Perubahan Ejaan Nama Negara dan Kata Baru dalam KBBI
Badan Bahasa menghadapi kritik dari masyarakat terkait perubahan ejaan sejumlah nama negara yang dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Beberapa netizen menyebut Badan Bahasa “kurang kerjaan” karena dianggap tidak perlu mengganti ejaan 194 nama negara. Di sisi lain, Badan Bahasa menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan sebagai upaya menyesuaikan pencatatan kata-kata yang berkembang dinamis.
Menurut pihak Badan Bahasa, KBBI bukanlah kitab suci yang tidak bisa diubah, melainkan kamus besar yang mencatat perkembangan bahasa. Proses masuknya sebuah kata ke dalam KBBI melalui beberapa tahapan dan pertimbangan tertentu. Hal ini juga diperkuat oleh para ahli yang menyatakan bahwa setiap kata yang masuk ke KBBI telah melalui proses evaluasi yang ketat.
‘Tailan’ dan Kontroversi Ejaan Nama Negara
Salah satu perubahan ejaan yang memicu pro dan kontra adalah penggunaan istilah ‘Tailan’ untuk menggantikan ‘Thailand’. Beberapa orang menilai perubahan ini “tidak etis” karena mengandung konotasi negatif dari kata ‘tai’, yang merupakan bentuk tidak baku dari ‘tahi’ yang berarti kotoran.
Namun, perubahan ini bukan semata keputusan Badan Bahasa. Melainkan hasil kesepakatan bersama dengan Badan Informasi Geospasial dan ahli linguistik Universitas Indonesia. Guru Besar Geolinguistik UI, Multamia Lauder, menjelaskan bahwa perubahan ejaan nama-nama negara merupakan instruksi PBB. Setiap anggota PBB wajib melakukan pembakuan toponim sesuai bahasa lokal, sejarah, dan budaya masing-masing negara.
Selain teknis linguistik, perubahan ejaan ini juga mencerminkan afirmasi identitas kebahasaan dan simbol kedaulatan bahasa. Dengan menggunakan ‘Tailan’, bahasa Indonesia menunjukkan kemampuannya untuk menyerap, menyesuaikan, dan menamai dunia dengan cara sendiri tanpa kehilangan ciri khas fonetik dan sistem bunyinya.
Beberapa nama negara lain yang mengalami perubahan ejaan antara lain ‘Banglades’, ‘Brunei Darusalam’, ‘Swis’, ‘Cili’, ‘Tiongkok’, ‘Siprus’, ‘Jibuti’, dan masih banyak lagi.
Masuknya Kata Baru ke KBBI
Sebelum heboh soal ‘Tailan’, masyarakat juga sempat protes terkait masuknya beberapa kata baru ke KBBI edisi terbaru, seperti ‘kapitil’ dan ‘galgah’. Kedua kata tersebut masuk ke KBBI pada Oktober 2025 lalu, bersama 3.257 kata lainnya.
Kata ‘Galgah’ yang berarti lega atau segar kerongkongan karena minum, menjadi sorotan karena berasal dari ciptaan pengguna TikTok. Beberapa pihak merasa kerja Badan Bahasa semakin “sembarangan”, terutama setelah ada kata ‘palum’ yang memiliki arti serupa dan berasal dari bahasa Batak.
Pada awal 2026, perbincangan bergeser ke kata ‘kapitil’—yang berarti huruf kecil—sebagai lawan dari kapital. Kata ini dinilai “vulgar” dan “tidak senonoh” karena mengandung kata ‘itil’ yang berarti klitoris.
Proses Penyelidikan dan Pengembangan KBBI
Ahli linguistik, Rahayu Surtiati Hidayat, menjelaskan bahwa semua kata yang masuk ke KBBI adalah hasil penyelidikan para ahli keksikografi di Badan Bahasa. Biasanya, kata yang sering digunakan dalam percakapan dan/atau tulisan akan masuk ke dalam KBBI.
KBBI terus berkembang, meskipun ada beberapa kata yang terkesan aneh bagi sebagian orang. Misalnya, kata ‘kapitil’ dinilai lebih ringkas daripada ‘huruf kecil’, sedangkan ‘galgah’ bersinonim dengan ‘palum’.
Jenis-Jenis Kata dalam KBBI
Kata-kata yang bisa ditemukan di KBBI tidak semuanya merupakan kata baku. Seperti ‘galgah’ dan ‘kapitil’, dua kata itu terekam sebagai kata cakapan—dengan kode cak—yang artinya hanya digunakan dalam percakapan dan tidak bisa digunakan dalam dokumen resmi maupun karya ilmiah.
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia, menjelaskan bahwa KBBI juga memuat kata tidak baku, cakapan, akronim, hingga kata kasar. Hal ini dilakukan agar orang-orang yang mempelajari bahasa Indonesia tidak hanya mengetahui kata baku saja.
Penjelasan Kode Kata dalam KBBI
Dalam hasil pencarian kata selalu ada keterangan berwarna merah sebelum arti kata tersebut. Keterangan huruf n berwarna merah berarti nomina atau kata benda, huruf a untuk adjektiva atau kata sifat, akr untuk akronim, cak untuk cakapan, kas untuk kasar, dan sebagainya.
Dora menjelaskan bahwa dulu ada protes dari guru mengapa KBBI memasukkan kata-kata kasar. Namun, ia menjawab bahwa justru menurut mereka itu mendidik karena KBBI memberi label khusus.
Pemutakhiran dan Pengusulan Kata Baru
KBBI diperbarui dua kali dalam setahun, biasanya pada April dan Oktober. Pengguna yang terdaftar di KBBI daring bisa mengusulkan kata baru, perbaikan makna, hingga penonaktifan kata yang sudah ada. Usulan tersebut nantinya akan masuk ke meja redaksi, diverifikasi oleh editor, diperiksa oleh redaktur, dan terakhir dicek oleh validator. Tidak semua usulan diterima.
Dinamika Kata dalam KBBI
Kata-kata yang sudah ada di KBBI pun bisa jadi tidak selamanya ada dalam kamus. Badan Bahasa memantau apakah ada “dinamika di masyarakat” terkait kata-kata tersebut. Contohnya, jika ‘kapitil’ terus menuai kontroversi, bisa jadi kata itu akan dinonaktifkan.
Sampai saat ini jumlah usulan yang masuk dalam KBBI mencapai 256.692. Sebanyak 75.181 usulan masih diproses, 181.293 usulan sudah disunting, 124.479 usulan diterima, 38.298 usulan ditolak, dan 218 usulan diarsipkan.










