Program Regenerasi Atlet sebagai Fondasi Persiapan Paralimpiade 2028
Program regenerasi atlet yang dijalankan oleh Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (NPC) bersama pelatnas jangka panjang Kementerian Pemuda dan Olahraga menjadi fondasi utama dalam persiapan menuju Paralimpiade 2028. Sinergi antara dua program ini membentuk sistem pembinaan berjenjang, mulai dari usia dini hingga level elite internasional.
Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia, Rima Ferdianto, menjelaskan bahwa kombinasi program pencarian bibit atlet dari NPC dengan pelatnas jangka panjang Kemenpora bertujuan untuk proyeksi Paralimpiade 2028. “Kami menggabungkan program pencarian bibit atlet dari NPC dan pelatnas jangka panjang Kemenpora agar bisa membangun sistem pembinaan yang lebih terstruktur,” ujarnya dalam konferensi pers daring di Jakarta, Sabtu, 24 Januari 2026.
Menurut Rima, melalui program regenerasi 2025, NPC telah berhasil menjaring sekitar 3.000 bibit atlet remaja dari 35 provinsi. Dari jumlah tersebut, atlet yang masuk kategori sangat berbakat langsung diproyeksikan ke level kompetisi lebih tinggi, termasuk Asian Para Games.
Contoh nyata integrasi program tersebut dapat dilihat pada cabang angkat berat. Seorang atlet yang baru masuk pelatnas pada Desember mampu meraih medali emas di ASEAN Para Games 2025. Menurut Rima, penggabungan program ini ditujukan untuk mempercepat regenerasi atlet, terutama sebagai pengganti atlet senior yang mendekati akhir masa kompetitif.
Prioritas Atlet Berpotensi Medali
Ke depan, NPC akan memprioritaskan atlet yang berstatus berpotensi medali pada Asian Para Games dan Paralimpiade untuk mengikuti pelatnas berkelanjutan. ASEAN Para Games tetap ditempatkan sebagai tahap awal pembinaan internasional. “ASEAN Para Games kami jadikan batu loncatan untuk peningkatan prestasi ke level berikutnya,” ujar Rima.
Hingga hari ketiga ASEAN Para Games 2025, kontingen Indonesia telah mengumpulkan 69 medali emas, 76 perak, dan 69 perunggu. Ajang tersebut masih menyisakan dua hari pertandingan dengan total 205 nomor yang diikuti atlet Indonesia.
Pelatnas Jangka Panjang untuk Cabang Unggulan
Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, menyatakan bahwa pemerintah menjalankan pelatnas jangka panjang tanpa jeda bagi cabang olahraga unggulan yang diproyeksikan ke Olimpiade dan Paralimpiade. “Untuk cabang unggulan, pelatnas selalu berjalan jangka panjang,” katanya.
Surono menjelaskan, khusus untuk NPC Indonesia, Kemenpora menetapkan 10 cabang olahraga prioritas yang telah menjalani pelatnas berkelanjutan sejak 2024. Adapun cabang di luar itu, yang tidak dipertandingkan pada Asian Para Games dan Paralimpiade, mendapatkan pelatnas selama dua bulan.
Ia menambahkan, pada 2026 Kemenpora akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait persiapan Asian Para Games 2026 dan Paralimpiade 2028, termasuk pemetaan atlet berdasarkan tingkat prioritas.
Peran ASEAN Para Games dalam Kaderisasi
Chef de Mission Indonesia untuk ASEAN Para Games 2025, Reda Manthovani, menilai hasil ASEAN Para Games menjadi dasar penting untuk percepatan kaderisasi. Ia mendorong atlet muda berprestasi agar langsung masuk pelatnas, baik dengan dukungan pembiayaan pemerintah maupun nonpemerintah.
“Banyak atlet muda tampil melampaui perkiraan, khususnya di cabang para balap sepeda dan para renang. Mereka perlu segera masuk pelatnas,” kata Reda. Ia juga menilai atlet yang belum mencapai target, tetapi sudah diproyeksikan meraih medali—seperti pada cabang catur—tetap perlu mendapatkan pembinaan berkelanjutan.
Menurut Reda, waktu menuju Asian Para Games sudah ideal untuk memulai pelatnas, mengingat ajang tersebut akan digelar pada Oktober, sehingga atlet berprestasi di ASEAN Para Games dapat langsung melanjutkan ke pemusatan latihan.







