Kehidupan Syafiuddin: Dari Anak Kecil di Bangkalan Hingga Anggota DPR RI
Sosok Syafiuddin, anggota Komisi V DPR RI, memiliki kisah hidup yang penuh perjuangan dan semangat. Ia lahir pada 5 November 1973 di pelosok Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Sejak kecil, ia tinggal di rumah sederhana yang jauh dari fasilitas modern. Pada usia dua tahun, ia kehilangan ayahnya, Asmoro, yang meninggal dunia pada tahun 1975.
Karena alat fotografi masih langka pada masa itu, Syafi tidak pernah melihat wajah ayahnya. Meski begitu, ia tetap tumbuh dengan tekad kuat untuk meraih pendidikan. Bahkan, saat duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia harus mengayuh sepeda sejauh 20 kilometer dari rumahnya ke sekolah.
“Temannya naik angkot, tapi saya memilih bersepeda agar bisa hemat,” ujar Syafi.
Setelah lulus SMP, ia melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Atas (SMA) sambil menjadi santri di Pondok AL Kholiliyah Karang Butoh, Bangkalan. Tujuannya adalah agar lebih dekat dengan sekolah.
Namun, kehidupan Syafi tidak selalu mulus. Setelah lulus SMA, ia harus berhenti menuntut ilmu karena tidak mampu membayar biaya kuliah. Pada usia 18 tahun, ia menikah meskipun tidak direstui oleh keluarga istri.
Mulai Berkarier sebagai Kernet Angkot
Tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuat Syafi harus bekerja. Salah satu pekerjaan pertamanya adalah menjadi kernet angkot jurusan Bangkalan-Sampang.
“Saya jadi kernet angkot L300 itu. Dulu, supirnya sempat jadi tukang becak saat saya masih SMA, dan saya pernah jadi pelanggan becak itu,” cerita Syafi.
Meski awalnya tidak pernah terbayang, ia terus menjalani pekerjaan ini selama tiga tahun. Namun, kondisi ekonomi keluarganya terus bertambah berat. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti dan mencari jalan lain.
Terlibat dalam LSM dan Dunia Politik
Di masa-masa sulit tersebut, Syafi bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Di sinilah ia mengenal sosok RKH Fuad Amin Imron, yang saat itu menjabat sebagai anggota DPR RI.
“Pada tahun 2000-an, saya ikut Kiai Fuad. Melalui beliau, saya mendapatkan jalan untuk menjadi seperti sekarang,” ujarnya.
Ia juga menjadi bodyguard Kiai Fuad dan ikut mendampinginya ke mana pun. Perlahan, ia mulai mengenal dunia politik.
Pada tahun 2003, ia turut mendorong Kiai Fuad maju sebagai Bupati Bangkalan. Alhasil, Kiai Fuad terpilih. Tahun 2004, Syafi juga mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Bangkalan dan terpilih.
Kembali Bersekolah dan Mengembangkan Diri
Kondisi ekonomi yang membaik memungkinkan Syafi untuk melanjutkan studi. Ia mengambil jurusan Administrasi Negara di Universitas Wijaya Putra. Selama masa ini, ia juga tumbuh di bawah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Pada tahun 2014, ia mencoba peruntungan di tingkat provinsi dan terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Jatim. Namun, ia kemudian pindah ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
Setelah satu periode, ia kembali ke PKB dan mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI. Pada Pileg 2024, ia terpilih kembali hingga saat ini.
Menyempurnakan Ilmu dan Semangat Belajar
Syafi tidak hanya fokus pada dunia politik, tetapi juga terus meningkatkan kemampuan akademiknya. Pada tahun 2020, ia melanjutkan studi di Universitas Trunojoyo Madura untuk menempuh program Pascasarjana Ilmu Hukum dan lulus tahun 2023.
Perjalanan panjang ini, menurut Syafi, tidak terlepas dari peran ibundanya, Mardiah.
“Kunci sukses saya salah satunya doa ibu. Doa dan kesabaran ibu selalu diijabah oleh Allah,” ujarnya.






