Indonesia Menyampaikan Kekhawatiran atas Ketegangan di Timur Tengah
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan kekecewaan terhadap gagalnya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Peristiwa ini berdampak pada meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan melalui laman X, yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan perdamaian dalam situasi yang semakin memburuk.
Indonesia menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan lebih mengedepankan dialog serta diplomasi sebagai solusi konflik. Kemlu menekankan bahwa setiap negara harus dihormati kedaulatannya serta integritas wilayahnya. Solusi damai menjadi prioritas utama dalam menyelesaikan perbedaan antar negara.
Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi dialog antara AS dan Iran. Jika disetujui oleh kedua belah pihak, Presiden akan bersedia melakukan mediasi dengan bertolak ke Teheran.
Kemlu juga mengimbau warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di wilayah terdampak untuk tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat. WNI diharapkan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat agar mendapatkan informasi terkini.
Perundingan Nuklir AS-Iran Berlangsung di Jenewa
Perundingan nuklir antara AS dan Iran digelar di Jenewa, Swiss. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, bertindak sebagai mediator. Ia memberikan update tentang perkembangan pembicaraan tersebut.
Pembicaraan nuklir AS-Iran dilakukan pada Kamis (26/2/2026). Di hadiri oleh utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantunya, Jared Kushner. Mereka bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Badr menyebut bahwa pejabat AS dan Iran mencapai kemajuan signifikan dalam pembicaraan nuklir berisiko tinggi tersebut. Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan yang dapat mencegah perang masih belum jelas.
Kedua pihak berencana melanjutkan negosiasi setelah melakukan konsultasi di ibu kota masing-masing. Diskusi tingkat teknis dijadwalkan berlangsung pekan depan di Wina, Austria. Badr mengatakan bahwa para negosiator AS dan Iran telah menunda pertemuan untuk istirahat dan akan melanjutkannya nanti.
Perspektif dari Iran dan AS
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa terdapat kemajuan yang baik dalam negosiasi dengan AS. Meskipun ada perbedaan pandangan di sejumlah isu, pembicaraan tersebut dinilai sebagai salah satu putaran negosiasi paling intens dan terpanjang yang pernah dijalani Iran.
Trump sebelumnya memberikan ultimatum kepada Iran untuk mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hingga 15 hari. Jika gagal, Teheran terancam menghadapi serangan militer lanjutan. Pernyataan itu disampaikan saat berbicara dalam pertemuan Board of Peace di Washington, D.C., pada 19 Februari 2026.
Trump menegaskan kembali klaimnya bahwa serangan gabungan Israel dan AS terhadap Iran pada Juni tahun lalu membuka jalan bagi gencatan senjata di Gaza. Menurutnya, tanpa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, ancaman dari Teheran akan menghambat upaya perdamaian di Timur Tengah.
Ancaman dan Respons dari Iran
Trump juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi yang sangat traumatis apabila gagal mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Seiring dengan itu, AS dilaporkan telah mengerahkan ancang-ancang kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah.
Namun, pejabat Iran menunjukkan sikap menantang terhadap ancaman tersebut. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menulis di platform X bahwa kapal perang AS merupakan perangkat militer berbahaya. “Namun, yang lebih berbahaya dari kapal perang itu adalah senjata yang dapat mengirimkannya ke dasar laut,” tulisnya.
Dinamika Hubungan AS-Iran
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat sejak akhir 2025. Saat menerima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Desember lalu, Trump berjanji akan kembali menyerang Iran jika negara tersebut berupaya membangun kembali program nuklir atau rudalnya.
Beberapa hari setelah pernyataan itu, aksi protes antarpemerintah meletus di Iran, dan Trump secara terbuka mendorong demonstran untuk mengambil alih institusi negara.
Pada 2018, dalam masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir multilateral yang sebelumnya membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi internasional.
Meski perundingan terbaru kembali digelar, retorika ancaman dan sikap saling serang antara Washington dan Teheran masih berlanjut di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung.







