Starling di Trotoar Veteran Kota Malang
Jalan Veteran Kota Malang hari ini bukan sekadar nadi lalu lintas mahasiswa dan kendaraan. Ia telah bertransformasi menjadi lanskap sosial yang hidup – sebuah ruang urban di mana kebutuhan, kreativitas dan ketidakpastian bertemu dalam gelas-gelas kopi dingin bersegel rapi. Di sepanjang trotoar pintu selatan Universitas Brawijaya hingga mendekati Transmart, deretan gerobak kopi keliling berjajar nyaris tanpa jeda, menawarkan racikan kopi kekinian dengan harga yang bersahabat. Inilah dunia Starling – Starbucks Keliling – versi wong cilik kota pendidikan.
Pagi hingga malam, jalan ini berdenyut oleh suara blender kecil, gesekan cup plastik dan obrolan singkat antara penjual dan pembeli. Menu yang ditawarkan tak kalah dengan kafe modern: es kopi creamy, hazelnut, vanilla latte, hingga matcha latte. Semuanya disajikan dalam cup bening dengan segel plastik dan sedotan, lengkap dengan nama merek yang dicetak rapi. Dengan harga mulai Rp 8.000 hingga Rp 14.000 per gelas, Starling menjadi solusi dahaga yang masuk akal bagi mahasiswa, pekerja kantoran, pengendara motor, hingga pejalan kaki yang tak ingin – atau tak mampu – masuk ke kafe mahal.
Julukan Starbucks Keliling bukan sekadar lelucon. Ia mencerminkan kecerdikan ekonomi informal dalam membaca selera zaman. Anak muda ingin kopi enak, cepat, dan Instagramable, tapi dompet mereka tak selalu siap untuk harga kafe berbintang. Di celah itulah Starling tumbuh subur, menempel di trotoar, memanfaatkan arus manusia yang tak pernah putus di Jalan Veteran.
Aska, salah satu penjual Starling, sudah dua bulan terakhir mangkal di kawasan ini. Setiap hari ia mulai berjualan sejak pukul 09.00 hingga malam, menghabiskan waktu sekitar 12 jam di jalan. Ia bukan pemilik usaha, melainkan pekerja upahan. “Bos saya di Cengger Ayam,” katanya. Dalam sehari, perputaran kopi yang ia hasilkan bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,2 juta. Angka yang bagi sebagian orang mungkin kecil, tapi bagi ekonomi keluarga kelas bawah, itu adalah denyut kehidupan.
Mayoritas pembelinya adalah pelajar dan mahasiswa. Ada juga yang sengaja menepi sambil jalan kaki atau mampir sebentar naik motor. Transaksi berlangsung cepat, nyaris tanpa basa-basi. Inilah ekonomi kecepatan – minum, bayar, lanjut jalan. Tidak ada kursi empuk atau Wi-Fi, tapi ada rasa kebersamaan yang khas: interaksi singkat antara dua manusia yang sama-sama sedang berjuang di kota.
Namun di balik geliat itu, ada bayang-bayang yang selalu mengintai: Satpol PP. Bagi para penjual Starling, hujan dan panas masih bisa diatasi dengan payung atau jas hujan. Tapi penertiban adalah cerita lain. “Kalau hujan ya tinggal pasang payung. Tapi kalau Satpol PP datang, saya pergi pelan-pelan ninggalin tempat ini,” ujar Aska sambil tersenyum. Senyum yang menyimpan kewaspadaan.
Penjual Starling lain mengaku pernah hampir dirazia. Begitu melihat tanda-tanda kedatangan aparat, ia langsung beranjak. Ironisnya, penjual ini juga mahasiswa di salah satu kampus di Malang. Di satu sisi ia belajar tentang teori ekonomi dan pembangunan, di sisi lain ia menjadi pelaku langsung ekonomi informal yang rapuh oleh regulasi.
Suatu sore, ketika suara sirene terdengar, Aska refleks berdiri dan menoleh. Ketegangan sejenak menyelimuti. Ternyata itu ambulans. “Wooo… ambulans,” katanya lega. Adegan kecil ini menggambarkan betapa hidup mereka dijalani dalam kewaspadaan konstan – antara bertahan dan menghindar.
Di sepanjang trotoar itu, setidaknya ada lebih dari 15 penjual kopi keliling dengan menu serupa. Sejauh ini mereka relatif aman. Mereka berusaha menjaga kebersihan, tidak mengganggu pengguna jalan dan menjaga jarak satu sama lain. Mereka tahu berdagang di trotoar bukanlah hal ideal. Tapi bagi mereka, ini adalah pilihan paling realistis untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Tak jauh dari Aska, ada Pak Arie, 63 tahun, penjual makanan keliling menggunakan mobil. Ia menjajarkan nasi pecel, nasi goreng, nasi uduk dan menu rumahan lainnya. Arie seorang pensiunan yang tinggal sekitar 10 kilometer ke arah barat – mungkin di kawasan Dau – Pak Arie memilih berjualan daripada menganggur. “Daripada nganggur, Pak, mending jualan mobil keliling begini,” katanya sederhana. Di usia senja, ia masih harus bergerak, masih harus produktif, karena pensiun tak selalu berarti sejahtera.
Jika dicermati, suasana di kawasan ini sesungguhnya sangat indah dan teduh. Pepohonan rindang, deretan pertokoan besar seperti Unibraw, Transmart, hingga Matos, serta keberadaan Universitas Negeri Malang di seberang jalan – yang dulu dikenal sebagai IKIP Malang – membuat kawasan ini strategis secara ekonomi dan sosial. Arus manusia dari pagi hingga malam nyaris tak pernah surut. Secara logika urban, tempat ini memang “klop” untuk aktivitas jual beli.
Masalahnya jelas: berdagang di trotoar melanggar Perda. Trotoar adalah hak pejalan kaki, bukan ruang niaga. Di atas kertas, penertiban adalah kewajiban. Tapi realitas kota tak selalu sesederhana teks hukum. Kota adalah ruang hidup dan hukum seharusnya hadir untuk menata, bukan mematikan.
Ada kesan bahwa Walikota Malang, Wahyu Hidayat, tidak mengizinkan Satpol PP “main kayu”. Jika benar, ini adalah sikap yang patut diapresiasi. Penertiban yang humanis bukan berarti pembiaran, melainkan pengelolaan. Yang dibutuhkan bukan razia mendadak, melainkan panduan dan penataan oleh tim gabungan agar para pedagang bisa berjualan dengan rapi, bersih dan tidak mengganggu fungsi trotoar – terutama garis hijau yang sejatinya adalah zona pesepeda.
Starling di Jalan Veteran adalah cermin dilema klasik kota-kota Indonesia: antara ketertiban dan keberlangsungan hidup. Di satu sisi ada regulasi, di sisi lain ada manusia dengan kebutuhan nyata. Mengusir mereka mungkin menyelesaikan masalah di atas kertas, tapi menciptakan masalah baru di dapur rumah mereka.
Kota Malang, dengan identitasnya sebagai kota pendidikan dan pariwisata, seharusnya mampu merumuskan solusi yang lebih kreatif. Menata tanpa menyingkirkan. Mengatur tanpa mematikan. Karena di balik segelas es kopi murah itu, ada cerita tentang kerja keras, harapan dan keinginan sederhana untuk bertahan hidup dengan bermartabat.
Di trotoar Jalan Veteran, Starling bukan sekadar kopi. Ia adalah tanda bahwa kota ini hidup – dan bahwa kehidupan, sering kali, tumbuh justru di ruang-ruang yang paling rapuh.







