Kehidupan Mikayla yang Berjuang Melawan Penyakit Jantung
Mikayla, seorang anak berusia 8 tahun, menghadapi perjalanan hidup yang penuh tantangan sejak lahir. Di usia yang masih sangat muda, ia divonis menderita penyakit jantung bawaan. Awalnya, gejala yang dialaminya hanya muntah berulang hingga tujuh kali dalam sehari. Keluarga awalnya mengira itu gangguan pencernaan biasa.
Namun, saat warna muntahnya berubah menjadi biru dan tubuh serta bibirnya juga membiru, keluarga mulai panik. Mereka segera membawanya ke fasilitas kesehatan di Toboali. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter mencurigai adanya kelainan jantung. Hasil ekokardiografi akhirnya mengungkap diagnosis Tetralogy of Fallot (TOF), yaitu kelainan jantung bawaan berupa jantung bocor disertai penyempitan pembuluh darah menuju paru-paru.
Pada masa itu, Bangka Belitung belum memiliki dokter spesialis jantung anak. Keluarga harus merujuk ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita di Jakarta. Mikayla bahkan belum genap lima bulan ketika pertama kali dibawa ke ibu kota.
Perjalanan Panjang Menuju Operasi
Selama menunggu jadwal operasi, Mikayla hidup dalam pengawasan ketat. Bahkan tangis kecil saja bisa membuat bibir, lidah, dan jari-jarinya membiru akibat kekurangan oksigen. Tumbuh kembangnya terhambat, dan ia baru bisa berjalan mendekati usia dua tahun.
Cobaan yang lebih berat datang ketika Mikayla tiba-tiba pingsan dan tak sadarkan diri hampir dua jam. Setelah berpindah beberapa rumah sakit di Bangka, dokter mencurigai adanya infeksi serius di otak. Ia dirujuk ke RSUP Mohammad Hoesin Palembang, dan hasil CT scan menunjukkan ada abses di otak. Operasi pengangkatan abses dilakukan setelah kondisi darahnya stabil.
Setelah pemulihan yang memakan waktu hampir dua bulan, operasi jantung menjadi prioritas mutlak. Pada usia enam tahun, Mikayla kembali ke Jakarta melalui rujukan BPJS Kesehatan. Awal 2023, operasi jantung terbuka akhirnya dilakukan. Selama sembilan jam, dokter menutup kebocoran jantung sekaligus memperbaiki penyempitan pembuluh darahnya.
Komplikasi Baru dan Solusi Medis
Setelah operasi, muncul komplikasi baru: aritmia atau gangguan irama jantung. Meskipun diberi obat, kondisi Mikayla tidak membaik. Dokter akhirnya menyarankan pemasangan alat pacu jantung permanen (pacemaker/PPM). Prosedur ini dilakukan melalui kateterisasi kurang dari dua jam. Dokter memilih tipe single chamber, sesuai dengan usia dan kondisi jantung Mikayla.
Biaya alat tersebut sekitar Rp85 juta, dan kembali ditanggung BPJS. Kini, setiap detak jantung Mikayla dibantu oleh alat kecil di dalam tubuhnya. Menurut ayahnya, Hendi, alat tersebut seperti baterai yang menyediakan energi untuk jantung.
Kehidupan Sehari-hari Mikayla
Pagi hari itu, Mikayla berangkat sekolah bersama ibunya dan adik kecilnya. Tas pink tergantung di punggungnya saat ia duduk di belakang motor, memegang bagian belakang jok dengan tubuh tegak. Ia tertawa sepanjang jalan, menunjukkan bahwa ia tetap ceria meski harus menggunakan alat medis.
Hendi, ayahnya, mengatakan bahwa BPJS Kesehatan telah menjadi penolong besar bagi keluarga mereka. Semua biaya operasi, baik jantung maupun otak, serta pemasangan PPM, ditanggung sepenuhnya oleh program tersebut.
Anggaran Terbesar untuk Penyakit Jantung
Terpisah, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pangkalpinang, Apt. Aswalmi Gusmita, MSM., AAK, menjelaskan bahwa penyakit jantung kronis menjadi penyerap anggaran terbesar BPJS Kesehatan Bangka Belitung. Total biaya mencapai lebih dari Rp53 miliar, atau lebih dari setengah dari total dana Rp96,075 miliar yang dialokasikan untuk penyakit kronis pada tahun 2025.
Dominasi biaya ini menegaskan bahwa penyakit jantung bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga tantangan finansial terbesar bagi program JKN di Bangka Belitung. Posisi kedua ditempati stroke dengan anggaran sekitar Rp14,9 miliar, diikuti kanker Rp14,4 miliar, sementara gagal ginjal dan thalassemia masing-masing menelan Rp5–6 miliar.
Konsep Gotong Royong dalam Program JKN
Aswalmi menjelaskan bahwa konsep gotong royong menjadi pilar utama program JKN. Pasien yang membutuhkan perawatan mahal tidak bisa membiayai sendiri. Dukungan masyarakat yang sehat melalui iuran memastikan layanan tetap tersedia bagi pasien yang membutuhkan, terutama pasien jantung kronis.
Menurutnya, peserta yang sehat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan program, karena iuran yang dibayarkan menjadi penopang bagi peserta yang sedang sakit dan membutuhkan biaya besar. Ia menegaskan bahwa narasi “saya tidak sakit jadi tidak perlu bayar iuran” atau “saya belum sakit jadi tidak perlu mendaftar” tidak tepat. JKN justru dibangun agar semua saling membantu. Yang sehat membantu yang sakit, dan ketika yang sehat itu sakit, sistem akan bekerja sebaliknya.







