Perintah Puasa dalam Al-Qur’an
Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perintah puasa diturunkan pada tahun dua Hijriyah melalui ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hal ini, Ustaz Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I, Ketua Majlis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten Jawa Tengah sekaligus Ketua Formaqi menjelaskan bahwa perintah puasa memiliki makna mendalam dan berbagai manfaat bagi umat manusia.
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Perintah puasa ini membawa kebaikan yang luar biasa, karena para ulama menyatakan bahwa puasa adalah ibadah dengan pahala tanpa batas. Hal ini diambil dari hadis qudsi, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan langsung membalasnya.”
Secara bahasa, puasa berarti al-imsak, yaitu menahan diri. Sementara secara istilah, puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.
Tujuan Puasa dalam Kehidupan
Dari rangkaian ayat tentang puasa, yaitu ayat 183–187, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan paling tidak ada tiga tujuan atau manfaat yang ingin didapatkan melalui puasa ini.
- Pertama: Agar kalian bertakwa.
- Kedua: Agar kalian bersyukur.
- Ketiga: Agar mereka menjadi orang-orang yang cerdas.
Puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus. Puasa bukan untuk lapar kita, bukan untuk haus kita, bukan cuma sekadar menggugurkan kewajiban dan keluar dari rutinitas. Puasa memiliki tujuan yang ingin kita raih, yaitu agar meraih takwa, mendapatkan syukur, dan benar-benar menjadi cerdas dalam menjalani hidup.
Arti Takwa dalam Kehidupan
Agar kita bertakwa, maksudnya apa? Takwa, kata para ulama, artinya hati-hati. Takwa artinya takut hati-hati dalam menjalani hidup. Diumpamakan seperti kita berjalan di tengah onak dan duri, maka kita akan sangat berhati-hati agar kaki kita tidak terinjak duri-duri itu. Begitulah kita menjalani hidup dengan takwa: sangat hati-hati agar jangan sampai ada perintah Allah yang terlalaikan, jangan sampai ada hak istri yang tidak diberikan, jangan sampai ada hak orang tua yang tidak kita tunaikan, jangan sampai ada hak anak yang tidak kita penuhi dengan sebaik-baiknya, dan jangan sampai ada hak orang lain yang tidak kita berikan.
Kita menjaga diri betul-betul, jangan sampai ada perintah yang tidak kita laksanakan dan jangan sampai ada larangan yang kita terjang. Itulah takwa. Ketakwaan ini pada akhirnya menjadi inti dari seluruh rangkaian ajaran dalam Islam, yaitu terdapat pada kata ittaqillah bertakwalah kepada Allah. Artinya hati-hati, laksanakan perintah, disiplin, tanggung jawab, dan semua kebaikan itu tersirat dalam kata takwa tersebut.
Manfaat Bersyukur dalam Puasa
Kemudian melalui puasa kita dididik menjadi seorang yang bersyukur. Bersyukur artinya menghargai setiap nikmat yang kita dapatkan. Kita tahu siapa yang memberi nikmat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu kita gunakan nikmat itu sesuai dengan perintah Allah. Ketika kita mampu menghargai nikmat, sekecil apa pun nikmat yang datang, kita akan berterima kasih kepada yang memberinya. Berbeda jika kita tidak menyadari dan tidak menghargai nikmat. Dapat satu dunia, dapat emas satu ton sekalipun, kalau dalam hati ada rasa rakus, tamak, tidak puas dan tidak bersyukur, maka semua itu hanya akan menjadi hampa.
Melalui puasa kita dididik untuk menjadi orang yang bersyukur. Kita bisa menikmati segelas air, sebutir kurma, sesuap nasi. Makanan yang datang akan sangat kita hargai, karena kita melalui proses pendidikan yang panjang. Dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita bersyukur kecuali pada saat itu Allah ingin menambah nikmat-Nya kepada kita.
Kecerdasan dalam Hidup
Dan yang berikutnya, kita menjadi orang-orang yang ar-rasyidun, orang yang pintar, orang yang cerdas dalam menjalani kehidupan. Bagaimana wujud kecerdasan itu? Apakah dinilai dari materi, angka, prestasi, titel, atau penghargaan? Bukan. Dalam Surah Al-Hujurat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Allah menjadikan kalian mencintai keimanan dan menjadikannya indah di dalam hati kalian, serta menjadikan kalian benci kepada kemaksiatan dan kedurhakaan.
Ketika ada rasa benci kepada kejahatan, benci kepada kefasikan, benci kepada pelanggaran, kemudian cinta kepada kebaikan, mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, membedakan antara yang milik kita dan bukan milik kita—mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka itulah orang-orang yang pintar.
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, dan mampu memutuskan untuk tetap berada di jalan kebenaran dalam kondisi apa pun.
Kesimpulan
Banyak sekali hikmah puasa yang bisa kita rasakan dalam kehidupan kita. Kita berharap Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan terbaik kita. Keluar dari Ramadhan, kita menjadi insan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.







