Inovasi Dapur Flobamorata SMK Katolik Kusuma Atambua
Dapur Flobamorata SMK Katolik Kusuma Atambua menawarkan berbagai menu makanan yang berbasis pangan lokal, termasuk hidangan oriental dengan harga terjangkau. Hal ini menjadi bagian dari upaya penguatan keterampilan siswa dan pengembangan kewirausahaan sekolah.
Kepala SMK Katolik Kusuma Atambua, Sr. Agustina Bete Kiik, S.SpS, menjelaskan bahwa dapur tersebut menyediakan berbagai menu khas NTT yang diolah secara kreatif oleh siswa. Beberapa menu yang tersedia antara lain nasi jagung, bose, ikan bakar dengan sambal lu’at dan sambal kacang, ubi talas, serta puding daun kelor. Semua bahan dan olahannya berasal dari pangan lokal.
Selain makanan tradisional, pihak sekolah juga menyediakan menu oriental seperti nasi goreng babi, bakso babi khas Kusuma, serta aneka hidangan lainnya. Untuk menu kontinental, tersedia spaghetti, kentang goreng, hingga salad. Tak hanya itu, aneka makanan penutup juga menjadi daya tarik tersendiri, terutama yang berbahan dasar lokal.
“Kami juga menyediakan dessert seperti puding labu kuning, aneka olahan ubi ungu, kelor, dan berbagai produk bakery seperti roti ungu dan kue berbahan pangan lokal,” jelasnya.
Untuk minuman, Dapur Flobamorata menghadirkan kopi khas NTT seperti kopi Flores dan kopi Maras, serta minuman herbal berbahan serai dan jahe. Harga seluruh menu disesuaikan dengan kemampuan masyarakat, khususnya pelajar.
“Harga kami sesuaikan dengan hasil survei pasar. Mulai dari Rp10.000 hingga sekitar Rp35.000 sampai Rp50.000 untuk menu tertentu,” katanya.
Selain melayani makan di tempat, dapur ini juga menyediakan paket makanan sehat serta menerima pesanan catering dan snack untuk berbagai kegiatan. Dapur Flobamorata mulai beroperasi setiap hari dari pukul 07.00 hingga 21.00 WITA. Ke depan, juga akan menghadirkan hiburan live musik setiap Kamis, Jumat, dan Sabtu untuk menarik pengunjung.
Seluruh proses pengolahan makanan dilakukan langsung oleh siswa SMK Kusuma, dengan dukungan beberapa alumni serta pendampingan guru kejuruan. “Anak-anak yang memasak langsung, didampingi guru dan juga alumni yang sudah kembali membantu. Ini menjadi ruang praktik nyata bagi mereka,” ujarnya.
Sr. Agustina mengaku sangat mengapresiasi gagasan program pemerintah, khususnya dorongan dari Gubernur NTT melalui konsep “One School One Product” yang dinilai mampu membangkitkan semangat sekolah dalam berkarya.
“Program ini sangat membantu kami. Dulu anak-anak hanya praktik di sekolah, sekarang mereka bisa menghasilkan produk yang punya nilai jual,” ungkapnya.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan siswa, tetapi juga mendorong lahirnya jiwa kewirausahaan sejak dini. Lebih jauh, keberadaan dapur ini juga diharapkan memberi dampak bagi masyarakat sekitar, terutama dalam pemanfaatan potensi pangan lokal.
“Kami ingin apa yang dipelajari anak-anak bisa dibagikan ke masyarakat, sehingga potensi lokal bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi,” jelasnya.
Ke depan, pihak sekolah berkomitmen terus mendampingi siswa dalam mengembangkan olahan pangan lokal agar memiliki kualitas, cita rasa, dan tampilan yang mampu bersaing di pasar.
“Kita tidak hanya masak biasa, tapi bagaimana makanan lokal ini punya nilai jual tinggi, baik dari rasa maupun penyajiannya,” tutupnya.
Sebelumnya, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, meresmikan Dapur Flobamorata SMK Katolik Kusuma Atambua di Kelurahan Tulamalae, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu, Senin (30/3/2026) pagi. Dalam kesempatan itu, gubernur menegaskan pentingnya dukungan nyata dari pemerintah agar usaha berbasis sekolah tersebut dapat bertahan dan berkembang.
Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita sebagai simbol dimulainya operasional dapur yang dikelola siswa SMK tersebut. Tak sekadar meresmikan, Gubernur Melki langsung mengeluarkan arahan tegas kepada aparatur sipil negara (ASN) lingkup Pemprov NTT yang bertugas di Belu agar rutin mendukung usaha tersebut.
“Minimal seminggu sekali ASN provinsi saya minta datang makan dan belanja di sini. Ini supaya dapur ini tetap hidup dan karya anak-anak SMK punya pasar yang jelas,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran Dapur Flobamorata menjadi solusi atas persoalan klasik produk lokal yang sering berhenti di tahap produksi tanpa kepastian pasar. Dengan adanya intervensi konsumsi dari pemerintah, roda ekonomi diharapkan terus bergerak.
“Kalau orang datang ke Belu dan ingin makan makanan khas, harusnya sudah tahu tempatnya di sini. Ini kita dorong jadi referensi,” katanya.
Ia juga meminta agar kunjungan ASN diatur secara bergiliran antar organisasi perangkat daerah (OPD) sehingga dampak ekonomi dapat dirasakan secara merata. Selain itu, Gubernur Melki menekankan pentingnya memberi teladan kepada masyarakat, terutama dalam menghargai hasil karya lokal.
“Kita ini pejabat, tapi bukan berarti makan gratis. Kita harus tetap bayar sebagai bentuk penghargaan atas kerja masyarakat,” tegasnya.







