Mengenal “Bom Waktu MBG” dalam Konteks Pangan dan Gizi
ISTILAH “bom waktu MBG” mungkin terdengar provokatif, tetapi ia justru relevan untuk konteks hari ini. Dalam urusan pangan dan gizi, dampak paling serius memang tidak selalu meledak saat diasup di fase awal, tetapi tersembunyi dalam proses seiring berjalannya waktu. Apalagi, saat ini Indonesia pun sedang menghadapi fakta pahit berupa semakin banyak anak sekolah dan remaja tanggung mengalami penyakit kronis yang dulu hampir mustahil terjadi pada usia muda: gagal ginjal, obesitas, diabetes, gangguan metabolik, hingga penyakit hati yang mulai muncul lebih dini. Penyebabnya jelas, yakni pola makan yang didominasi makanan ultra-proses, tinggi gula, garam, lemak, dan zat aditif.
MBG hadir dalam situasi genting seperti itu. Secara konsep, ia adalah kebijakan mulia dan sangat dibutuhkan selain sebagai realisasi janji politik Prabowo-Gibran dalam kontestasi kepemimpinan bangsa saat pemilu lalu. Program Makan Bergizi Gratis alias MBG ini bukan sekadar program dalam aspek pendidikan atau kesehatan, tetapi kebijakan negara berbasis pangan, gizi, dan sumber daya manusia yang melibatkan aktor-aktor lintas level dan sektor. Melalui program ini, anak-anak dari keluarga rentan mendapatkan jaminan makan.
Namun, karena berskala masif dan cakupannya pun nasional, MBG tidak boleh salah arah. Kesalahan kecil dalam standar menu, bahan baku, atau filosofi gizi, dampaknya bisa besar dan berjangka panjang sehingga di sinilah titik rawan yang membuat MBG potensial menjadi bom waktu.
Potensi Bom Waktu MBG
Reduksi makna gizi merupakan cikal-bakal bom waktu pertama yang potensial meledak. Jika gizi dipahami hanya sebatas angka kalori dan daftar zat gizi di atas kertas, maka makanan ultra-proses bisa dengan mudah lolos sebagai makanan “sangat layak konsumsi”. Nuget, sosis, mi instan, minuman berpemanis, atau produk fortifikasi sangat mungkin “terhitung” sebagai asupan yang mengandung protein, vitamin, atau mineral.
Padahal, tubuh anak bukan mesin akuntansi yang dapat dengan mudah menoleransi angka-angka. Ia merespons kualitas bahan, tingkat pemrosesan, dan keseimbangan alami nutrisi. Makanan yang terlalu sering diproses justru mengacaukan sistem metabolisme yang masih berkembang. Banyak hasil riset tentang bahaya makanan pabrikan dan ultra-proses ini telah dipublikasi di banyak laporan penelitian, jurnal, bahkan media populer. Kita tinggal googling saja untuk memahaminya secara mendalam.
Bom waktu berikutnya adalah normalisasi rasa dan selera. Apa yang dimakan anak hari ini akan membentuk preferensi makannya di kemudian hari. Jika MBG membiasakan rasa gurih buatan, manis berlebih, dan tekstur instan, maka itulah standar yang akan mereka cari di masa depan. Sayur segar terasa hambar, ikan terasa amis, makanan rumahan dianggap “tidak enak”. Ini bukan persoalan selera semata, tetapi investasi atau bahkan kegagalan, menanamkan budaya pangan bangsa dalam fase yang panjang.
Bom waktu ketiga adalah beban negara yang tertunda. Program MBG sering dipandang sebagai pengeluaran besar negara, apalagi konon saat Ramadhan pun tetap didistribusikan. Di sinilah, jika salah desain, MBG justru melipatgandakan beban fiskal di masa depan. Anak-anak yang tumbuh dengan pola makan buruk berisiko menjadi warga negara dengan biaya kesehatan tinggi. Anggaran kesehatan akan terkuras untuk penyakit tidak menular yang seharusnya bisa dicegah sejak usia sekolah. Akhirnya, negara membayar dua kali: hari ini untuk makan, esok untuk obat-obatan.
Bom waktu selanjutnya adalah ilusi keberhasilan kebijakan. Secara administratif, MBG bisa dinilai sukses jika jutaan porsi tersalurkan, laporan rapi, foto-foto anak sekolah makan dari food tray (wadah) MBG tersebar di berbagai media. Namun, kesehatan tentu saja tidak tunduk pada laporan tahunan pengelola dapur MBG, pidato Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), atau foto dan berita yang dirilis di media. Ia diuji oleh waktu. Tanpa indikator kualitas jangka panjang, status metabolik anak, kebiasaan makan, kesehatan ginjal dan organ lain, keberhasilan MBG bisa menjadi semu.
Kontrol Sosial sebagai Kunci Sukses
Akhirnya, pengawalan publik menjadi kunci. Orang tua, guru, akademisi, dan masyarakat sipil harus berani bertanya: apa isi menu MBG hari ini? Dari mana bahannya? Seberapa tinggi tingkat pemrosesannya? Apakah anak dikenalkan pada pangan alami atau sekadar diberi versi “lebih rapi” dari jajanan pabrikan? Orang tua perlu ikut memantau makanan yang diasup sang buah hati melalui program mulia ini. Sekolah pun patut memosisikan MBG sebagai sarana edukasi. Anak tidak hanya diberi makan, tetapi juga diajak belajar mengenal pangan yang sehat dan berorientasi untuk menghargai kesehatan tubuh mereka sendiri.
Selama ini ada kesan kalau orang tua, sekolah, dan masyarakat hanya sebagai kelompok pasif pada Program MBG, padahal mereka merupakan pihak paling strategis yang berkepentingan langsung untuk melakukan kontrol sosial, umpan balik kualitas makanan, dan juga penjaga kesinambungan pola makan di rumah. Tanpa dukungan orang tua dan sekolah, MBG mudah tereduksi menjadi rutinitas administratif yang kehilangan ruh.
Padahal, kegagalan atau keberhasilan MBG tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah hasil interaksi banyak kepentingan: kebijakan, anggaran, ilmu gizi, logistik, industri, dan bahkan orang tua selaku si pemilik anak. Secara struktur, MBG adalah program multi-aktor: politik di pusat, teknokratik di badan dan kementerian, eksekusi di madrasah dan sekolah, lalu dampaknya di tubuh anak.
Dengan pengawalan dan kontrol sosial yang tepat, MBG dapat memiliki desain dan bahkan potensi luar biasa sebagai kebijakan transformatif, yakni menjadi pintu masuk perbaikan sistem pangan nasional dengan menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperbaiki kesehatan publik. Syaratnya cuma satu, yakni orientasi kesehatan jangka panjang harus mengalahkan logika kepraktisan dan kepentingan industri pangan ultra-proses. Bahan makanan segar dibeli dari petani lokal, ikan dari nelayan setempat, umbi dan sayur di daerah penyaluran MBG dijadikan sebagai menu.
Karena itu, tanpa kritik, pengawasan, dan transparansi, bom waktu dapat terus berdetak tanpa suara. Kotak makan MBG memang tampak rapi, bersih, dan seragam, tapi yang lebih penting dari itu adalah apa yang berulang kali masuk ke dalam tubuh anak-anak kita melalui wadah itu. Hari ini, melalui MBG, anak-anak kenyang. Namun, masa depan tidak diukur dari rasa kenyang sesaat. Ia ditentukan oleh apa yang perlahan membentuk darah, organ, dan metabolisme mereka. MBG bisa menjadi perisai kesehatan bangsa, atau sebaliknya bom waktu yang meledak ketika generasi ini dewasa nanti. Pilihan itu sedang kita buat sekarang, diam-diam, lewat apa yang kita taruh di piring anak-anak kita.







