Kehidupan KH Cholil Nafis: Dari Santri ke Tokoh Nasional
KH Muhammad Cholil Nafis adalah salah satu tokoh yang memiliki perjalanan hidup yang sangat menarik. Sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), ia memiliki kisah inspiratif yang menggambarkan bagaimana tradisi pesantren bisa menjadi fondasi untuk meraih kesuksesan di berbagai bidang.
Akar Pesantren Sejak Dini
Lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang keagamaan dan kewirausahaan, KH Cholil Nafis tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai agama. Ayahnya seorang pengusaha, sementara ibunya berasal dari keluarga kiai yang memiliki pesantren. Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, ia tetap diberikan pendidikan agama yang kuat.
Sejak kecil, ia sudah akrab dengan Al-Qur’an dan kitab kuning. Pendidikan dasarnya dimulai di Madura, lalu melanjutkan ke beberapa pesantren seperti Cerenguan, Sampang, dan Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan. Untuk jenjang Aliyah, ia kembali ke Madura dan belajar di Panyeppen, Pamekasan.
Lingkungan pesantren itulah yang membentuk karakter dan cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia menyebut bahwa kehidupannya selalu terjalin dengan dunia pesantren, baik dalam hal pendidikan maupun nilai-nilai keagamaan.
Menjembatani Tradisi dan Akademik Modern
Setelah menempuh pendidikan pesantren, KH Cholil melanjutkan studi tinggi dengan mengambil jurusan fikih perbandingan mazhab dan pendidikan agama Islam. Ia melanjutkan magister di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian meraih gelar doktor dari University of Malaya dengan konsentrasi ekonomi syariah.
Baginya, ilmu pesantren tidak boleh terbatas pada ruang-ruang tradisional. Ia percaya bahwa ilmu tersebut harus bisa berdialog dengan perkembangan zaman. “Pesantren, ilmu pesantren harus dikomunikasikan dengan perkembangan-perkembangan itu,” ujarnya.
Meski begitu, identitas santri tetap melekat kuat dalam dirinya. Ia sering mengatakan bahwa bagi orang-orang santri, memakai sarung lebih enak daripada memakai celana.
Keluarga yang Tumbuh dalam Tradisi Ilmu
KH Cholil merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Sebagian besar anggota keluarganya juga menekuni dunia keagamaan dan pendidikan. Salah satu kakaknya aktif sebagai Wakil Ketua MUI Jawa Timur sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur serta pengasuh pesantren.
“Dari empat bersaudara, tiga saudara ini menekuni di keagamaan dan di pendidikan. Sama-sama pengasuh pesantren,” tuturnya.
Kini, hanya dirinya yang menetap di Jakarta. Setelah menikah dengan perempuan Betawi, ia memilih tinggal di ibu kota. “Saya merantau, kebetulan mendapat istri orang Betawi. Jadi karena mendapat istri orang Betawi tidak pulang lagi ke Madura,” ujarnya.
Dari Santri ke Tokoh Nasional
Perjalanan KH Cholil Nafis menunjukkan bahwa tradisi pesantren bukan batas, melainkan fondasi. Dari ruang belajar sederhana di Madura hingga meraih doktor ekonomi syariah di luar negeri, ia menapaki jalan panjang yang dibangun atas disiplin ilmu dan ketekunan.
Bagi KH Cholil, pesantren adalah tempat pembentukan karakter, bukan sekadar lembaga pendidikan. Jejak hidupnya menjadi gambaran bagaimana tradisi keagamaan dan pendidikan modern dapat berjalan beriringan, melahirkan ulama yang mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar.







