
Bayangkan seorang anak berusia delapan tahun menonton tutorial wayang kulit di YouTube, lalu segera beralih ke TikTok untuk melihat tari Jawa yang dikolaborasikan dengan beat hip-hop. Semua itu terjadi dalam hitungan detik. Ini bukan cerita tentang budaya lokal yang “hilang”, tetapi realitas yang dihadapi oleh Gen Alpha, generasi yang tidak pernah mengenal dunia tanpa internet.
Kekhawatiran orang tua terhadap globalisasi adalah hal yang wajar. Namun, pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Bagaimana menyelamatkan budaya lokal?” Tapi “Bagaimana memastikan generasi ini memiliki literasi untuk mengontrol bagaimana budaya mereka berkembang?”
Glocalization: Bukan Pencaburan, Melainkan Evolusi
Menurut antropolog Arjun Appadurai (1996), globalisasi budaya bukan sekadar penaklukan linear Barat atas Timur. Ia jauh lebih kompleks. Anak muda Indonesia tidak hanya mengonsumsi budaya global secara pasif. Mereka adalah aktor aktif dalam proses yang disebut glocalization: mengambil unsur global, menggabungkannya dengan elemen lokal, dan menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru.
TikTok menjadi contoh nyata dari fenomena ini. Konten tari tradisional Jawa bisa viral bukan karena dipamerkan di museum digital, tetapi karena dikoreografi ulang dengan beat trap. Istilah daerah pun menjadi trending hashtag yang dikenal oleh ratusan ribu orang. Ini bukan kehilangan budaya, melainkan evolusi yang sangat cepat.

Namun, di balik layar glamor ini, ada hal-hal yang tidak terlihat: algoritma yang menentukan siapa yang melihat konten Anda, bagaimana Anda dikelompokkan, dan cerita apa yang dianggap worth sharing. Ini adalah kekuatan yang jauh lebih dalam daripada yang kita sadari.
AI: Penjaga atau Ancaman?
Ini adalah zona yang paling menggugah. Model bahasa besar seperti GPT dilatih pada data yang sangat bias. Peneliti Bolukbasi et al. (2016) dalam jurnal Science menemukan bahwa AI tidak netral. Setiap bias di data pelatihan akan tereproduksi dalam keputusan algoritmanya.
Bayangkan seseorang yang berbicara dalam bahasa Minangkabau menggunakan chatbot AI. Sistem cenderung menawarkan solusi dalam bahasa Indonesia standar atau Inggris. Bahasa Minangkabau tidak dipahami dengan baik. Perlahan, tanpa disadari, penutur itu mulai lebih sering menggunakan bahasa dominan. Ini adalah hegemoni yang sangat halus.
Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, tetapi belum satu pun yang memiliki model AI sebanding dengan GPT. Pertanyaannya: Siapa yang punya akses, kapabilitas, dan dana untuk membuat AI yang bias-aware untuk bahasa minoritas?
Namun, teknologi bukanlah takdir yang sudah tertulis. Penelitian Thawani et al. (2021) dalam computational linguistics menunjukkan proyek di Filipina, Vietnam, dan Jepang yang menggunakan NLP untuk mendokumentasikan dan merevitalisasi bahasa yang hampir punah. Teknologi bisa menjadi alat pemertahanan jika dirancang dengan niat yang tepat.
Identitas Tanpa Batas

Gen Z masih tahu “sebelum dan sesudah Instagram”. Gen Alpha tidak punya referensi itu. Digital bukan pilihan, melainkan oksigen mereka. Penelitian di Journal of Youth and Adolescence menemukan bahwa Gen Alpha dengan akses keragaman budaya global menunjukkan critical thinking yang lebih tinggi, tetapi juga anxiety yang lebih tinggi, terutama terkait identitas. Seorang anak dari Bandung bisa mengidentifikasi diri sebagai penggemar anime Jepang, aktivis iklim global, dan penari jaipong lokal—semua pada saat bersamaan.
Paradoksnya: semakin global mereka, semakin lokal mereka juga. Platform seperti TikTok mendorong hyperlocality. Konten paling viral adalah yang paling niche, spesifik, dan autentik.
Literasi Digital: Senjata Sebenarnya
Linguist Claude Hagège pernah menulis bahwa ketika bahasa hilang, seluruh cara berpikir yang tertanam dalam bahasa itu juga hilang. Hal itu benar. Namun, yang lebih penting adalah apakah kita memilih membiarkannya hilang, atau memilih transformasi yang kita kontrol.
Tidak hanya bisa menggunakan AI, Gen Alpha juga perlu memahami bahwa AI dibuat manusia dengan pilihan tertentu. Selain itu, mereka harus tahu bahwa neutral algorithm adalah mitos.

Menggunakan bahasa daerah di era AI bukanlah tindakan reaksioner. Itu adalah pilihan epistemologis—sebuah pernyataan bahwa cara berpikir lokal mereka valuable dan layak disimpan.
Komunitas programmer Indonesia yang membuat dokumentasi kode dalam bahasa Jawa atau Sunda bukanlah nostalgia kasar. Itu adalah tindakan politis, yaitu dengan mengatakan bahwa technical knowledge bisa ditransmisi dalam bahasa apa pun.
Penutup
Pertanyaan defensif “Bagaimana menyelamatkan budaya lokal dari globalisasi?” sudah kalah sebelum dimulai. Pertanyaan yang benar adalah “Bagaimana memastikan Gen Alpha punya literacy, tools, dan critical consciousness untuk actively shape?” dan “Bagaimana budaya mereka berkembang?”
Jawabannya tidak ada dalam museum atau dalam “kembali ke tradisi”. Jawabannya ada dalam akses ke teknologi yang tidak bias, pendidikan media literacy yang kuat, dan kepercayaan bahwa kreativitas mereka dalam menavigasi dua dunia itu bukan kegagalan, melainkan budaya itu sendiri—dalam bentuknya paling hidup.
Identitas lokal Gen Alpha tidak akan punah. Ia akan bermutasi, beradaptasi, dan bertahan; bukan karena kita menyimpannya di museum, melainkan karena mereka living it, reinventing it, dan membuatnya relevan setiap hari.







