Perkiraan Awal Puasa 2026
Awal bulan Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada bulan Februari 2026. Menurut estimasi Kementerian Agama (Kemenag), tanggal 1 Ramadhan 1447 H akan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Dengan perhitungan mundur dari hari ini, Sabtu (24/1/2026), waktu yang tersisa sekitar 26 hari atau sekitar 4 minggu ke depan.
Sementara itu, organisasi Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa lebih awal, yaitu Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini dilakukan berdasarkan metode hisab wujudul hilal tanpa rukyat. Hal ini berpotensi menyebabkan perbedaan satu hari antara penetapan Muhammadiyah dan pemerintah.
Persiapan Umat Muslim
Umat Muslim diimbau untuk mulai bersiap menghadapi Ramadhan 2026. Persiapan ini mencakup berbagai aspek, seperti menjaga kesehatan, mempersiapkan logistik rumah tangga, hingga melunasi utang puasa yang belum terlaksana dari tahun sebelumnya.
Beberapa hal penting yang perlu dipersiapkan antara lain:
- Menjaga kesehatan: Memastikan tubuh dalam kondisi prima agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar.
- Melunasi utang puasa: Bagi umat Muslim yang memiliki tanggungan puasa, sebaiknya segera melunasinya sebelum bulan Syaban tiba.
- Membaca niat qadha puasa: Niat harus dibaca malam hari sebelum puasa dimulai.
Berikut adalah lafal niat qadha puasa yang dirujuk dari panduan resmi Baznas:
“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”
Perbedaan Metode Penetapan Awal Puasa
Di Indonesia, terdapat dua metode utama dalam menentukan awal puasa, yakahitu metode Hisab dan metode Rukyatul Hilal.
Penetapan Muhammadiyah
Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Berdasarkan metode ini, awal puasa 2026 ditetapkan pada Rabu, 18 Februari 2026. Metode ini berpatokan pada peredaran bulan dan perhitungan astronomis semata, tanpa harus melihat hilal secara fisik dengan mata telanjang.
Dalam pandangan Muhammadiyah, bulan baru dianggap sudah masuk apabila telah memenuhi tiga kriteria wujudul hilal secara kumulatif, yaitu:
- Telah terjadi ijtimak (konjungsi) antara Bulan dan Matahari.
- Ijtimak terjadi sebelum terbenamnya Matahari.
- Saat Matahari terbenam, Bulan belum terbenam (Bulan masih berada di atas ufuk).
Penetapan Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal Ramadhan melalui sidang isbat yang dilakukan menjelang masuknya bulan Ramadhan. Sidang isbat melibatkan unsur pemerintah, MUI, perwakilan ormas Islam, dan para ahli, lalu memadukan data hisab serta laporan rukyat (pemantauan hilal).
Kriteria yang digunakan oleh pemerintah adalah kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria ini menetapkan bahwa hilal dinyatakan sah atau dapat dilihat (imkanur rukyat) apabila ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi (jarak lengkung Bulan-Matahari) minimal 6,4 derajat.
Perbedaan sering terjadi ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk (positif) menurut hisab Muhammadiyah, namun ketinggiannya belum mencapai standar 3 derajat atau elongasinya kurang dari 6,4 derajat menurut kriteria MABIMS yang dipakai Pemerintah.
Persiapan Menuju Puasa 2026
Sembari menunggu kepastian awal puasa 2026, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Kemenag mengingatkan pentingnya melunasi utang puasa tahun lalu. Batas waktu mengganti puasa adalah hingga bulan Syaban.
Sangat tidak dianjurkan menunda-nunda pembayaran utang puasa hingga mendekati hari-hari terakhir menjelang Ramadhan jika tidak dalam kondisi mendesak. Umat Muslim disarankan untuk segera melunasi utang puasa agar bisa menjalankannya dengan tenang dan khusyuk.







