Luka, Makan, Cinta: Kombinasi Makanan dan Romansa dalam Drama Baru Netflix Indonesia
Netflix Indonesia kembali hadirkan serial terbaru yang berjudul Luka, Makan, Cinta. Dibintangi oleh Mawar Eva de Jongh sebagai Luka, seorang koki ambisius yang bekerja di restoran keluarganya. Di tengah konflik dengan kepala koki baru bernama Dennis (diperankan oleh Deva Mahenra), hubungan antara Luka dan ibunya semakin memanas. Serial ini menampilkan dinamika antara makanan dan romansa yang menarik untuk disaksikan.
1. Deva Mahenra Berbagi Hal Terkait Karakter Dennis
Dalam serial Luka, Makan, Cinta, Deva Mahenra memerankan Dennis, seorang chef senior dengan pengalaman luas di berbagai negara. Ia memiliki konflik dengan kehidupan pribadinya dan masa lalunya yang membuat cerita semakin menarik. Menurut Deva, karakter Dennis memiliki zodiak yang sama dengannya, yaitu Aries. Keduanya sama-sama ambisius, konsisten, dan disiplin, tetapi Dennis lebih memperhitungkan segala sesuatu sementara dirinya cenderung lebih berani mengambil risiko.
2. Lebih Dekat dengan Dunia Kuliner

Deva Mahenra mengikuti workshop memasak untuk mendalami perannya sebagai seorang koki profesional. Proses ini membuatnya lebih dekat dengan dunia kuliner. Ia belajar banyak hal dari nol, mulai dari teknik dasar hingga cara memperlakukan bahan makanan dengan lebih “respect”. Pengalaman tersebut juga ikut terbawa ke kehidupan sehari-harinya, membuatnya jadi lebih detail dan sedikit perfeksionis di dapur.
“Jadi, habis workshop itu kita benar-benar belajar dari nol. Mulai dari prepping sampai teknik. Nah, yang kebawa ke real life saya adalah… saya jadi ‘pelit’,” ujarnya sambil tertawa.
“Kalau di rumah ada yang lagi masak, saya pantengin. Kalau motong daging, saya kasih tahu, ‘itu masih bisa dipakai, jangan dibuang.’ Jadi lebih cermat sama bahan baku,” tambahnya lagi.
3. Belajar Leadership dari Karakter Dennis

Melalui karakter Dennis, Deva Mahenra tidak hanya ditantang secara emosional, tetapi juga belajar banyak hal tentang kepemimpinan. Menurutnya, Dennis memberinya perspektif baru tentang bagaimana menjadi seorang leader yang baik, terutama dalam situasi penuh tekanan seperti di dapur profesional. Dennis memiliki kemampuan membangun tim yang solid, dan ia sangat menghargai kerja tim.
“Yang saya dapat dari Dennis itu adalah tentang leadership dan bagaimana cara memperlakukan team dengan baik, membentuk team dengan baik. Dennis itu tipe yang dia sadar betul ketika dia menjalankan sebuah restoran, restorannya berhasil itu karena timnya dan krunya, bukan dia aja,” lanjutnya lagi.
4. Jangan Cepat Puas Diriri

Deva juga belajar banyak dari serial tersebut. Menurutnya, karakter seperti Dennis dan Luka membawa perspektif yang berbeda tentang perjuangan hidup. Dennis yang lebih senior dan punya banyak pengalaman di luar negeri, merasa puas diri dan mulai arogan. Namun, ia mulai menyadari bahwa ia belum ada apa-apanya setelah bertemu Luka, koki junior yang mungkin pengalamannya tak seluas dirinya.
“Dennis dengan pengalaman yang kayaknya sudah cukup, sudah kerja di perusahaan ini itu berapa tahun, ternyata belum cukup juga. Ini ada yang masih baru banget yang dia merasa dia belum cukup, ternyata cukup kok. Ternyata yang bikin lo belum naik ke posisi itu karena bukan karena kamu nggak cukup, tapi memang itu bukan buat kamu aja. Jadi, kamu mau tunggu berapa lama pun, kamu nggak akan ke situ. Kamu harus cari yang lain, bikin yang lain,” katanya.
5. Masak Jadi Me Time

Di balik cerita yang penuh dinamika di Luka, Makan, Cinta, Deva Mahenra juga menemukan sisi lain dari aktivitas memasak yang ternyata bisa jadi momen paling personal. Baginya, memasak di rumah justru jadi salah satu bentuk me time dengan menikmati keheningan.
“Kalau aku masak itu karena banyak momen silent-nya, jadi bisa dipakai buat me time, kalau masak di rumah ya, karena hening,” ujar aktor kelahiran Makassar ini.
6. Memaklumi atau Menghindari Orang yang Haus Validasi

Serial ini juga memperlihatkan relasi antara Dennis dan Luka yang kompleks, termasuk kebutuhan diakui. Menurut Deva, Dennis memilih untuk memahami sosok Luka yang haus validasi. Ia melihat bahwa Luka belum cukup keliling dan hanya pernah bekerja di restoran ibunya, sementara Dennis sudah keliling dunia dan melihat berbagai macam cara pewaris bekerja dan berusaha.
“Jadi, sebenarnya Dennis tuh lebih banyak permakluman sih melihat sesuatu dari Luka, karena dia merasa bahwa Luka ini belum cukup keliling. Satu-satunya restoran yang dia pernah kerja adalah restoran ibunya, sementara Dennis sudah keliling dunia dan sudah melihat berbagai macam cara pewaris bekerja dan berusaha,” ujarnya.
7. Konflik Jadi Bensin untuk Bertumbuh

Penonton juga diajak untuk melihat hubungan dari sudut pandang yang lebih realistis, bahwa chemistry di awal bukan jaminan segalanya, justru konflik dapat menjadi bensin untuk kelangsungan sebuah hubungan. Menurut Deva, banyak orang masih sering menilai hubungan dari kesan pertama. Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu.
“Kita tidak bisa menilai usia sebuah relationship itu dari kesan pertamanya. Ada yang mungkin pertama kali ketemu itu bahkan tidak saling lirik, tidak saling tertarik, padahal jadi relationship yang memecahkan rekor dan bahkan terlama yang pernah ada. Ada juga yang di awalnya kayak chemistry-nya kuat banget nih, tapi ternyata tidak cukup banyak bensinnya untuk long run,” ujar artis kelahiran tahun 1990 ini.
8. Pasangan Jangan Dijadikan Rival Tapi Support System

Dalam beberapa kasus, mungkin orang melihat pasangannya sebagai rival, namun hal tersebut sebenarnya salah. Alih-alih menjadi rival, Deva Mahenra menyarankan bahwa pasangan seharusnya menjadi support system dan sumber inspirasi. Hal ini karena bagi dua orang yang berkomitmen untuk menjalin hubungan, tujuan mereka bukan lagi dua melainkan satu, yaitu sama-sama bahagia.
“Bukan rivalitas kali ya lebih ke kayak support. Saya pernah denger ini, jadi ada yang bilang inspirasi dan motivasi itu dua hal yang berbeda. Motivasi itu adalah sesuatu yang datangnya dari orang dan kamu hanya bisa terima. Sementara itu, inspirasi adalah kamunya yang bergerak dan mencari siapa yang jadi inspirasi. Nah menurut saya baiknya di dalam relationship itu justru lebih banyak inspirasi daripada motivasinya.”







