Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Hadiri Halalbihalal Muhammadiyah Jaksel, HNW: Perkuat Persaudaraan

    3 April 2026

    Amsal Sitepu Tersangkut Kasus Markup Proyek Video Desa, Kades Tak Pernah Diperiksa Inspektorat

    3 April 2026

    Sinyal Menakutkan Persebaya Surabaya Musim Depan Jika 6 Targetnya Terealisasi: 2 Posisi Kunci Kuat

    3 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Jumat, 3 April 2026
    Trending
    • Hadiri Halalbihalal Muhammadiyah Jaksel, HNW: Perkuat Persaudaraan
    • Amsal Sitepu Tersangkut Kasus Markup Proyek Video Desa, Kades Tak Pernah Diperiksa Inspektorat
    • Sinyal Menakutkan Persebaya Surabaya Musim Depan Jika 6 Targetnya Terealisasi: 2 Posisi Kunci Kuat
    • 10 Ide Bisnis untuk Waktu Luang Setelah Pensiun
    • Tarif Listrik Per KWh Berlaku Mulai 1 April 2026 untuk Pelanggan Subsidi dan Non-Subsidi
    • Hujan Es di Wonosobo, Tidak Seperti Batu Kerikil
    • Ramalan zodiak 31 Maret 2026: Kariermu, Keuangan, Cinta, dan Kesehatan
    • 30 Kata-kata Halal Bihalal untuk Guru: Santun dan Penuh Doa dalam Berbagai Kategori
    • Live SCTV Streaming TV Online Timnas Indonesia vs Bulgaria, Final Indosiar FIFA Series 2026
    • Cara Memilih 4 Jurusan Saat Daftar UTBK-SNBT 2026, Jangan Sampai Salah Isi
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Teknologi»Opini: Perang Jadi Hiburan di Era TikTok

    Opini: Perang Jadi Hiburan di Era TikTok

    adm_imradm_imr3 April 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perang di Era TikTok: Transformasi Propaganda dalam Ruang Algoritmik

    Di tengah konflik yang terus berlanjut antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, perang kini tidak lagi hanya berlangsung di medan fisik. Di era digital, perang telah beralih ke ruang algoritmik, tempat informasi dan narasi dibentuk oleh platform seperti TikTok. Platform ini, yang menjadi favorit generasi muda, kini menjadi arena baru bagi propaganda politik.

    TikTok bukan lagi sekadar tempat untuk menonton video lucu atau musik. Ia telah menjadi wadah untuk menyebarkan narasi-narasi emosional yang dirancang untuk memengaruhi opini publik. Berbeda dengan propaganda klasik yang menggunakan media massa terpusat, saat ini, propaganda bekerja melalui algoritma yang terdesentralisasi. Setiap pengguna menerima versi perang yang berbeda, sesuai dengan preferensi emosional mereka.

    Dalam pandangan Marshall McLuhan, medium TikTok tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara perang itu dipersepsikan. Perang kini dilihat sebagai hal yang cepat, visual, dan penuh emosi. Akibatnya, perang tidak lagi dipahami sebagai tragedi kemanusiaan kompleks, tetapi sebagai narasi sederhana tentang “pihak benar” dan “pihak salah”.

    Konten-konten di TikTok seringkali memiliki pola yang sama. Di satu sisi, ada video yang menunjukkan kehancuran wilayah dengan musik sedih dan teks naratif yang menggugah empati. Di sisi lain, video dari kubu lain menampilkan kemenangan militer atau keberanian tentara dengan musik heroik. Kedua realitas ini hidup berdampingan di platform yang sama, tetapi jarang bertemu karena batasan logika algoritma.

    Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai hiperealitas. Dalam konteks ini, representasi tidak lagi mencerminkan realitas nyata, tetapi justru menggantikannya. Perang yang ditampilkan di TikTok bukanlah perang yang utuh, melainkan fragmen-fragmen emosional yang dirancang untuk memenangkan persepsi publik.

    Propaganda di TikTok tidak selalu berasal dari negara atau institusi resmi. Banyak konten yang beredar diproduksi oleh individu, konten kreator, akun anonim, atau bahkan pengguna biasa. Dalam logika ini, setiap pengguna bisa menjadi “agen propaganda” yang mendukung narasi tertentu melalui like, share, dan komentar.

    Algoritma memainkan peran sentral dalam proses ini. TikTok tidak menilai kebenaran konten, tetapi tingkat keterlibatan. Konten yang memicu kemarahan, kesedihan, atau kebanggaan lebih mungkin tersebar luas dan menjadi viral. Hal ini sebagaimana diingatkan Neil Postman, bahwa ketika informasi dikemas sebagai hiburan, makna kebenaran seringkali dikorbankan demi daya tarik.

    Akibatnya, publik tidak hanya disuguhi informasi, tetapi juga diarahkan untuk merasakan sesuatu. Dari perasaan itulah posisi politik terbentuk. Namun, di balik semua ini, ada realitas yang lebih sunyi: hilangnya makna nyawa manusia.

    Dalam derasnya arus konten, korban perang sering direduksi menjadi angka statistik atau objek visual. Video korban luka, reruntuhan bangunan, atau tangisan keluarga menjadi bagian dari narasi yang dikonsumsi secara cepat dan kemudian dilupakan saat tren berganti. Inilah paradoks paling tragis dari era digital di mana penderitaan manusia menjadi konten.

    Dari perspektif ekologi media, situasi ini menunjukkan transformasi radikal pada lingkungan simbolik kita. Kita tidak mengalami perang secara langsung, tetapi melalui representasi yang telah dimediasi, disunting, dan dioptimalkan oleh algoritma. Empati kita pun berubah: menjadi cepat, masif, tetapi dangkal.

    Kita bisa merasa sedih dalam hitungan detik, tetapi juga melupakannya dalam hitungan detik berikutnya. Lebih berbahaya lagi, propaganda berbasis internet ini menimbulkan polarisasi yang tajam. Setiap pengguna terjebak dalam “filter bubble”, di mana mereka hanya melihat narasi yang mendukung keyakinannya. Akibatnya, konflik di dunia lain turut memperdalam perpecahan di ruang digital lokal.

    Perdebatan tidak lagi berbasis fakta, tetapi pada identitas dan emosi. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi korban kedua setelah nyawa manusia.

    Namun, penting untuk diingat bahwa teknologi bukanlah takdir. Kritik terhadap determinisme teknologi menegaskan bahwa manusia tetap memiliki agensi. Masalahnya, kemampuan kritis seringkali tertinggal dibanding kecepatan produksi konten.

    Oleh karena itu, yang kita butuhkan bukan hanya literasi digital, tetapi kesadaran etis. Publik perlu menyadari bahwa setiap konten yang mereka konsumsi dan sebarkan memiliki konsekuensi moral. Membagikan video yang belum terverifikasi tidak hanya menyebabkan kesalahan informasi, tetapi juga berpotensi memperkuat propaganda yang mereduksi penderitaan manusia menjadi alat politik.

    Pada akhirnya, perang di era TikTok tidak hanya tentang siapa yang menang di medan tempur, tetapi siapa yang menang dalam membentuk persepsi. Dan dalam perebutan persepsi itu, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasaar: apakah kita masih dapat melihat manusia di balik layar, ataukah kita lebih sepenuhnya terjebak dalam hiperealitas yang menjadikan perang sebagai tontonan?


    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Menggabungkan Penelitian dan Kenyataan Menuju Indonesia Emas

    By adm_imr3 April 20261 Views

    Undang-Undang Awan AS: Ancaman Kedaulatan Data Digital Indonesia

    By adm_imr3 April 20260 Views

    Di Balik Artemis II: Pusat Kendali NASA yang Jadi Jantung Misi ke Bulan Sejak Era Apollo

    By adm_imr3 April 202632 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Hadiri Halalbihalal Muhammadiyah Jaksel, HNW: Perkuat Persaudaraan

    3 April 2026

    Amsal Sitepu Tersangkut Kasus Markup Proyek Video Desa, Kades Tak Pernah Diperiksa Inspektorat

    3 April 2026

    Sinyal Menakutkan Persebaya Surabaya Musim Depan Jika 6 Targetnya Terealisasi: 2 Posisi Kunci Kuat

    3 April 2026

    10 Ide Bisnis untuk Waktu Luang Setelah Pensiun

    3 April 2026
    Berita Populer

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    Kabupaten Malang 27 Maret 2026

    Kabupaten Malang— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang tengah menyiapkan perubahan status dua Unit Pelaksana Teknis…

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Halal Bihalal Dinkes Kab. Malang, Bupati Sanusi Bahas Puskesmas Resik dan Tunggu Kebijakan WFH

    27 Maret 2026

    Buka Musrenbang RKPD 2027, Wali Kota Malang Tekankan Kolaborasi dan Pembangunan Inklusif

    31 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?