Peran Ayatullah Ali Khamenei dalam Menentang Israel
Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, telah menjadi tokoh sentral dalam memperkuat posisi Iran terhadap Israel. Meskipun beberapa kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Israel berusaha untuk mengubah dinamika politik di kawasan, sikap Khamenei terhadap perjuangan bangsa Palestina dan penolakan terhadap eksistensi negara Israel tetap konsisten sepanjang empat dekade kepemimpinannya.
Selama masa jabatannya, Khamenei menjadikan dukungan terhadap Palestina sebagai salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Iran. Ia tidak hanya menyuarakan penolakan terhadap Israel secara retoris, tetapi juga melalui tindakan nyata, termasuk dukungan strategis kepada kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah. Dalam pidato Hari Quds yang dipublikasikan pada 2020, ia menyatakan bahwa “Rezim Zionis adalah tumor ganas dan harus dicabut serta dihancurkan.”
Dalam kerangka ideologi Revolusi Islam, sikap anti-Zionis bukan hanya sekadar politik realpolitik, tetapi juga bagian dari doktrin moral yang dikembangkan oleh Khamenei. Dalam berbagai pidato publiknya, ia menolak keberadaan Israel dengan menyebutnya sebagai “pasukan teroris yang menindas hak rakyat Palestina”. Bahkan dalam perayaan seperti Hari Quds, ia menyatakan bahwa perang terhadap Israel adalah “perang melawan penindasan dan terorisme” yang menjadi kewajiban moral bagi dunia Muslim.
Khamenei tidak pernah mendukung solusi damai dalam bentuk normalisasi hubungan dengan Israel. Sebaliknya, ia menegaskan penolakan terhadap negosiasi dengan rezim Zionis dan menolak solusi yang menurutnya hanya memberi keuntungan kepada penjajah. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya normalisasi hubungan antara beberapa negara Arab dengan Israel beberapa tahun terakhir.
Dukungan Tehran Terhadap Palestina
Dukungan Iran terhadap Palestina juga diaktualisasikan melalui diplomasi publik. Khamenei dan pemerintahan Iran secara rutin menyelenggarakan konferensi internasional untuk mendukung perjuangan bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaan. Misalnya, pada Februari 2017, Iran menjadi tuan rumah Konferensi Internasional ke-6 Mendukung Perjuangan Bangsa Palestina, di mana Khamenei mengimbau negara-negara dan pencari kemerdekaan di seluruh dunia untuk membantu rakyat Palestina.
Ia menekankan bahwa perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel adalah panjang dan berharga, sehingga diperlukan solidaritas tanpa pamrih terhadap perjuangan tersebut.

Warga Iran mengambil bagian dalam unjuk rasa protes anti-AS dan Israel di Lapangan Palestina di Teheran, Iran, 09 April 2025. – (EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH)
Kritik terhadap Perjanjian Abraham
Perjanjian Abraham yang ditandatangani oleh beberapa negara Arab dengan Israel menimbulkan reaksi keras dari Khamenei. Dalam pidato 2020 yang dimuat kantor berita Tasnim, ia menyebut langkah tersebut sebagai “pengkhianatan terhadap dunia Islam dan Palestina”. Baginya, legitimasi Israel berarti mengabaikan penderitaan rakyat Palestina. Dalam satu kesempatan ia berkata, “Siapa pun yang berjabat tangan dengan rezim Zionis, pada hakikatnya menikam bangsa Palestina dari belakang.”
Dukungan Strategis Terhadap Kelompok Perlawanan
Salah satu ciri paling nyata dari perlawanan Khamenei terhadap Israel adalah dukungan strategis Tehran terhadap kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Sejak awal pembentukan Hizbullah pada 1980-an, jaringan dukungan ini menjadi salah satu jangkar kekuatan anti-Israel di kawasan. Khamenei sering menyatakan bahwa kegigihan kelompok-kelompok ini dalam menolak dominasi Israel merupakan bukti ketidakmampuan rezim Zionis untuk menundukkan perlawanan Palestina.
Perjanjian Abraham yang Kontroversial
Respons Khamenei terhadap Eskalasi Konflik
Khamenei kerap memberikan reaksi keras setiap kali terjadi eskalasi antara Israel dan kekuatan perlawanan di Palestina dan kawasan. Saat serangan Israel terhadap konsulat Iran di Suriah yang menewaskan komandan Garda Revolusi, Khamenei membakar semangat balasan keras terhadap rezim Zionis dan sekutunya, sekadar menunjukkan bahwa Tehran siap membela sekutunya.
Tidak sekadar retorika, respons Tehran terhadap Israel juga terlihat dalam eskalasi serangan rudal dan drone yang dilancarkan oleh sekutu Iran terhadap Israel di beberapa kesempatan. Dalam sejumlah laporan, Garda Revolusi Iran menembakkan drone dan rudal ke wilayah Israel sebagai bagian dari konfrontasi yang berlangsung.

Api berkobar di Tel Aviv sebagai dampak serangan Iran pada Sabtu (28/2/2026). – (Reuters)
Pandangan Politik dan Geopolitik Khamenei
Selain itu, ketegangan yang meningkat sejak pecahnya perang Israel-Hamas pada Oktober 2023 memperlihatkan bagaimana Khamenei secara terbuka memuji serangan Hamas terhadap Israel, menyebutnya sebagai dorongan yang diperlukan untuk kawasan tersebut, meskipun menegaskan bahwa Iran tidak terlibat langsung dalam perencanaan taktisnya.
Bagi Khamenei, dukungan terhadap Palestina tidak hanya soal konflik bilateral dengan Israel, tetapi juga bagian dari agenda geopolitik yang lebih luas menghadapi dominasi Barat di Timur Tengah. Tehran menolak apapun bentuk dominasi yang menurutnya berasal dari kepentingan kekuatan adidaya seperti Amerika Serikat, yang selama ini menjadi sekutu utama Israel. Jalan yang ditempuh Khamenei adalah memperkuat jaringan negara dan kelompok yang menentang dominasi Barat dan Israel di kawasan — sebagai bentuk perlawanan kolektif.
Konsistensi dan Kritik Internasional
Sikap keras Khamenei terhadap Israel tidak lepas dari kritik internasional. Bahkan beberapa pihak di dunia Arab sendiri sempat menyampaikan kritik terhadap komentar Khamenei soal dukungan terhadap serangan tertentu oleh Hamas.
Namun bagi Teheran, posisi ini adalah konsistensi dalam menolak apa yang dianggap sebagai penjajahan modern dan penindasan terhadap bangsa Palestina. Dalam pandangan Khamenei, solidaritas terhadap rakyat Palestina merupakan kewajiban moral dan historis yang tidak bisa dikompromikan.







