Penurunan Harga Bahan Pokok Berdampak pada Deflasi di Kota Malang
Pada bulan Januari 2026, Kota Malang mencatatkan deflasi sebesar 0,10% secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi sebesar 0,56% (mtm) pada bulan sebelumnya. Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan Kota Malang mencapai 3,33% (year-on-year/yoy), yang berada di atas rata-rata inflasi Jawa Timur sebesar 3,29% (yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,55% (yoy).
Deflasi pada bulan Januari terutama dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil deflasi sebesar 0,34% (mtm). Penurunan harga terjadi pada beberapa komoditas seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah, masing-masing dengan andil sebesar -0,07%, -0,07%, -0,07%, -0,06%, dan -0,05% (mtm).
Penurunan harga daging dan telur ayam ras disebabkan oleh lancarnya pasokan barang serta berkurangnya permintaan setelah momen Natal dan Tahun Baru. Sementara itu, penurunan harga cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah terjadi karena jumlah pasokan yang stabil selama musim panen raya di sentra produksi.
Meskipun terjadi deflasi, beberapa komoditas tetap mengalami inflasi, yaitu emas perhiasan, jeruk, kontrak rumah, bawang putih, dan apel. Andil inflasi masing-masing komoditas adalah 0,22%, 0,03%, 0,02%, 0,02%, dan 0,01% (mtm).
Kenaikan harga emas perhiasan disebabkan oleh kenaikan harga emas dunia yang terus berlanjut. Sementara itu, kenaikan harga kontrak rumah terkait pemberlakukan tarif baru oleh pemilik rumah setiap awal tahun. Kenaikan harga jeruk dan apel dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan. Sedangkan kenaikan harga bawang putih disebabkan oleh belum adanya realisasi impor dari negara produsen, sementara sekitar 90–95% kebutuhan bawang putih dalam negeri dipenuhi dari luar negeri.
Upaya TPID dalam Mengendalikan Inflasi
Tekanan inflasi di Kota Malang pada Januari 2026 masih terkendali dalam rentang sasaran. Hal ini tidak terlepas dari koordinasi yang solid dilakukan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melalui sinergi kolaboratif dalam pengendalian inflasi.
Beberapa upaya yang dilakukan TPID antara lain:
- Capacity Building TPID pada 29-30 Januari 2026 bersama Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur dalam rangka evaluasi dan penguatan program pengendalian inflasi oleh TPID.
- Pemantauan harga bahan pangan pokok selama bulan Januari 2026.
- Rapat Koordinasi (rakor) TPID mingguan bersama Kemendagri selama Januari 2026.
Dengan langkah-langkah tersebut, TPID Kota Malang siap menghadapi tekanan inflasi pada periode Imlek dan Ramadan yang jatuh pada Februari. Peningkatan intensitas pemantauan harga dan persiapan operasi pasar akan dilakukan untuk memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok.







