Kritik terhadap Serial Pernikahan Dini Gen Z: Di Balik Kemasan Estetika Tersembunyi Masalah Etika
Kita sering mendengar jargon bahwa “film adalah potret realitas”. Namun, ketika cermin itu menampilkan seorang pria dewasa berusia 29 tahun beradegan mesra layaknya suami-istri dengan seorang gadis remaja yang baru berusia 16 tahun, kita harus berhenti sejenak dan bertanya dengan serius. Apakah ini seni, atau ini eksploitasi anak yang dilegalkan atas nama hiburan?
Serial Pernikahan Dini Gen Z yang dibintangi oleh Aliando Syarief dan Richelle Skornicki memicu perdebatan sunyi namun krusial di kalangan pengamat film, psikolog, dan aktivis anak. Di balik kemasan visual yang estetik, grading warna yang memanjakan mata, dan nama besar rumah produksi legendaris yang menaunginya, tersimpan sebuah masalah etika yang menganga. Keputusan casting ini bukan sekadar kelalaian. Ini adalah bentuk arogansi industri yang menabrak batas kewajaran perlindungan anak.
Di industri perfilman global, seperti Hollywood atau industri drama Korea, terdapat sebuah protokol tak tertulis namun dipatuhi dengan ketat terkait peran remaja. Karakter anak SMA yang terlibat dalam plot romansa berat, kekerasan, atau seksualitas, hampir selalu diperankan oleh aktor dewasa berusia 20-an. Tujuannya sangat jelas, untuk melindungi mental sang aktor. Aktor dewasa memiliki kedewasaan psikologis untuk memisahkan diri mereka dari karakter, serta memahami batasan consent (persetujuan) saat melakukan adegan intim. Selain itu, ini adalah strategi untuk mematuhi hukum anak yang ketat.
Namun, industri hiburan Indonesia tampaknya memiliki obsesi aneh dan berbahaya terhadap keaslian usia. Dalam kasus Pernikahan Dini Gen Z, produser dan sutradara dengan sadar memasangkan seorang pria dewasa matang (Aliando, kelahiran 1996) dengan seorang anak (Richelle, kelahiran 2009 saat syuting berlangsung). Menurut Undang-Undang, siapa pun yang belum berusia 18 tahun adalah anak-anak. Negara mendefinisikan Richelle sebagai anak. Namun, industri film memperlakukannya sebagai objek romantis.
Masalah ini jauh melampaui sekadar angka di akta kelahiran. Kita harus membayangkan dinamika yang terjadi di lokasi syuting untuk memahami betapa rentannya posisi si anak. Bayangkan seorang gadis remaja yang pengalaman hidupnya masih sangat terbatas dan kematangan emosionalnya belum terbentuk sempurna. Ia ditempatkan di sebuah set, dikelilingi oleh puluhan kru yang mayoritas laki-laki dewasa, berhadapan dengan lawan main pria dewasa, dan diperintah oleh sutradara dewasa. Apakah seorang anak di posisi itu memiliki kapasitas mental penuh dan keberanian untuk berkata “Tidak”? Apakah ia benar-benar memberikan persetujuan yang dipahami sepenuhnya atas tubuh dan emosinya? Atau ia hanya melakukan itu karena tekanan profesionalisme, rasa takut mengecewakan kru, dan jeratan kontrak kerja yang mungkin ditandatangani oleh orang tuanya?
Ini adalah situasi di mana batas antara profesionalisme dan paksaan halus menjadi sangat kabur. Anak dipaksa meminjamkan tubuh dan emosinya untuk memuaskan industri, tanpa memiliki otonomi penuh atas situasi tersebut.
Bahaya terbesar dari tontonan ini bukan hanya pada apa yang terjadi di lokasi syuting, tetapi pesan bawah sadar yang dikirimkan kepada jutaan penonton remaja Indonesia. Media adalah alat edukasi paling ampuh. Ketika penonton melihat Aliando menatap Richelle dengan tatapan penuh hasrat, dan kamera membingkainya dengan musik balada yang mendayu serta pencahayaan dreamy, kita sedang diajak untuk menormalisasi hubungan romantis antara orang dewasa dan anak-anak. Ini berpotensi mengaburkan batas tegas antara cinta sejati dan perilaku grooming. Grooming adalah proses di mana orang dewasa membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan anak di bawah umur untuk tujuan memanipulasi atau mengeksploitasi mereka (baik secara seksual maupun emosional).
Pertanyaan besarnya adalah, kenapa casting director dan produser meloloskan ini? Jawabannya mungkin terdengar klise namun menyedihkan, Visual dan Viralitas. Industri kita sering kali malas. Mencari aktris dewasa yang baby-face (berwajah muda) dan memiliki kemampuan akting mumpuni untuk memerankan anak sekolah membutuhkan usaha ekstra dalam pencarian bakat dan tata rias. Industri mengejar estetika kepolosan yang autentik. Kekakuan, kegugupan, dan kenaifan seorang remaja asli dianggap sebagai nilai jual visual yang imut di layar. Industri hiburan mengeksploitasi masa muda dan ketidaktahuan seorang aktris demi rating, tanpa memikirkan dampak psikologis jangka panjang bagi si anak yang harus dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Kritik tajam ini tidak ditujukan kepada para aktor secara personal. Aliando Syarief dan Richelle Skornicki hanyalah pekerja seni yang menjalankan skrip dan kontrak. Richelle, khususnya, adalah pihak yang paling rentan dalam sistem ini dan tidak sepantasnya dirundung. Kritik ini tertuju lurus kepada produser, sutradara, pemilik rumah produksi, dan petinggi platform streaming yang memberi lampu hijau pada proyek ini. Mereka yang memiliki kuasa, memiliki modal, dan seharusnya memiliki nalar etika.
Sudah saatnya penonton Indonesia tidak bisa lagi menelan mentah-mentah alasan “ini cuma film” atau “ceritanya kan memang tentang anak sekolah”. Cerita tentang anak sekolah tidak mengharuskan anak asli untuk melakukan adegan dewasa dengan orang dewasa. Itu adalah dua hal yang berbeda. Media membentuk budaya. Media membentuk pola pikir. Jika kita terus membiarkan tontonan yang memasangkan pria dewasa dengan anak di bawah umur dalam bingkai romantis, jangan heran jika angka kekerasan seksual, pernikahan anak, dan manipulasi seksual di dunia nyata sulit ditekan. Tanpa sadar, tontonan kita sendiri yang memberi tutorial, pembenaran, dan soundtrack romantis atas perilaku tersebut.
Anak-anak berhak mendapatkan ruang aman untuk berkarya dan berekspresi seni. Namun, ruang itu tidak boleh menjadi tempat di mana mereka dipaksa menjadi objek fantasi romantic. Kita butuh regulasi industri yang lebih ketat. Kita butuh sineas yang tidak hanya jago bikin gambar bagus, tapi juga punya nurani untuk melindungi masa depan anak-anak yang bekerja untuk mereka.







