Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Melihat Proyeksi Penjualan Mobil Listrik di Tengah Kenaikan Harga BBM

    3 April 2026

    Nasib Jemaah Haji Indonesia di Tengah Konflik Iran vs Amerika-Israel

    3 April 2026

    Kasus Amsal Sitepu: Videografer Diduga Korupsi Proyek Desa, Kades Bingung

    3 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Jumat, 3 April 2026
    Trending
    • Melihat Proyeksi Penjualan Mobil Listrik di Tengah Kenaikan Harga BBM
    • Nasib Jemaah Haji Indonesia di Tengah Konflik Iran vs Amerika-Israel
    • Kasus Amsal Sitepu: Videografer Diduga Korupsi Proyek Desa, Kades Bingung
    • Parkir Tunai Dilarang, Surabaya Luncurkan Voucher Anti Palsu Bersama Peruri
    • OECD Kurangi Proyeksi Ekonomi, Pemerintah Siapkan Efisiensi
    • Kasus Amsal Sitepu: Tidak Ada Niat Curangi Uang Negara
    • Proyek PSEL Malang Dibangun di Pakis, Siapkan Lahan Tol
    • Kasus Campak Meningkat, Kemenkes Beri Peringatan Keras
    • Inovasi Pisang Lokal: Peluang Bisnis untuk Generasi Muda
    • Momen Piala Dunia: Tragedi Mineirazo dan Kekalahan 1-7 Brasil
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Tips»Melihat Proyeksi Penjualan Mobil Listrik di Tengah Kenaikan Harga BBM

    Melihat Proyeksi Penjualan Mobil Listrik di Tengah Kenaikan Harga BBM

    adm_imradm_imr3 April 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



    Infomalangraya.com, JAKARTA — Tren penjualan kendaraan listrik di Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini terjadi karena kenaikan harga minyak global akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Lonjakan harga minyak ini juga berpotensi meningkatkan biaya BBM di dalam negeri.

    Asosiasi Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) melihat situasi ini sebagai peluang emas bagi industri sepeda motor listrik. Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi menyatakan bahwa kenaikan harga minyak dunia dapat mendorong masyarakat beralih ke sepeda motor listrik untuk menghemat biaya operasional.

    “Ini adalah momen penting bagi industri sepeda motor listrik. Karena di tengah kondisi perang dan keterbatasan pasokan minyak, motor listrik akan semakin dibutuhkan,” ujar Budi kepada Bisnis, Minggu (29/3/2026).

    Konflik antara Iran dengan AS-Israel telah mendorong harga minyak Brent melebihi US$100 per barel. Situasi ini juga diikuti oleh pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp16.900 serta meningkatnya biaya logistik global.

    Budi menyebut sejumlah negara seperti Filipina, Australia, Kuba, dan India telah menghadapi kondisi darurat kelangkaan BBM. Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal bagi masyarakat Indonesia untuk mulai mempertimbangkan alternatif transportasi yang lebih ramah lingkungan.

    “Artinya, masyarakat perlu menyadari bahwa BBM sudah semakin sulit di beberapa negara, mungkin suatu saat juga melanda Indonesia, meskipun saat ini belum terdampak. Keterbatasan BBM itu pastinya harus ada pengganti lain untuk mobilitas, yaitu sepeda motor listrik,” jelasnya.

    Konversi Motor Listrik

    Di sisi lain, Aismoli mendukung rencana pemerintah mempercepat program konversi sepeda motor listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan konversi sekitar 120 juta sepeda motor konvensional menjadi kendaraan listrik.

    “Saya sudah bersurat juga ke Menteri ESDM bahwa Aismoli dengan 35 pabrik APM sepeda motor sudah siap menjadi mitra pemerintah untuk kebutuhan konversi sepeda motor bensin menjadi motor listrik,” jelasnya.

    Asosiasi juga mendorong pemerintah untuk memberikan insentif guna mempercepat program konversi. Pasalnya, biaya konversi dari mesin bensin ke motor listrik dinilai masih relatif tinggi bagi masyarakat.

    “Ya, kami harap juga pemerintah dapat memberikan bantuan. Karena biaya untuk konversi masih lumayan tinggi, sekitar Rp13 juta–Rp14 juta, dan kemudian baterainya juga mengharapkan ada baterai swap,” ujarnya.

    Budi menyebut populasi sepeda motor listrik di Indonesia saat ini berada di kisaran 250.000 hingga 300.000 unit. Namun, laju pertumbuhan segmen tersebut dinilai masih tertinggal dibandingkan mobil listrik.

    Menurutnya, tantangan terbesar adalah edukasi kepada masyarakat terkait efisiensi biaya operasional motor listrik dibandingkan kendaraan konvensional. Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya dan penukaran baterai juga dinilai penting agar konsumen semakin yakin beralih ke motor listrik.

    Penjualan Mobil Listrik

    Selain motor listrik, penjualan mobil listrik juga diprediksi bakal mengalami peningkatan di tengah isu kenaikan harga BBM. Pakar Otomotif dan Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, Indonesia perlu memperkuat ekosistem kendaraan listrik sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan impor BBM di tengah ketidakpastian global.

    “Percepatan ekosistem kendaraan listrik harus terus dipacu untuk memantapkan kedaulatan energi jangka panjang kita dari ketergantungan impor BBM,” ujar Yannes kepada Bisnis, dikutip Kamis (26/3/2026).

    Sejumlah jenama mobil listrik telah membangun pabriknya di Indonesia. Misalnya, BYD asal China saat ini tengah mempersiapkan pengoperasian fasilitas produksi mobil listrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas terpasang mencapai 150.000 unit per tahun yang ditargetkan mulai produksi dalam waktu dekat.

    Tak hanya itu, pabrikan asal Vietnam, VinFast juga telah merealisasikan investasi lebih dari US$300 juta dengan kapasitas produksi awal sekitar 50.000 unit per tahun. Pabrik VinFast yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, berdiri di atas lahan seluas 171 hektare.

    Dalam jangka menengah, VinFast menargetkan peningkatan investasi hingga mencapai US$1 miliar. Seiring dengan itu, kapasitas produksi direncanakan meningkat hingga 350.000 unit kendaraan per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.

    Stimulus Berlanjut

    Sementara itu, mengacu data Gaikindo, penjualan kendaraan elektifikasi yang mencakup mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV), mobil hibrida (hybrid electric vehicle/HEV) dan plug-in hybrid (PHEV) tembus 14.908 unit pada Januari 2026.

    Angka itu mengalami kenaikan signifikan 118,4% (year-on-year/YoY) dibandingkan periode Januari 2025 yang sebesar 6.826 unit. Capaian itu tak lepas dari sejumlah insentif dari pemerintah, hingga kian bertambahnya merek baru di Tanah Air.

    Kendati demikian, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan kebijakan insentif impor utuh atau completely built up (CBU) untuk kendaraan listrik berbasis baterai dihentikan pada akhir 2025.

    Ketentuan tersebut merujuk pada Peraturan Menteri Investasi Nomor 6/2023 junto Nomor 1/2024 yang menetapkan masa berlaku fasilitas impor dan relaksasi hingga 31 Desember 2025. Mulai 1 Januari 2026, produsen diwajibkan merealisasikan komitmen produksi lokal dengan skema 1:1 sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

    Di tengah transisi kebijakan itu, pelaku industri otomotif berharap pemerintah tetap menghadirkan stimulus lanjutan pada 2026. Harapan tersebut muncul seiring kinerja penjualan mobil yang hingga akhir 2025 masih berada dalam tekanan.

    Sales & Channel Development Director Geely Auto Indonesia Constantinus Herlijoso mengatakan, pelaku usaha membutuhkan kepastian kebijakan dari pemerintah guna menjaga kelangsungan dan kelancaran bisnis, khususnya di segmen kendaraan listrik.

    “Menjawab pertanyaan apakah insentif itu perlu? Ya, perlu. Karena secara bisnis, secara operasional kami membutuhkan kepastian,” ujar Herlijoso di JIExpo Kemayoran, belum lama ini.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Apakah Mobil Listrik Merusak Lingkungan? Cek Fakta Ini!

    By adm_imr3 April 20261 Views

    7 Tips Merawat Kesehatan Vagina, Bukan Hanya Bersih-bersih

    By adm_imr2 April 20262 Views

    Motor listrik Korea capai 120 km per isi daya, siap lawan dominasi China di Indonesia

    By adm_imr2 April 20264 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Melihat Proyeksi Penjualan Mobil Listrik di Tengah Kenaikan Harga BBM

    3 April 2026

    Nasib Jemaah Haji Indonesia di Tengah Konflik Iran vs Amerika-Israel

    3 April 2026

    Kasus Amsal Sitepu: Videografer Diduga Korupsi Proyek Desa, Kades Bingung

    3 April 2026

    Parkir Tunai Dilarang, Surabaya Luncurkan Voucher Anti Palsu Bersama Peruri

    3 April 2026
    Berita Populer

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    Kabupaten Malang 27 Maret 2026

    Kabupaten Malang— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang tengah menyiapkan perubahan status dua Unit Pelaksana Teknis…

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Halal Bihalal Dinkes Kab. Malang, Bupati Sanusi Bahas Puskesmas Resik dan Tunggu Kebijakan WFH

    27 Maret 2026

    Buka Musrenbang RKPD 2027, Wali Kota Malang Tekankan Kolaborasi dan Pembangunan Inklusif

    31 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?