Tradisi dan Makna Ramadan dalam Budaya Melayu
Ramadan tiba…Ramadan tiba…Marhaban ya Ramadan…Marhaban ya Ramadan
Kalimat itu selalu hadir di ruang publik sebagai tanda kegembiraan menyambut kehadiran bulan Ramadan dan sebagai simbol kesucian hati seorang hamba untuk siap menjalankan berbagai ibadah di dalamnya. Kewajiban ibadah puasa Ramadan berawal pada bulan Syakban tahun 2 Hijriah atau sekitar tahun 624 Masehi. Saat itu, sekitar 18 bulan setelah Nabi Muhammad tinggal di Madinah, turunlah wahyu yang mewajibkan puasa di bulan Ramadan. Perintah kewajiban berpuasa Ramadan termaktub begitu indah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Ayat :183)
Di tengah keberagaman budaya, esensi Ramadan sebagai kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan sarana untuk mempererat hubungan sosial. Karena itu, kalimat Marhaban Ya Ramadan sebagai komitmen spiritual yang hidup dalam tradisi dan budaya. Dalam konteks inilah frasa Marhaban ya Ramadan menjadi bagian dari warisan religius yang tumbuh dari akulturasi tersebut. Di saat kalimat itu diucapkan, ketika itu pula kita sedang membuka pintu hati untuk menyambut bulan yang membawa rahmat, ampunan, dan bermohon minta dijauhkan dari siksa neraka. Tradisi lisan Marhaban ya Ramadan bukan hanya rangkaian kata, ia adalah simbol perjumpaan agama dan budaya yang terus hidup dalam pengalaman kolektif umat Islam.
Dalam perkembangannya, kata “marhaban” tidak lagi terbatas pada syukuran kelahiran anak diiringi dengan bacaan al-barzanji, tetapi meluas menjadi ungkapan penyambutan momen-momen sakral, termasuk Ramadan. Transformasi ini menunjukkan bagaimana bahasa religius bergerak dinamis mengikuti kebutuhan spiritual masyarakat. Islam hadir secara damai dan berakulturasi dengan budaya lokal. Islam tidak datang untuk menghapus tradisi yang baik, melainkan menyempurnakannya dengan nilai tauhid.
Sebelum Ramadan tiba yaitu pada bulan Syakban terdapat tradisi menyambut kehadiranya, misalnya saja tradisi meugang di Aceh dan dandangan di Kudus sebagai simbol kegembiraan menyambut puasa. Di Jerman, komunitas muslim minoritas tetap menghidupkan suasana Ramadan dengan menghias kota dan mengadakan Ramadhanzelt sebagai ruang berbuka bersama. Di Amerika Serikat, tradisi potluck dan kegiatan di Islamic center menjadi medium silaturahmi lintas budaya. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Ramadan bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga ruang negosiasi identitas dan solidaritas sosial. Dalam konteks itulah semboyan Marhaban ya Ramadan menjadi simbol universal penyambutan bulan suci.
Khususnya di Bangka Belitung, sebelum bulan Ramadan tiba diawali dengan sebuah tradisi yang unik penuh makna, yaitu sedekah ruwah/ruwahan. Tradisi ruwahan sangat akrab dikenal di Bumi Serumpun Sebalai sebagai warisan budaya takbenda yang menarik orang untuk berkunjung, bahkan wisatawan lokal pun ikut memeriahkannya. Tradisi ruwahan menggabungkan antara nilai-nilai ajaran Islam dengan kebudayaan yang telah ada pada masyarakat sehingga menumbuhkan banyak nilai-nilai kebaikan untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi ruwahan merupakan bentuk menghormati para leluhur atau arwah yang telah meninggalkan dunia, serta simbol wujud rasa syukur kepada Allah Swt. Tradisi ruwahan juga terdapat di luar Pulau Bangka, seperti di Pulau Jawa, kawasan Sumatra lainnya. Akan tetapi, tradisi ruwahan di Pulau Bangka menjadi lebih menarik karena dikuti dengan tradisi nganggung sebagai bentuk perwujudan rasa syukur dan kebersamaan.
Tradisi nganggung telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang dan masih dilaksanakan hingga saat ini. Zaman dahulu, pelaksanaan nganggung biasanya dilakukan di tempat-tempat seperti masjid, surau, langgar, namun saat ini bertranformasi dilakukan juga di lapangan, perkantoran pemerintahan, dan bahkan etnis dan agama selain Islam pun ikut melaksanakannya.
Penyajian dulang, tudung saji dan lauk-pauknya pun terdapat makna mendalam. Misalnya tudung saji dengan warna merah, kuning, hijau (hijau melambangkan Melayu atau muslim, merah melambangkan etnis Tionghoa, kuning melambangkan pendatang lainnya) dan ada juga yang memaknai sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan.
Hal itu bukan hanya sebagai wujud rasa syukur, tetapi juga terdapat nilai kebersamaan, nilai toleransi, cinta kerukunan, dan gotong royong yang mendarah daging dalam masyarakat melayu Bangka Belitung. Tradisi ini menjadi salah satu identitas budaya yang khas dan melekat pada masyarakat Bangka Belitung, sesuai dengan slogan Sepintu Sedulang yang bermakna setiap rumah wajib menyediakan makanan untuk dibawa ke tempat berkumpulnya masyarakat, seperti masjid, surau, dan balai desa. Mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong, dan Sepintu Sedulang menggambarkan semangat solidaritas masyarakat di mana setiap individu memiliki tanggung jawab bersama untuk saling membantu dan berbagi dalam berbagai aspek kehidupan.
Menurut Rusdi Sulaiman, tradisi nganggung bukan hanya tradisi makan bersama, melainkan sebuah instrumen sosial, akulturasi antara nilai islam dan kearifan lokal dengan mengintegrasikan maqasid asy-syar’iah dengan budaya setempat untuk menciptakan persatuan umat.
Begitu pula saat menyambut kedatangan malam yang Istimewa Lailatul Qadar, sebagaian masyarakat Bangka Belitung mengadakan tradisi tujuh likuran dengan menyalakan obor atau colok dari bambu ditempatkan di rumah-rumah, bahkan dipasang di sepanjang jalan umum. Hal ini menunjukkan rasa kegembiraan menyambut malam yang Istimewa yang hadir setahun sekali pada bulan yang suci, sebagai simbol seorang hamba harus tetap terjaga di tengah malam dengan mendirikan ibadah malam hari, seperti salat Tahajud, salat Tarawih, salat Hajat, dan banyak membaca Al-Qur’an untuk mengharapkan rida Allah Swt.
Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan menebar kebaikan. Selain menjadi waktu diwajibkannya ibadah puasa, Ramadan juga menghadirkan banyak hikmah yang dapat memperbaiki kualitas diri, memperkuat hubungan sosial, dan mendekatkan manusia kepada Allah Swt. Para ulama menekankan bahwa Ramadan adalah momentum yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi juga menahan anggota tubuh dari perbuatan dosa. Menurut beliau, orang yang berpuasa terbagi dalam tiga golongan. Pertama, puasanya awam, yaitu hanya berfokus melepaskan kewajiban saja dengan menahan makan dan minum sampai terbenamnya matahari. Kedua, puasanya khowas, yaitu lebih meningkat levelnya dibandingkan yang petama karena tidak hanya melepaskan kewajiban saja, tetapi juga mempuasakan seluruh pancaindranya, menahan dari melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Ketiga, puasanya khoas bil khowas, yaitu lebih tinggi levelnya karena berfokus pada mempuasakan hatinya, Ketika hati melakukan kesalahan, terbesit ada rasa iri hati dan penyakit hati lainnya atau bahkan hati lalai ingat kepada Allah Swt. Inilah hakikat puasa dengan menjaga hati agar tetap bersih dan dekat kepada Allah.
Rasulullah pun berpesan bahwa “Berapa banyak orang yang berpuasa itu tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya mendapatkan lapar dan haus saja.” Patut untuk direnungkan, jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan yang merugi ini. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan latihan spiritual. Ia menyebutkan bahwa puasa melatih seorang muslim untuk meninggalkan kebiasaan buruk sehingga setelah Ramadan berakhir, seorang hamba tetap istikamah dalam kebaikan dan tidak lagi mengulangi keburukan dan kesalahanya.
Menurut Syekh Yusuf Al-Qaradawi bahwa Ramadan adalah bulan tarbiah (pendidikan). Karena pada bulan ini Allah Swt mendidik umat Islam untuk disiplin, sabar, dan peduli terhadap sesama. Dilengkapi lagi menurut Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah bahwa puasa adalah ibadah yang paling mendekatkan seorang hamba kepada Allah karena ia dilakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa bisa dipamerkan kepada orang lain.
Oleh karena itu, bulan Ramadan diposisikan sebagai tamu agung yang datang membawa rahmat dan ampunan. Adaptasi ini menunjukkan bahwa bahasa religius mampu melampaui konteks awalnya dan memperoleh makna baru tanpa kehilangan akar sejarahnya. Pada Ramadan ini kesempatan bagi hamba untuk menimba amal sebanyak-banyaknya tiada terbatas dan menumbuhkan kesadaran untuk menjauhi kebiasaan dalam kefasikan. Bulan Ramadan juga sebagai kawah candradimuka untuk melahirkan wajah baru dengan penuh kegembiraan pertanda perwujudan cahaya takwa yang merupakan idaman bagi semua manusia.
Perubahan identitas religius menjadi insan takwa senantiasa akan digapai oleh orang-orang yang senantiasa menjalankan ibadah dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Dengan demikian, Ramadan bukan hanya sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi juga menjadi sarana pendidikan jiwa, penguatan iman, dan pembentukan karakter mulia.
Bagi masyarakat Melayu, kehadiran bulan suci Ramadan sangat dinantikan dengan berbagai kesiapan mental spiritual dengan cara yang penuh keberagaman namun tetap berjalan berdampingan penuh harmoni dalam suasana penuh cinta dan ketaatan menjalankan perintah Allah Swt. Setiap tarikan napas dalam suatu tradisi mengandung zikir dan doa sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Kesadaran spiritual ini sebagai perwujudan entitas masyarakat Melayu yang cinta damai penuh kehangatan dalam ikatan persaudaraan. Ramadan di tanah Melayu bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang merayakan hubungan makhluk dan Sang Khalik melalui harmoni adat yang penuh keberkahan.
Wallahu a’lamu bisshowaab.







