Perkembangan IHSG dan Diskusi dengan MSCI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan tetap berada di bawah level 8.000 jika Self Regulatory Organization (SRO) Tanah Air tidak mampu mencapai kesepakatan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Hal ini menjadi perhatian utama pelaku pasar, terutama setelah MSCI meminta transparansi data pemegang saham emiten yang memiliki kepemilikan di bawah 5%.
Pada Senin (2/2/2026), SRO Tanah Air menggelar pertemuan perdana dengan MSCI setelah penyedia indeks global tersebut menuntut lebih banyak transparansi dalam data kepemilikan saham. Permintaan ini juga menyebabkan MSCI memberikan sanksi berupa interim freeze terhadap sejumlah perubahan terkait rebalancing indeks, termasuk indeks review periode Februari 2026.
Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa sorotan MSCI sejalan dengan delapan rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia. Delapan rencana ini dibagi ke dalam empat klaster utama, yaitu kebijakan baru free float, transparansi, tata kelola dan enforcement, serta sinergitas.
Dari delapan rencana aksi tersebut, BEI dan KSEI mengajukan tiga proposal solusi kepada MSCI, khususnya pada klaster transparansi. Fokus utamanya adalah pengungkapan ultimate beneficial ownership (UBO) dan peningkatan likuiditas guna mendorong kebijakan free float baru di pasar modal Indonesia.
Berikut beberapa langkah yang diusulkan:
- Membuka data kepemilikan pemegang saham dengan porsi di bawah 5%. Ke depan, pembukaan data bahkan direncanakan bisa mencakup kepemilikan saham di atas 1%.
- Menghadirkan rincian klasifikasi investor pada data yang selama ini dikelola di KSEI. Saat ini, klasifikasi hanya terbatas pada sembilan tipe investor utama. Nantinya, akan dirinci menjadi 27 sub-tipe investor yang akan lebih memunculkan klarifikasi dan juga kredibilitas pengungkapan UBO dari kepemilikan saham tersebut.
- Merencanakan kenaikan free float dari ketentuan minimum saat ini 7,5% menjadi 15%.
Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani, melihat bahwa 8 agenda tersebut merupakan “obat pahit” yang memang diperlukan pasar modal Tanah Air. Ia menilai, secara fundamental, langkah-langkah ini bisa menyehatkan pasar. Masalah utama bursa kita selama ini adalah ‘transparansi semu’, di mana konsentrasi kepemilikan sangat tertutup.
Secara jangka pendek, langkah tersebut akan menimbulkan tekanan jual karena emiten dipaksa melepas saham ke publik. Namun, Chory menilai bahwa ini adalah proses ‘detoksifikasi’ dimana akan sakit di awal untuk kesehatan jangka panjang agar kita tidak lagi dicap sebagai pasar yang mudah dimanipulasi.
Pertemuan SRO dengan MSCI pada 2 Februari lalu dinilai Chory sebagai respon cepat terhadap gejolak yang terjadi setelah MSCI sempat membekukan peningkatan bobot Indonesia. Jika MSCI menerima proposal ini, maka potensi mass exclusion (pendepakan massal) saham Indonesia dari indeks global bisa dihindari. Namun, pasar masih akan wait and see hingga ada pernyataan resmi dari MSCI.
Tren IHSG dan Proyeksi Pasar
Pada Selasa (3/2/2026), IHSG berhasil rebound dan ditutup menguat 2,52% ke level 8.122,60 pada akhir perdagangan. Namun, Chory menilai bahwa jika kesepakatan dengan MSCI gagal dan terjadi arus keluar dana asing besar-besaran, IHSG bisa menguji level support kuat di 7.650 – 7.700 pada akhir semester I 2026.
Target moderat IHSG di paruh pertama tahun ini ada di level 9.100 – 9.200. Tapi, ini dengan catatan reformasi bursa berjalan lancar dan suku bunga global mulai melandai. Investor diharapkan melakukan rebalancing portofolio dari saham yang valuasinya sudah terlalu mahal ke sektor yang lebih defensif atau yang diuntungkan dari kebijakan baru ini, seperti sektor perbankan.







