Alih-alih lebih menahan diri, selama bulan Ramadhan kita justru menjadi pribadi yang lebih boros dan konsumtif dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Masa Puasa yang Justru Menguras Dana
Pada dasarnya, makna terdalam dari puasa adalah menahan. Menahan dari lapar dan haus, dari hawa nafsu, dari amarah, dan harusnya juga menahan dari perilaku boros. Namun, pada kenyataannya, di bulan yang suci ini, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang justru lebih boros, pengeluaran membengkak, belanja gila-gilaan, dan lain sebagainya. Mengapa manusia justru lebih boros selama bulan puasa?
Menurut data Nielsen NIQ, rata-rata pengeluaran rumah tangga di Indonesia pada Ramadhan 2024 ternyata 1,2 kali lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Hal ini tidak hanya terlihat dari peningkatan pengeluaran untuk makanan dan minuman, tetapi juga untuk pakaian dan kebutuhan lainnya. Perilaku boros ini juga bisa dilihat dari timbunan sampah yang semakin meningkat dibanding bulan-bulan lainnya. Sampah yang menumpuk biasanya berkorelasi dengan sikap hidup konsumtif yang relatif tinggi.
Peningkatan Volume Sampah Selama Ramadhan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun lalu pernah melakukan asesmen terkait perilaku masyarakat selama Ramadhan dan Idulfitri di wilayah Bandung Raya. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan volume sampah hingga 40 persen selama bulan puasa dan hari raya. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh penyajian makanan berlebih, meningkatnya konsumsi parcel, serta penggunaan alat makan sekali pakai. “Peningkatan sampah plastik dan styrofoam serta sampah organik sebesar 42,2 persen,” ungkap Sumaryati, peneliti BRIN.
Overbuying dan Fenomena Pinjaman Online
Yang juga menjadi perhatian selama bulan Ramadhan adalah overbuying alias pembelian yang berlebihan. Menurut pakar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, Megawati Simanjuntak, kondisi ini berlawanan dengan esensi puasa yang sejatinya mengajarkan kesederhanaan. “Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadan dan lebih banyak membawa dampak negatif,” jelasnya.
Selain itu, fenomena pinjaman online (pinjol) juga meningkat selama bulan Ramadhan. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tren kenaikan pinjol ini terjadi dalam dua tahun berturut-turut, yakni pada Ramadhan 2024 dan 2025. Sebagian besar digunakan untuk pendanaan yang sifatnya konsumtif. Menurut dosen Ilmu Ekonomi Syariah IPB University, Ranti Wiliasih, fenomena maraknya pinjol saat Ramadhan cenderung dipengaruhi oleh rasa FOMO (fear of missing out), keinginan mengikuti tren, serta kecenderungan meniru gaya hidup orang lain. “Sebagian besar pinjol digunakan untuk kebutuhan konsumtif, bukan produktif, sehingga berpotensi menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari,” ungkap Ranti.
Dua Alasan Utama Kenapa Konsumsi Meningkat
Ratna Arunika dalam tulisannya berjudul “Paradoks Konsumsi di Bulan Ramadhan, Antara Ketaqwaan dan Ilusi Kelimpahan” menyoroti dua poin kenapa tingkat konsumsi umat Islam di bulan Ramadhan justru meningkat tajam.
Pertama adalah lapar mata. Saat kita menahan lapar, pikiran kita tertuju pada jenis makanan apa yang akan kita makan saat berbuka nanti. Kondisi emosional ini membuat kita menjadi “lapar mata”. Padahal, yang muncul sering kali bukan lapar fisik, melainkan dorongan emosional untuk mengunyah dan merasakan.
Saat kita berpuasa, produksi ghrelin (hormon lapar) dalam lambung meningkat dan mencapai puncaknya menjelang waktu berbuka puasa. Dalam kondisi itu, hormon tersebut akan memberi sinyal ke otak bahwa tubuh butuh energi. Efek dari produksi hormon lapar itu adalah perilaku makan yang berlebihan ketika berbuka.
Kedua adalah ilusi keberlimpahan. Terlalu banyak pilihan makanan yang ditawarkan di sekitar kita menjelang berbuka membuat kita sulit menentukan prioritas utama kebutuhan yang kita perlukan. Inilah yang disebut dengan paradoks pilihan. Membuat keputusan pembelian berdasarkan emosional sesaat.
Belum lagi promo digital dan flash sale yang berseliweran di media sosial dan diskon yang terkesan gila-gilaan yang memberi perasaan “puas” saat kita bisa men-checkout-nya lebih dulu dibanding orang lain. Tentu saja ini akan membuat pengalaman belanja terasa lebih menyenangkan dan lebih dari itu, bikin nagih.
Kesimpulan
Begitulah kenapa selama bulan Ramadhan, alih-alih menjadi pribadi yang irit, kita justru berubah menjadi sosok yang lebih boros dibanding bulan-bulan sebelumnya.







