitian dengan Partai Komunis China.
Namun, di balik jargon politik dan tuduhan “wokeness”, tersembunyi narasi konflik yang lebih dalam dan telah lama mendidih. Keputusan Pentagon ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah puncak gunung es dari perseteruan sengit antara pemerintahan Presiden Donald Trump dengan institusi akademik elite, yang dianggap sebagai benteng “establishment” yang menentangnya.
Pemerintahan Trump telah berupaya membekukan pendanaan federal untuk Harvard, menuntut perubahan kebijakan penerimaan dan tata kelola, serta mendesak tindakan disipliner keras terkait protes kampus atas perang di Gaza. Meski upaya pembekuan dana dibatalkan oleh pengadilan federal pada September 2025, dengan hakim menyatakan pemerintah melampaui kewenangannya dan menggunakan tuduhan anti-Semitisme sebagai “kedok”, pertempuran tidak berhenti. Trump bahkan mengancam akan menuntut ganti rugi fantastis sebesar $1 miliar dari Harvard.
Respons dari Cambridge, Massachusetts, datang dengan nada tegas dan berprinsip. Presiden Harvard, Alan Garber, menolak semua tuduhan sebagai bentuk intimidasi politik. “Universitas tidak akan menyerahkan kemerdekaannya atau melepaskan hak-hak konstitusionalnya,” deklarasinya, sebuah bastion pertahanan otonomi akademik. Garber menegaskan komitmen Harvard untuk memerangi anti-Semitisme, menyebutnya “kehatiaran moral,” sambil secara implisit menolak campur tangan politik dalam urusan kampus.
Dampak nyata dari keputusan ini akan mulai terasa pada tahun ajaran 2026-2027. Personel militer yang saat ini terdaftar di program Harvard masih diperbolehkan menyelesaikan studi mereka, tetapi gelombang perwira masa depan telah diputuskan dari salah satu program pelatihan kepemimpinan paling bergengsi di dunia.

Pentagon di Arlington, Virginia, AS. – (EPA-EFE/JIM LO SCALZO)
Program Pendidikan Militer Profesional, beasiswa, dan sertifikat bersama itu selama puluhan tahun bukan hanya tentang menimba ilmu, tetapi tentang membangun jembatan pemahaman, jaringan, dan perspektif antara kalangan militer dan sipil. Keputusan ini, pada akhirnya, lebih dari sekadar sanksi terhadap sebuah universitas. Ia adalah cermin dari sebuah Amerika yang retak, di mana kecurigaan menggantikan dialog, ideologi mengalahkan bukti, dan politik identitas menggerogoti fondasi kolaborasi yang penting bagi kemajuan dan keamanan nasional.
Memutus hubungan dengan Harvard berarti memutus akses ke salah satu sumber pemikiran kritis dan inovasi terbaik bangsa. Dalam jangka panjang, yang mungkin terkikis bukanlah “wokeness” di barisan tempur, melainkan kecerdasan strategis, kedewasaan geopolitik, dan kemampuan adaptasi yang justru dibutuhkan untuk menghadapi dunia yang kompleks.
Saat Pentagon memilih untuk menutup pintu, dunia bertanya-tanya: apakah Amerika sedang membangun tembok untuk melindungi dirinya, atau justru mengurung diri dalam ruang gema yang akan melemahkannya?
Simbol Keunggulan Akademik Dunia
Universitas Harvard, yang berdiri pada tahun 1636 di Cambridge, Massachusetts, merupakan institusi pendidikan tinggi tertua di Amerika Serikat. Sejak awal berdirinya, Harvard telah memposisikan diri bukan sekadar sebagai tempat belajar, melainkan sebagai pusat keunggulan intelektual. Nama bekennya telah menjadi sinonim bagi prestise global, menempatkannya secara konsisten di puncak berbagai pemeringkatan universitas dunia berkat standar akademik yang sangat ketat dan kompetitif.
Reputasi utama Harvard terletak pada kemampuannya mencetak pemimpin yang membentuk arah sejarah Amerika. Dari total 46 Presiden Amerika Serikat, delapan di antaranya adalah lulusan Harvard, termasuk tokoh besar seperti John Adams, Franklin D. Roosevelt, John F. Kennedy, hingga Barack Obama. Pengaruh ini membuktikan bahwa Harvard adalah kawah candradimuka bagi elite politik yang merumuskan kebijakan-kebijakan fundamental di Gedung Putih dan Kongres.
Dominasi dalam Inovasi dan Pengetahuan
Harvard memiliki reputasi yang tak tertandingi dalam dunia riset dan sains. Dengan koleksi lebih dari 160 pemenang Penghargaan Nobel yang berafiliasi dengan universitas ini, kontribusi Harvard terhadap kemajuan ilmu pengetahuan sangatlah masif. Mulai dari penemuan medis yang menyelamatkan nyawa hingga terobosan dalam fisika dan kimia, laboratorium Harvard telah menjadi mesin penggerak utama bagi kemajuan teknologi dan kesehatan di Amerika Serikat.
Salah satu pilar reputasi Harvard adalah kepemilikan dana abadi (endowment) terbesar di dunia, yang mencapai puluhan miliar dolar. Kekuatan finansial ini memungkinkan Harvard untuk memberikan beasiswa penuh kepada mahasiswa berbakat dari seluruh dunia tanpa memandang latar belakang ekonomi. Dana ini juga membiayai fasilitas riset tercanggih dan menarik profesor-profesor terbaik dunia, menciptakan ekosistem belajar yang sangat eksklusif dan berkualitas tinggi.
Jaringan Alumni Global yang Berpengaruh
Pengaruh Harvard meluas melalui jaringan alumninya yang tersebar di posisi-posisi kunci perusahaan Fortune 500, firma hukum papan atas, dan lembaga internasional. Koneksi antaralumni Harvard sering kali menjadi penentu dalam lanskap bisnis Amerika Serikat. Alumni seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg, meskipun tidak menyelesaikan studinya, menjadi bukti bagaimana ekosistem Harvard mampu merangsang pemikiran disruptif yang mengubah wajah ekonomi digital dunia.
Kontribusi terhadap Pemikiran Hukum dan Yudisial
Harvard Law School dikenal sebagai institusi hukum paling berpengaruh di Amerika Serikat. Sebagian besar hakim agung di Mahkamah Agung AS adalah lulusan Harvard. Melalui pendidikan hukumnya, universitas ini secara tidak langsung mendikte interpretasi konstitusi dan perkembangan hukum nasional. Pemikiran-pemikiran hukum yang lahir dari aula Harvard sering kali menjadi dasar bagi perubahan sosial dan keadilan di seluruh negeri.
Melalui Harvard Kennedy School, universitas ini memberikan pengaruh besar dalam tata kelola pemerintahan dan kebijakan publik. Para ahli dari Harvard sering kali diminta menjadi penasihat pemerintah dalam menghadapi krisis ekonomi, perubahan iklim, dan tantangan keamanan nasional. Hal ini menjadikan Harvard sebagai jembatan penting antara dunia akademis dan implementasi kebijakan praktis di Washington D.C.
Standar Baru dalam Pendidikan Kedokteran
Harvard Medical School selalu berada di barisan terdepan dalam pendidikan dan riset kedokteran. Pengaruhnya terhadap sistem kesehatan Amerika Serikat terlihat dari rumah-rumah sakit afiliasinya yang menjadi pusat rujukan dunia. Terobosan dalam prosedur bedah, genomik, dan imunologi dari Harvard telah menstandarisasi layanan kesehatan modern, memastikan Amerika Serikat tetap menjadi pemimpin dalam industri medis global.
Peran dalam Gerakan Sosial dan Pemikiran Budaya
Selain sains dan politik, Harvard memiliki reputasi kuat dalam membentuk diskursus budaya dan sosial. Universitas ini sering menjadi pusat perdebatan intelektual mengenai hak sipil, kesetaraan, dan kebebasan berbicara. Banyak pemikir besar di bidang humaniora dan seni yang lulus dari Harvard, memberikan kontribusi pada kekayaan budaya dan identitas Amerika Serikat sebagai bangsa yang menghargai keberagaman pemikiran.
Kontribusi Ekonomi dan Kewirausahaan
Terakhir, pengaruh besar Harvard terhadap kemajuan Amerika Serikat tercermin dalam kontribusi ekonominya. Harvard Business School telah melahirkan ribuan pengusaha yang mendirikan industri-industri baru di AS. Dengan mendorong semangat kewirausahaan dan manajemen yang efektif, Harvard membantu Amerika Serikat mempertahankan posisinya sebagai ekonomi terbesar di dunia melalui inovasi berkelanjutan dan kepemimpinan korporat yang visioner.







