Persiapan PON 2028 di NTT
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengumumkan bahwa sebanyak 23 cabang olahraga akan dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Hal ini menjadi bagian dari persiapan yang dilakukan oleh KONI NTT untuk memastikan pelaksanaan PON berjalan dengan lancar dan sukses.
Sekretaris KONI NTT, Alfonsus Theodorus, menjelaskan bahwa NTT memiliki target untuk meraih 37 medali emas dan masuk 10 besar dalam PON tersebut. Angka ini didasarkan pada data dari PON sebelumnya, di mana diperlukan sekitar 20 hingga 22 cabang olahraga agar bisa mencapai peringkat 10 besar.
“Angka emas itu main di 20 sampai 22 (cabang olahraga) kalau mau masuk 10 besar,” ujar Alfonsus, Kamis (12/2/2026).
Selain itu, KONI NTT juga melakukan rapat konsolidasi bersama cabang olahraga yang memiliki peluang tinggi meraih medali emas. Rapat ini merupakan tindak lanjut dari rapat perdana pengurus KONI NTT sebelumnya. Dalam rapat tersebut, disusun rencana strategis agar masing-masing cabor dapat mempersiapkan diri secara optimal menuju PON 2028.
Rencananya, dari 23 cabor yang dipertandingkan, akan disebar di seluruh wilayah NTT. Misalnya, sepak bola putra direncanakan digelar di Kota Kupang, sedangkan sepak bola putri akan diadakan di Kabupaten Ende. Perencanaan ini telah disampaikan ke KONI Pusat dan akan didiskusikan dengan pihak daerah agar ada kesiapan anggaran APBD untuk mendukung pelaksanaan, terutama dalam hal persiapan sarana.
“Pak Ketum menginginkan supaya dari 23 cabor yang di kita itu. Kita sudah punya mapping tersebar di NTT,” katanya.
Di sisi lain, Provinsi NTB sebagai tuan rumah bersama akan mempertandingkan 24 cabor. Salah satu cabor, yaitu atletik, kemungkinan akan digelar di Jakarta karena minimnya sarana dan biaya pelaksanaan yang cukup besar di NTT. Meski demikian, penamaan cabor tetap berasal dari NTT dan NTB sebagai tuan rumah PON tahun 2028.
“Ada satu cabor yang kita geser mainkan di Jakarta, akuatik karena dari sisi pembiayaan cukup besar sekali, sarana prasarananya,” ujar Alfonsus.
Selain itu, cabor seperti angkat besi, tenis meja, dan selancar juga telah direncanakan untuk digelar di beberapa kabupaten. Alfonsus menyatakan bahwa pihaknya akan segera memanggil dan memberi informasi kepada KONI kabupaten untuk segera merumuskan rencana.
Venue dan Pengembangan Stadion Oepoi
KONI NTT telah meninjau beberapa venue di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang untuk pertandingan beberapa cabor. Venue yang ditinjau antara lain Grha Poltekkes Kupang, lapangan Unkris Kupang untuk pertandingan badminton dan volly, asrama haji, serta lapangan cricket di Kabupaten Kupang yang bisa digunakan untuk gaet ball.
“Nanti kita akan diskusi supaya ada pemerataan dengan Kabupaten sehingga PON ini bukan hanya sukses prestasi tapi sukses penyelenggaraan, sukses juga ekonomi dan tertopang oleh pariwisatanya,” ujarnya.
Salah satu proyek penting adalah pengembangan Stadion Oepoi. Saat ini, kapasitas stadion ini akan ditingkatkan dari 10 ribu orang menjadi 25 ribu orang. Pengembangan ini membutuhkan dana sebesar Rp 168 miliar dari APBN. Selain kapasitas, pengembangan ini juga mencakup lintasan bagi cabor atletik, sepakbola, area parkir, hingga ruang UMKM.
Pemerintah Provinsi NTT telah menyurati Kementerian Pemuda dan Olahraga. Koordinasi akan terus dilakukan oleh KONI NTT. Secara desain, pemerintah telah memiliki gambaran secara umum.
Sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto, tidak ada lagi pembangunan venue baru saat PON. Oleh karena itu, KONI NTT hanya melakukan pengembangan pada sarana yang sudah ada, termasuk di Stadion Oepoi.
“Ini akan diskusi supaya dalam waktu dekat optimalkan Stadion Oepoi supaya direncanakan pembukaan di situ nanti,” katanya.
Setelah penyelenggaraan PON, Stadion Oepoi akan dikelola oleh UPT sarana prasarana dari Dinas Pemuda dan Olahraga. Instansi ini akan menjaga fasilitas tersebut, sehingga bisa menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) yang dapat digunakan untuk merawat fasilitas tersebut.







