Eskalasi Konflik Iran dan Amerika Serikat Mempengaruhi Sektor Otomotif di Indonesia

Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat baru-baru ini dinilai dapat memberikan dampak awal yang signifikan terhadap sektor otomotif di Indonesia. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak dunia serta aktivitas ekspor. Seorang ahli otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa jika harga minyak dunia mencapai USD 100 per barel, hal ini akan membebani biaya logistik dan berdampak pada harga BBM di dalam negeri.
“Untuk ekspor, 94 persen tujuannya ke ASEAN, termasuk Filipina dengan 165.450 unit, Vietnam dengan 52.180 unit, dan Amerika Latin dengan 56.450 unit. Kenaikan harga minyak membuat komponen utama ongkos kirim menjadi faktor semakin tipisnya profit margin perusahaan,” ujar Yannes kepada Infomalangraya.com, Selasa (3/3/2026).
Kawasan Timur Tengah juga merupakan salah satu destinasi penting bagi ekspor produk otomotif Indonesia. Menurut Yannes, pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan dampak ini.

“Jika harga minyak menembus USD 100, maka keuntungan mulai menipis bila harga per unit mobil tidak ikut naik. Semakin tinggi kenaikkan persentase minyak, semakin drastis menurunnya daya saing mobil buatan Indonesia di pasar ASEAN, terutama Amerika Latin,” jelasnya.
Belum lagi, kenaikan harga bahan bakar bisa memengaruhi pengguna kendaraan mesin bakar internal (internal combustion engine/ICE) untuk operasional harian. Jika harga BBM melonjak, misalnya Pertamax tembus Rp 15 ribu, maka kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV) akan terlihat lebih murah karena biayanya hanya 1/5 atau 1/6 dari mobil ICE.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menambahkan bahwa lonjakan harga minyak dunia saat ini sudah mencapai USD 82 per barel akibat antisipasi perang. Kenaikan ini berisiko menyeret harga BBM dalam negeri.

“Ya, saya kira Aramco salah satu dari banyak supplier yang menyuplai BBM tadi, yang sudah diolah di kilangnya Aramco tadi. Nah kalau Aramco kemudian berhenti beroperasi, saya kira masih ada dari tempat lain, artinya dari segi suplai itu nggak begitu masalah bagi Indonesia. Tapi justru yang menjadi masalah saat ini adalah mengenai harga,” ujar Fahmy kepada Infomalangraya.com, Selasa (3/3).
Ia menegaskan, pemerintah kini dihadapkan pada dilema besar, terutama untuk BBM subsidi. Jika harga tidak dinaikkan, beban subsidi akan membengkak dan menekan APBN. Sebaliknya, jika dinaikkan, daya beli masyarakat bisa terpukul.
“Kalau pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi, maka beban APBN itu subsidi itu akan semakin membengkak itu ya. Dan itu makin jelas tadi. Tapi kalau dinaikkan BBM subsidi tadi, itu sudah pasti akan menurunkan daya beli, kemudian juga akan memberikan beban bagi rakyat miskin semakin berat,” jelasnya.
Senada, Ekonom Celios Nailul Huda memproyeksikan harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi. Saat ini harga sudah berada di kisaran USD 79-80 per barel, dari sebelumnya sekitar USD 65 per barel pada awal Februari.
[BANNER-3]
“Bisa jadi, harga minyak global akan menyentuh di angka USD 120 per barel sama seperti ketika Rusia melakukan invasi ke Ukraina. Apa yang dilakukan US, sama saja seperti yang dilakukan Rusia ke Ukraina yang akan menyebabkan gejolak global,” ujarnya.
Harga BBM kompak naik per Maret 2026

Tiga hari sejak memasuki bulan Maret 2026, harga bahan bakar terpantau naik dari semua penyedia mulai Pertamina, Sheel, Vivo, hingga BP AKR. Melonjaknya banderol tidak hanya untuk jenis bensin, melainkan juga solar.
Untuk jenis bensin, rata-rata kenaikkan mencapai Rp 300-500. Paling tinggi adalah Pertamina Pertamax 92 dari semula Rp 11.800 menjadi Rp 12.300. Untuk Shell Super naik Rp 320 menjadi Rp 12.390 per liternya, sama halnya Vivo Revvo 92 dan BP 92.
Sedangkan Pertamax Green 95 menjadi Rp 12.900 atau naik Rp 450 dan Pertamax Turbo Rp 13.100 naik Rp 400 dari sebelumnya. Sementara produk solar non subsidi seperti Dexlite Rp 14.200 atau naik Rp 950, Pertamina Dex Rp 14.500 (+Rp 1.000), V-Power Diesel Rp 14.620 (+Rp 1.020), Primus Plus Rp 14.610 (+Rp 1.010), dan BP Ultimate Diesel Rp 14.620 (+Rp 1.020).







