Masa Depan Ramadan di Era Digital
Saat ini, kita sedang memasuki sebuah era di mana keheningan menjadi barang mewah yang paling mahal harganya. Tahun 2026 ini disambut bukannya oleh kedamaian, melainkan oleh hiruk pikuknya digital yang kian agresif. Di saku kita, algoritma kecerdasan buatan (AI) bekerja 24 jam sehari tanpa henti. Memanen perhatian setiap individu yang memilikinya dan menguras energi mental kita hingga ke titik nadir.
Menjelang Ramadan 1447 Hijriah ini, masyarakat dunia termasuk Indonesia sedang berada dalam kondisi yang “lelah jiwa”. Kita baca dari data World Mental Health Report 2025 menunjukkan bahwa tingkat stres akibat digital burnout meningkat 40 persen dalam dua tahun terakhir ini. Kita tidak lagi sekadar menggunakan internet, kita telah tenggelam jauh di dalamnya. Sebentar lagi Ramadan akan datang yang seharusnya menjadi momen jeda, sering kali justru bertransformasi menjadi puncak dari “kebisingan” tersebut. Kita saksikan bersama konten flexing menu berbuka yang mahal, perdebatan kusir di kolom komentar, hingga banjir notifikasi diskon belanja Lebaran membuat esensi puasa terdistorsi.
Jika puasa di abad ke-7 adalah tentang menahan lapar dari terbit fajar hingga terbenam matahari, maka puasa di tahun 2026 disinyalir memiliki urgensi baru yang lebih eksistensial yakni puasa dari layar (digital detox). Inilah saatnya kita menggugat kembali diri kita sendiri, apakah puasa kita selama ini dan yang akan datang benar-benar membersihkan jiwa atau sekadar memindahkan lokasi konsumtif kita dari meja makan ke layar ponsel kita?
Waspada Patologi “Overstimulation” di Bulan Suci Ramadan
Secara patologis, otak manusia tidak dirancang untuk menerima stimulasi tanpa henti. Tahun 2026 ditandai dengan masifnya konten video pendek yang memicu lonjakan dopamin secara instan dan artifisial. Akibatnya, kemampuan kita untuk fokus (attention span) menurun drastis. Bayangkan saja, rata-rata manusia hanya mampu fokus selama 8 detik, lebih pendek dari daya ingat ikan mas koki.
Kondisi inilah akan menciptakan “spiritualitas yang dangkal”. Bagaimana mungkin kita bisa mencapai derajat khusyuk dalam salat atau tadabur Al-Qur’an, jika pikiran kita masih terikat pada notifikasi yang belum dibuka? Kritik tajam harus diarahkan pada cara kita beragama di era digital ini, kita sering kali lebih sibuk memotret sajadah daripada bersujud di atasnya. Kita lebih peduli pada sudut pandang kamera yang kita gunakan saat sedekah daripada sudut pandang Sang Pencipta alam semesta terhadap niat kita. Oleh karenanya, Ramadan di era digital saat ini telah terjebak dalam “industri citra”, di mana kesalehan seseorang di ukur dari engagement media sosialnya, bukan dari perubahan karakter (akhlak) yang ia miliki dan ditampilkan dalam kehidapan nyata yang konsisten.
Ada sebuah fakta di lapangan yang memprihatinkan, misal durasi penggunaan media sosial masyarakat Indonesia di bulan Ramadan justru sering kali meningkat dibandingkan bulan-bulan biasanya. Alasannya tentu sangat klasik, yakni “untuk membunuh waktu”, maksudnya menunggu berbuka (ngabuburit). Inilah ironi terbesar itu. Ramadan adalah bulan di mana waktu seharusnya menjadi sangat sakral dan bernilai premium, namun justru kita mencoba “membunuhnya” dengan menggulirkan jari di layar tanpa tujuan yang positif dan nilai ibadah.
Hubungan Ketenangan Spiritual dan Kesehatan Mental
Tulisan ini mengajak kita semua secara psikologis, agar puasa layar selama Ramadan. Hal ini adalah bentuk pengobatan mandiri yang paling efektif untuk anxiety (kecemasan) dan depresi ringan. Dalam ajaran Islam, konsep uzlah atau mengasingkan diri sejenak dari keramaian adalah tradisi para nabi untuk mendapatkan wahyu dan kejernihan berpikir. Ramadan adalah uzlah massal yang diwajibkan untuk kita semua orang-orang yang beriman dan fokus dan bersama menuju takwa.
Saat kita berhenti membandingkan hidup kita dengan kurasi kehidupan orang lain di Instagram atau TikTok, kadar kortisol (hormon stres) dalam tubuh akan menurun secara alami. Ketenangan spiritual yang didapat melalui zikir dan keheningan malam (tahajud) yang kita lakukan bertindak sebagai jangkar bagi kesehatan mental tubuh dan jiwa kita.
Pada Ramadan tahun 2026, di mana realitas sering kali tertutup oleh fatamorgana meta dunia. Kembali ke “diri yang autentik” kita masing-masing melalui sunyinya puasa digital adalah sebuah tindakan revolusioner yang nyata untuk kita umat muslim. Kita sangat membutuhkan momen di mana kita benar-benar hadir secara fisik dan batin mindfulness tanpa ada layar yang menghalangi antara hamba dengan Sang Penciptanya.
The 30-Day Digital Reset
Menghadapi Ramadan 2026 sebentar lagi, kita memerlukan strategi yang lebih dari sekadar niat. Kita butuh “trik jitu” untuk melakukan rehabilitasi mental kita. Penulis mencoba memberikan solusi itu, setidaknya:
- Metode 20-80 digital. Gunakan hanya 20 persen waktu layar untuk hal yang benar-benar produktif atau mendesak, dan alokasikan 80 persen waktu sisanya untuk interaksi fisik dan spiritual. Matikan semua notifikasi non-manusia (promosi, berita hoaks, tren).
- Zona bebas gadget (ZBG). Tetapkan masjid, ruang makan saat berbuka, dan kamar tidur setelah Tarawih sebagai zona bebas ponsel. Rasakan kembali hangatnya percakapan manusiawi tanpa interupsi cahaya biru dari layar.
- Tadabur analog. Kembalilah membaca Al-Qur’an dalam bentuk fisik (mushaf). Menghilangkan ketergantungan pada aplikasi Al-Qur’an di ponsel selama Ramadan akan mengurangi godaan untuk berpindah ke aplikasi media sosial di tengah-tengah membaca.
- Infak langsung. Hindari pembayaran digital secara penuh jika memungkinkan. Hal ini untuk merasakan kembali sentuhan fisik kita saat memberikan sedekah langsung ke tangan mereka yang membutuhkan. Agar energi psikologis tidak hilang ketika kita bersedekah secara langsung. Ini bukan soal sekadar angka yang berkurang di saldo perbankan kita semata.
Sambut Ramadan 2026 dengan Target Fokus
Ramadan 2026 yang tinggal hitungan hari harus menjadi garis pembatas yang tegas bagi kita untuk memasukinya. Apakah kita akan terus menjadi masyarakat yang “terkoneksi tetapi kesepian” atau kita akan menjadi individu yang “terputus dari internet tetapi terhubung dengan semesta”?
Kita harus menyadari dan sesadar-sadaranya bahwa tantangan utama puasa kita tahun 2026 ini bukanlah nasi dan air semata atau hal lainnya yang dapat membatalkannya, melainkan ancaman layar yang bercahaya biru di telapak tangan kita sendiri. Layar itu telah mencuri waktu kita untuk merenung, waktu kita untuk menangisi dosa, dan waktu kita untuk benar-benar hadir bagi keluarga. Puasa layar bukan berarti membenci teknologi, melainkan menaruh teknologi di bawah telapak kaki kita. Hal ini dilakukan agar kita tidak diperbudak teknologi di bulan Ramadan yang berkah nantinya.
Saat hilal 1 Ramadan 1447 H terlihat di ufuk, mari kita buat sebuah perjanjian dengan diri sendiri. Kita akan log-out dari segala kepalsuan dunia maya ini. Kita segera untuk log-in ke dalam sistem operasi yang lebih luhur yakni suara hati nurani kita sendiri. Mari kita basuh jiwa yang lelah ini dengan keheningan ibadah. Biarkan otak kita beristirahat dari bombardir informasi yang banyak membawa mudaratnya dan biarkan hati kita mulai bekerja kembali menghirup oksigen spiritualitas.
Pada akhirnya, Idulfitri tahun 2026 yang kita tuju nantinya bukan sekadar baju baru yang bisa dipamerkan di feed media sosial, melainkan “fitrah” yang sejati sebuah kembalinya fungsi manusia sebagai makhluk yang berakal, berperasaan dan merdeka dari segala bentuk adiksi digital. Mari kita siapkan diri kita dan puasa-kan mata, jari kita dari layar. Agar mata batin kita bisa melihat cahaya Ilahi dengan lebih terang benderang. Semoga kita semua tergolong orang yang bertakwa.







