Kecemasan di Kalangan Warga Kota Malang Akibat Ketegangan Geopolitik
Ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang mengancam jalur vital distribusi minyak dunia di Selat Hormuz mulai memicu kecemasan di tingkat akar rumput, termasuk di Kota Malang. Warga mulai mengantisipasi potensi lonjakan harga BBM akibat eskalasi konflik internasional tersebut.
Di lapangan, sejumlah warga tampak mulai melakukan aksi pencegahan dengan mengisi penuh tangki kendaraan mereka saat mengunjungi SPBU. Situasi ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai waspada terhadap kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Persepsi Warga Terhadap Isu Kenaikan Harga BBM
Erni, salah satu warga Kota Malang, mengungkapkan informasi mengenai potensi kenaikan harga BBM akibat konflik internasional ini sudah ramai diperbincangkan di media sosial. Ia mengatakan bahwa situasi ini membuatnya merasa was-was.
“Sebenarnya was-was banget. Saya sudah mendengar tentang adanya perang ya, dan ini sangat berpengaruh banget,” terang Erni saat mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Jalan Langsep, Kota Malang, Jumat (6/3/2026).
Ia juga mengikuti perkembangan berita ketegangan di Timur Tengah terkait akan naiknya harga BBM. “Kemarin saya juga sudah baca berita mengenai kenaikan BBM,” tambahnya.
Strategi Warga Menyikapi Isu Kenaikan BBM
Erni menuturkan bahwa ia selalu mengisi tangki kendaraannya hingga penuh saat membeli BBM. Bahkan, semua kendaraan di rumahnya pun selalu ia isi penuh sebelum digunakan. “Kalau saya selalu isi full tank. Di rumah juga ada motor dan mobil, kalau keluar kita isi penuh,” katanya.
Isu kenaikan harga ini bukan yang pertama kali, Erni mengaku isu ini pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga memicu warga untuk lebih siaga dengan stok BBM di kendaraan. “Kalau isu ini kan dulu juga pernah ada, sehingga banyak warga yang siaga mengisi kendaraanya kan dengan antrean kayak dulu,” jelas Erni.
Jenis BBM non-subsidi seperti Pertamax tetap menjadi pilihan utama bagi Erni. Akan tetapi, mengingat harga Pertamax mengikuti mekanisme pasar dunia, penggunanya merasa paling rentan terhadap dampak langsung dari konflik di Timur Tengah. “Ekonomi kita kan juga semuanya harga naik ya, apalagi benar-benar kebutuhan buat kerja,” jelas Erni.
Erni berharap agar ketegangan global di Timur Tengah segera mereda agar kebutuhan dapat stabil. “Ya kami berharap ketegangan global segera mereda agar stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terjaga,” pungkasnya.
Respons Pemerintah Terkait Ketahanan Pasokan Energi
Ketegangan yang melibatkan kekuatan besar Amerika Serikat dan Iran memicu spekulasi akan terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz. Jika jalur ini terhambat, harga minyak mentah dunia diprediksi akan melonjak tajam, yang secara otomatis akan menekan harga jual BBM di dalam negeri, termasuk wilayah Jawa Timur.
Dalam rilis resminya beberapa waktu lalu, Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut cadangan BBM di Indonesia cukup untuk 20 hari pasca-penutupan Selat Hormuz. Meski begitu, Pemerintah juga mengimbau agar masyarakat tidak melakukan panic buying karena pasokan di terminal BBM dipastikan terjaga.







