Nestle Perkenalkan Sistem Evaluasi Kinerja yang Lebih Ketat
Perusahaan makanan ternama asal Swiss, Nestle, mengumumkan penerapan sistem pengukuran kinerja baru yang lebih ketat untuk seluruh karyawannya. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi transformasi perusahaan yang dipimpin oleh CEO Philipp Navratil. Tujuan utamanya adalah meningkatkan efisiensi operasional dan memulihkan pertumbuhan volume penjualan di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat.
Sistem evaluasi kinerja yang diperkenalkan kali ini memiliki enam tingkatan penilaian, dibandingkan sebelumnya yang hanya tiga level. Dengan adanya perubahan ini, karyawan yang dinilai “teladan” akan mendapatkan insentif finansial hingga 150 persen dari target bonus mereka, meningkat dari batas sebelumnya yang hanya 130 persen. Di sisi lain, karyawan dengan kinerja “tidak memuaskan” hanya akan menerima bonus minimal antara 0 hingga 50 persen.
Penerapan standar yang lebih ketat ini bertujuan untuk menciptakan budaya akuntabilitas yang lebih kuat. Setiap individu diharapkan memberikan dampak nyata terhadap keuntungan perusahaan. CEO Nestle, Philipp Navratil, menekankan bahwa Real Internal Growth (RIG) menjadi syarat utama dalam pemberian bonus. Ini merupakan batas minimal yang harus dipenuhi agar bonus dapat dicairkan.
Selain itu, bonus para pemimpin fungsional juga dikaitkan dengan kinerja grup secara keseluruhan. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong kolaborasi lintas departemen. Dengan penyederhanaan proses evaluasi dan umpan balik, Nestle berharap bisa menciptakan sistem yang transparan sekaligus memotivasi talenta terbaik.
Nestle Mengurangi 16 Ribu Pekerja untuk Efisiensi Organisasi
Nestle merencanakan pengurangan 16 ribu tenaga kerja global atau sekitar 6 persen dari total karyawannya. Langkah ini dilakukan secara bertahap selama dua tahun ke depan. Pengurangan tersebut mencakup 12 ribu posisi di sektor korporat dan 4 ribu posisi di unit manufaktur serta rantai pasokan. Selain itu, Nestle menaikkan target penghematan biaya operasional menjadi 3 miliar franc Swiss (Rp65,5 triliun) pada akhir tahun 2027.
Keputusan ini diambil untuk menyederhanakan struktur organisasi yang dinilai terlalu kompleks dan lamban dalam merespons perubahan tren konsumen global. CEO Nestle, Philipp Navratil, menekankan bahwa langkah ini sangat diperlukan agar perusahaan menjadi lebih lincah dan mampu mengambil keputusan dengan cepat tanpa hambatan birokrasi.
Dunia terus berubah, dan Nestle harus bergerak lebih cepat. Hal ini termasuk mengambil keputusan sulit untuk mengurangi jumlah karyawan dalam dua tahun ke depan. Restrukturisasi ini juga memprioritaskan pemanfaatan teknologi otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi di berbagai lini bisnis.
Pemangkasan biaya ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan margin keuntungan, tetapi juga untuk memberikan ruang finansial bagi investasi pemasaran dan inovasi produk unggulan. Selain tantangan internal, Nestle saat ini menghadapi tekanan eksternal berupa kenaikan harga bahan baku seperti kopi dan kakao, serta kebijakan tarif perdagangan internasional. Dengan merampingkan organisasi, manajemen berharap dapat melindungi profitabilitas perusahaan sembari tetap menawarkan harga yang kompetitif bagi para pelanggan di seluruh dunia.
Nestle Fokus pada Empat Pilar Bisnis Utama dan Melepas Unit Es Krim
Nestle secara resmi menetapkan empat pilar utama sebagai penggerak pertumbuhan perusahaan di masa depan, yaitu kopi, perawatan hewan peliharaan, nutrisi dan kesehatan, serta makanan dan camilan. Sebagai langkah nyata, perusahaan melepas unit bisnis yang dinilai kurang strategis, termasuk rencana penjualan bisnis es krim di luar AS kepada mitra ventura, Froneri.
Strategi ini diambil agar Nestle dapat mengelola sumber daya dengan lebih efisien pada kategori produk yang memberikan keuntungan paling besar. CEO Nestle, Philipp Navratil, menjelaskan bahwa bisnis es krim memiliki kerumitan pada rantai pasok dan permintaan musiman yang tidak sejalan dengan prioritas perusahaan saat ini.
Selain es krim, Nestle juga sedang dalam proses melepaskan portofolio air minum kemasan premium, seperti Sanpellegrino dan Perrier, serta meninjau penjualan beberapa merek vitamin tertentu. Penyederhanaan ini juga terlihat dari pengurangan jumlah merek yang didukung oleh promosi media, dari semula 400 merek menjadi hanya 150 merek pada tahun 2026.
Rangkaian strategi ini diharapkan dapat memperkuat kondisi keuangan perusahaan dan mengurangi beban utang yang mencapai 51,4 miliar franc Swiss (Rp1,1 kuadriliun) pada akhir tahun 2025. Dengan fokus pada empat pilar utama, Nestle menargetkan pertumbuhan organik sebesar 3 hingga 4 persen pada tahun 2026 melalui inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen modern.









