Iran Meluncurkan Serangan Balasan Pasca Kematian Pemimpin Tertinggi
Perang di kawasan Timur Tengah terus memanas setelah Iran meluncurkan serangan balasan terhadap negara-negara tetangganya di Teluk Persia dan Israel. Serangan ini dilakukan sebagai respons atas kematian salah satu pemimpin tertinggi Iran, yaitu Ali Larijani.
Serangan Rudal yang Dilakukan oleh Iran
Garda Revolusi Iran mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan rudal Khorramshahr-4 dan Qadr untuk membalas kematian Larijani. Rekaman yang diambil oleh Associated Press menunjukkan setidaknya satu rudal melepaskan munisi klaster di atas wilayah Israel. Serangan ini menunjukkan intensitas konflik yang semakin meningkat antara Iran dan Israel.
Larijani, mantan ketua parlemen, merupakan seorang penasihat kebijakan senior bagi pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Ia dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada Januari karena perannya dalam “mengkoordinasikan” penindasan terhadap protes nasional di Iran. Selain itu, kepala milisi Basij Garda Revolusi, Jenderal Gholam Reza Soleimani, juga tewas dalam serangan Israel pada 17 Maret.
Serangan Israel ke Beirut
Di sisi lain, Israel terus memberikan tekanan besar terhadap Lebanon dengan serangan yang diklaim menargetkan militan Hizbullah yang didukung Iran. Serangan tersebut menghantam beberapa gedung apartemen di Beirut dan menewaskan sedikitnya enam orang.
Sementara itu, kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran terkena proyektil, namun tidak ada korban luka dan fasilitas tersebut tidak mengalami kerusakan. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa pihaknya menerima laporan dari Teheran dan menyerukan “penahanan diri maksimal selama konflik untuk mencegah risiko kecelakaan nuklir.”
Eksekusi Pria yang Dituduh Mata-Mata
Peradilan Iran menyatakan bahwa seorang pria telah dieksekusi atas tuduhan memata-matai untuk badan intelijen Mossad. Kantor berita Mizan mengidentifikasinya sebagai Kourosh Keyvani dan menuduh ia “memberikan gambar dan informasi tentang lokasi sensitif” kepada Israel.
Selain itu, sebuah kompleks peradilan di Larestan, wilayah di Provinsi Fars bagian selatan, terkena serangan udara saat jam kerja. Dilaporkan ada staf dan warga sipil tewas dan terluka, meskipun jumlah pastinya masih belum diketahui.
Serangan ke Negara-Negara Teluk
Pada hari Rabu (18/03), Iran menyerang Provinsi Timur Arab Saudi—yang menjadi tempat banyak ladang minyaknya—serta Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Dilaporkan, dentuman rudal kembali terdengar di Dubai, sementara suara sistem pencegat rudal meledak di udara menggema di seluruh kota.
Arab Saudi berhasil menembak jatuh rudal balistik yang menargetkan area Pangkalan Udara Pangeran Sultan—yang menampung pasukan dan pesawat AS—serta dua drone yang menargetkan kawasan diplomatik Riyadh.
Pengungsian Terus Berlangsung
Serangan Israel telah membuat lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi. Pemerintah Lebanon menyebut lebih dari 900 orang telah tewas. Sementara itu, lebih dari 1.300 orang telah tewas di Iran sejak konflik dimulai pada tanggal 28 Februari, demikian menurut Palang Merah Iran.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan pasukannya menembak jatuh drone kedua pada Rabu (18/03) di atas ibu kota Riyadh. Drone tersebut mendekati kawasan diplomatik kota, tempat Kedutaan Besar AS dan misi asing lainnya berada.
Pemakaman Ali Larijani
Menurut kantor berita Iran Fars dan Tasnim, pemakaman Larijani dan tokoh kuat lainnya yang juga tewas oleh serangan Israel, Gholamreza Soleimani—kepala pasukan paramiliter Basij—akan berlangsung mulai pukul 10.30 GMT di Teheran.
Selain mengirim rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk, Iran juga berupaya memberikan dampak besar pada ekonomi global, termasuk dengan mendorong kenaikan harga minyak melalui upaya hampir menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Dengan harga minyak masih bertahan di sekitar $100 per barel, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa dampak global dari perang ini “baru saja dimulai dan akan berdampak pada semua pihak.”
Trump Mengeluh Tak Dibantu Soal Selat Hormuz
Iran tidak menunjukkan tanda-tanda melonggarkan cengkeramannya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui seperlima minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran meningkatnya krisis energi global. Sebagai bagian dari upaya membuka kembali Selat Hormuz—yang dilalui seperlima minyak dunia—militer AS mengatakan telah menggunakan beberapa bom terberat dalam persenjataannya untuk menghancurkan lokasi rudal di sekitarnya.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya pada hari Selasa (17/03) mengeluhkan bahwa sekutu-sekutu Amerika tidak mendukungnya dalam perang ini dengan mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz. Namun Trump juga menegaskan bahwa militer AS tidak membutuhkan bantuan sekutu, dengan menulis di platform Truth Social: “KAMI TIDAK MEMBUTUHKAN BANTUAN SIAPA PUN!”
Penilaian dari Tokoh Internasional
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengecam Israel, menyebut “pembunuhan politik” terhadap para pemimpin Teheran sebagai “tindakan ilegal di luar hukum perang normal.” Namun Israel juga ingin menargetkan pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, yang belum tampil di publik sejak menggantikan ayahnya.
“Kami akan melacaknya, menemukannya, dan menetralkannya,” kata juru bicara militer Brigadir Jenderal Effie Defrin kepada wartawan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menyerukan berakhirnya Republik Islam, meskipun ia dan Trump belum secara terbuka menyatakan hal itu sebagai tujuan utama perang.







