Distraksi Digital dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Manusia
Saya pernah mengalami situasi yang mungkin sering dialami oleh banyak orang. Suatu saat, saya ingin menelepon seseorang. Saya membuka akun WhatsApp untuk mencari nomor tersebut. Saat pesan-pesan terbuka, mata saya melihat satu pesan yang tampaknya penting. Saya membuka pesan itu, membacanya, dan memikirkan apa tanggapan saya terhadapnya. Akhirnya, saya lupa bahwa saya semula ingin menelepon seseorang. Saya baru teringat kembali beberapa saat setelah ponsel saya ditutup. Apakah ini terjadi karena saya sudah tua? Saya kira tidak. Saya menduga, yang lebih muda pun pernah mengalami hal serupa.
Di zaman digital ini, kita memang hidup di dua dunia: dunia nyata yang dapat kita alami dengan indera secara langsung, dan dunia maya yang kita alami melalui perantara media yang menampilkan citra-citra. Pikiran, perasaan, sikap hingga tindakan kita dipengaruhi oleh interaksi kita dalam dua dunia tersebut. Pada dasarnya, yang nyata, yang asli, yang konkret di depan mata, seharusnya lebih kuat dan menarik perhatian daripada yang maya, yang sekadar salinan dari yang asli berupa foto, tulisan, suara atau video. Yang maya itu jelas tidak sama dengan aslinya, bahkan kadangkala palsu.
Justru karena berbagai kelemahannya itu, para pembuat teknologi dunia maya berusaha sebisa mungkin agar orang tertarik dan terserap kepadanya. Mula-mula ada klaim bahwa yang maya itu seindah warna aslinya. Lambat laun, yang maya itu justru lebih indah atau lebih buruk dari aslinya. Akhirnya, teknologi itu juga memungkinkan orang membuat yang palsu, yang sebenarnya tidak ada menjadi ada. Bagi si pembuat citra (konten), keindahan, keburukan atau kepalsuan itu, antara lain bertujuan memicu dan mencuri perhatian kita sehingga kita mau meninggalkan dunia nyata.
Distraksi Digital dan Pengaruhnya terhadap Fokus
Selain konten yang menggoda, adapula sistem pengingat alias notifikasi. Ketika ada pesan yang masuk, muncul peringatan di layar ponsel kita, bahkan dengan bunyi yang mengetuk telinga kita. Saat notifikasi itu datang, mungkin kita sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Perhatian kita akhirnya terbelah. Kita tergoda untuk mengetahui pesan apa yang masuk. Semakin banyak notifikasi, tentu semakin mengganggu. Gangguan ini disebut distraksi. Distraksi semakin sulit dibendung karena sistem algoritma menggiring kita kepada jenis-jenis informasi yang sering kita akses dan sukai.
Distraksi digital itu tentu membuat kita tidak bisa fokus. Pikiran kita kesana-kemari tak tentu arah. Satu masalah belum selesai, datang lagi masalah lain untuk diperhatikan, lagi dan lagi. Orang mungkin bangga ketika bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan yang disebut “multi-tasking”, tetapi hasilnya tidak akan sebaik pekerjaan yang ditangani dengan fokus dan sepenuh hati. Cahaya yang difokuskan akan lebih terang daripada cahaya yang tersebar. Kekuatan pikiran kita juga demikian. Sejenius-jeniusnya orang, dia tetaplah memiliki keterbatasan.
Distraksi Digital dan Hubungan Sosial
Lebih buruk lagi, distraksi digital juga dapat merusak hubungan sosial di dunia nyata. Seorang pejabat menerima tamu sambil memegang ponselnya. Sebentar-sebentar dia melihat atau membalas pesan di ponselnya itu. Tentu saja si tamu merasa terganggu. Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak, mengunjungi sebuah restoran. Setelah memesan makanan dan minuman, masing-masing sibuk dengan ponselnya. Mereka tidak berbincang dan berbagi cerita. Yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh. Meminjam istilah Sherry Terkle, mereka itu sedang sendiri bersama-sama!
Gara-gara sering terdistraksi, kita akhirnya tidak terbiasa lagi untuk fokus. Ketika dosen menjelaskan pelajaran, baru berlalu 10 menit, mahasiswa sudah gelisah. Tangannya gatal ingin membuka ponsel. Jika dia tak membuka ponsel, maka pikirannya melayang entah ke mana. Dia juga semakin sulit berkonsentrasi membaca. Baru membaca dua paragrap, rasanya sudah lelah sekali. Masalah ini sudah dikeluhkan banyak orang, termasuk di negara-negara yang masyarakatnya dikenal rajin membaca. Lalu, bagaimana dengan masyarakat kita yang dari dulu memang malas membaca?
Membaca dan Berpikir
Padahal, membaca tidak hanya membantu orang untuk menambah ilmu dan wawasan, tetapi juga melatih orang untuk berpikir. Membaca berarti berusaha memahami bahan bacaan, dan memahami tidak bisa dilakukan tanpa berpikir. Membaca berarti menelusuri pikiran, perasaan dan sikap penulis. Karya tulis yang baik adalah yang dapat menuntun pembaca untuk berpikir bersamanya. Secara khusus, karya tulis ilmiah sangat membantu melatih orang untuk berpikir ilmiah karena ia sengaja disusun secara sistematis berdasarkan dalil-dalil rasional (masuk akal) dan empiris (bukti nyata).
Selain itu, ketersediaan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence) di dunia maya juga bisa membuat orang malas berpikir. Seorang guru bahasa Inggris bercakap-cakap dengan muridnya. “Jika orang berkata, ‘Thank you’ padamu, apa jawabnya?” Si murid terdiam, lalu membuka ponsel untuk mencari jawabnya! Seorang dosen terpesona pada keindahan bahasa makalah mahasiswanya. Namun, setelah dicek, ternyata makalah itu dibikin oleh kecerdasan buatan. Yang berbahaya di sini adalah ketika kecerdasan buatan membuat orang malas berpikir dan selalu tergantung padanya.
Distraksi Digital dan Kehilangan Identitas
Dalam sebuah wawancara, tokoh Muslim Inggris, Abdul Hakim Murad menilai, distraksi berbagai hiburan di dunia digital juga dapat membuat manusia lupa akan dirinya sendiri. Karya sastra dan film memang dapat mendorong pertumbuhan imajinasi kita. Namun, ketika teknologi digital terus-menerus menggoda kita untuk menikmati berbagai hiburan imajinatif yang ditawarkannya (tentu dengan membayar) sampai kita menjadi kecanduan, maka lambat laun kita hidup dalam mimpi dan imajinasi yang diciptakan orang lain. Kita tak punya imajinasi dan mimpi sendiri lagi.
Abdul Hakim Murad juga menjelaskan bahwa secara psikologis, kemampuan fokus adalah salah satu tanda kedewasaan seseorang. Anak-anak cenderung tidak bisa fokus dan mudah beralih perhatian. Saat seorang anak menangis, orangtuanya bilang, “Lihat nak, itu ada burung terbang di langit,” dan si anak pun berhenti menangis. Orang dewasa tentu tidak demikian. Semakin tua seseorang hingga usia sekitar 40 tahunan, kemampuannya untuk fokus juga semakin tinggi. Namun, gara-gara distraksi digital, kini mungkin orang dewasa pun malah turut menjadi kekanak-kanakan!
Solusi untuk Menghadapi Distraksi Digital
Lantas, apa yang harus kita lakukan? Kita harus membatasi anak-anak dalam mengakses media sosial. Beberapa negara telah resmi menetapkan pembatasan ini. Kita juga perlu mendisiplinkan diri dan keluarga agar tidak kencanduan media sosial. Kita harus melatih anak-anak untuk fokus dengan membaca dan menghafal. Belilah buku atau kunjungi perpustakaan untuk membaca. Menghafal Al-Qur’an (tahfizh) juga dapat melatih konsentrasi. Lebih baik lagi, anak-anak dilatih menulis. Menulis lebih menuntut fokus dibanding membaca, dan orang harus rajin membaca sebelum bisa menulis.
Alhasil, jangan sampai teknologi membuat kita tak mampu berpikir dan merasa, apalagi tak punya tanggung jawab moral. Jika hal itu terjadi, maka kita sesungguhnya sudah tak layak lagi disebut sebagai manusia!







