Mimpi dari Desa yang Menembus Panggung Nasional dan Internasional
Dari sebuah desa kecil di Kabupaten Bangka Tengah, mimpi besar seorang pemuda bernama Alwan Nabil Ramadhan, akrab disapa Abil, tumbuh perlahan. Tak banyak yang menyangka bahwa karya filmnya mampu menembus panggung nasional, bahkan mulai dilirik di kancah internasional.
Abil mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap dunia film berawal dari hal sederhana. Tanpa latar pendidikan perfilman formal, ia memulai segalanya secara otodidak, berbekal kamera sederhana dan rasa ingin tahu yang besar.
“Saya awalnya hanya suka menonton film pendek dan mencoba-coba. Dari situ belajar sendiri, pelan-pelan memahami bagaimana membuat film,” ujarnya.
Kolaborasi dengan Lingkungan Sekitar
Berangkat dari Desa Namang, Abil tidak berjalan sendiri. Ia justru merangkul lingkungan sekitarnya, termasuk anak-anak muda hingga masyarakat desa, untuk ikut terlibat dalam proses produksi film. Baginya, film bukan sekadar karya, tetapi juga ruang kolaborasi dan pemberdayaan.
Tekad itu kini berbuah hasil. Film pendek garapannya berjudul Tujuh Hari Setelah Bapak Berpulang sukses mencuri perhatian di tingkat nasional. Film tersebut bahkan mendominasi penghargaan dalam ajang Santri Film Festival (SANFFEST) 2025 yang digelar Kementerian Agama.
Prestasi di Tingkat Nasional
Dalam festival yang diikuti 125 film dari 115 pesantren di 20 provinsi itu, karya Abil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, termasuk Sinematografi Terbaik dan Pemeran Putra Terbaik. Tak hanya itu, film tersebut juga meraih sejumlah posisi runner-up di berbagai kategori, mulai dari Film Cerita Terbaik hingga Pengarah Artistik.
Film ini sendiri mengangkat kisah Ilham, seorang santri dari keluarga sederhana yang harus menghadapi duka kehilangan ayahnya. Cerita tersebut dipadukan dengan kearifan lokal Bangka Belitung, yakni tradisi nganggung, yang sarat makna kebersamaan dan solidaritas sosial.
Tujuan di Balik Film
Abil mengungkapkan, ide besar di balik film ini adalah keinginannya menyuarakan isu sosial yang masih terjadi di masyarakat.
“Saya ingin mengangkat bagaimana keluarga yang sedang berduka juga dihadapkan pada tuntutan tradisi yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Tapi di sisi lain, ada nilai budaya dan kebersamaan yang justru sangat indah di situ,” jelasnya.
Menembus Pasar Global
Karya tersebut tak berhenti di tingkat nasional. Film ini juga telah menembus festival internasional, dengan menjadi official selection di Lift-Off Global Network 2026 dan The Sixth Borough Film Festival 2026.

Keyakinan dan Harapan
Bagi Abil, capaian ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bersaing.
“Walaupun kita dari daerah kepulauan seperti Bangka Belitung, bukan dari kota besar, bukan lulusan perfilman ternama, tapi kalau punya tekad, kita bisa bersaing,” tegasnya.
Saat ini, Abil tercatat sebagai mahasiswa Universitas Terbuka jurusan Ilmu Komunikasi. Ia mengakui, perjalanan yang ia tempuh memberikan pelajaran penting tentang konsistensi dan keberanian untuk mencoba.
Lebih dari sekadar prestasi, Abil menyimpan harapan besar. Ia ingin film yang dibuatnya tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi serta memperkenalkan budaya Bangka Belitung ke khalayak luas.
“Saya ingin orang-orang di luar sana tahu bahwa budaya kita itu indah dan punya nilai. Film ini jadi salah satu cara untuk memperkenalkannya,” ungkapnya.
Masa Depan yang Cerah
Ke depan, Abil dan timnya tengah berupaya menembus pasar global yang lebih luas. Ia percaya, karya lokal dengan identitas kuat justru memiliki daya tarik tersendiri di mata dunia.
Dari desa kecil di Namang, langkah itu kini semakin mantap. Abil membuktikan, mimpi besar tak harus lahir dari tempat besar, cukup dari keyakinan yang tak pernah padam.







