Seminar Inspiratif Universitas Mahkota Tricom Unggul
Universitas Mahkota Tricom Unggul (MTU) menggelar seminar inspiratif bertajuk “One Vision, One Team: Menyatukan Energi untuk Masa Depan Universitas Mahkota Tricom Unggul.” Acara ini berlangsung di Kampus MTU Gedung Grand Jati Junction Lt. 24 Jalan Perintis Kemerdekan No. 3A Medan, Sabtu 7 Maret 2026.
Seminar ini menghadirkan pembicara internasional, Suresh Govind, yang merupakan profesor dari University of Malaya serta Advisor di Asia Pacific Sathya Sai Institute for Human Values Education, Singapura. Rektor Universitas MTU, Dr. Dompak Pasaribu, S.E., M.Si., CPA., CACP., menjelaskan bahwa tujuan seminar ini adalah untuk memperkuat kesamaan visi dan kolaborasi seluruh sivitas akademika dalam menghadapi perubahan dan tantangan global yang semakin kompleks.
Melalui seminar ini, Universitas MTU berharap seluruh sivitas akademika dapat memiliki satu visi dan satu semangat kebersamaan dalam membangun masa depan universitas. Dengan menyatukan energi dan memperkuat kolaborasi, universitas diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif, humanis, dan relevan dengan tantangan global di masa depan.
Pembicara Prof. Suresh Govind dalam paparannya menyoroti lima pengganggu global utama yang saat ini memengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan tinggi. Kelima faktor tersebut meliputi perkembangan teknologi, keterlibatan tenaga kerja dan restrukturisasi bakat, konsumerisme, pergeseran geopolitik, serta perubahan iklim.
Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan seperti ChatGPT, membawa dampak besar terhadap cara manusia belajar, berpikir, dan bekerja. Prof. Suresh juga mengutip sebuah penelitian dari Massachusetts Institute of Technology yang dirilis pada 23 Juni 2025. Penelitian tersebut melibatkan 54 responden berusia 18–39 tahun yang diminta menulis esai menggunakan tiga metode berbeda: dengan bantuan ChatGPT, menggunakan mesin pencari Google, dan tanpa bantuan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pengguna ChatGPT memiliki tingkat keterlibatan otak paling rendah. Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah “demensia digital,” yaitu kondisi penurunan kemampuan kognitif akibat ketergantungan pada chatbot berbasis AI.
Selain tantangan teknologi, Prof. Suresh juga membahas krisis akademik global yang tengah dihadapi oleh banyak universitas. Ia menyoroti adanya ketidaksesuaian antara kompetensi yang diajarkan di perguruan tinggi dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Banyak pemberi kerja melaporkan bahwa lulusan baru masih kurang memiliki keterampilan dasar seperti menulis email secara jelas, mengelola proyek, bekerja secara kolaboratif, serta disiplin dalam manajemen waktu.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Suresh juga mengutip pemikiran dari George Bernard Shaw yang menyatakan bahwa “mereka yang tidak dapat mengubah pikirannya tidak dapat mengubah apa pun.” Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi tantangan masa depan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberhasilan mencapai tujuan tidak hanya bergantung pada niat sadar, tetapi juga dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar yang memiliki kekuatan lebih besar. Otak manusia secara alami cenderung mencari kenyamanan, keamanan, otomatisitas, dan efisiensi, sehingga proses perubahan sering kali dianggap sebagai ancaman. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran kepemimpinan serta komitmen kuat untuk terus beradaptasi dan berkembang.
Dalam konteks pendidikan tinggi, Prof. Suresh menekankan pentingnya pengembangan berbagai kompetensi bagi mahasiswa, seperti kemampuan beradaptasi, ketahanan, berpikir kritis, kreativitas, serta literasi digital dan kemahiran AI. Selain itu, keterampilan interpersonal seperti komunikasi efektif, kolaborasi tim, kecerdasan emosional (EQ), dan kesadaran budaya global juga menjadi kunci penting dalam menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.
Tidak hanya mahasiswa, para dosen juga dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui penguasaan berbagai alat digital, integrasi pembelajaran daring dan hibrida, serta penggunaan data dalam proses pengajaran. Peran dosen saat ini telah berkembang dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang aktif, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan dunia nyata.
Seminar ini juga menyoroti fenomena dehumanisasi akademik, sebuah kondisi di mana mahasiswa dan akademisi dipandang semata-mata sebagai alat produksi ekonomi. Pandangan ini dikritisi oleh Khairuddin Al Junied yang menekankan pentingnya melihat mahasiswa dan akademisi sebagai individu yang memiliki nilai intelektual, moral, dan kemanusiaan yang berperan dalam transformasi social.
Acara seminar diakhiri dengan buka puasa bersama dengan sivitas akademika Universitas MTU.







