Persebaya Surabaya akan menghadapi laga penting melawan Dewa United dalam pekan ke-19 Super League 2025/2026. Laga yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (1/2/2026) malam WIB, menjadi momen krusial bagi Green Force untuk memburu kemenangan kelima secara beruntun. Performa Persebaya Surabaya sedang sangat positif dengan empat kemenangan beruntun yang impresif. Mereka sukses menundukkan Persijap Jepara 4-0, Madura United 1-0, Malut United 2-1, dan PSIM Yogyakarta 3-0 dengan hanya kebobolan satu gol. Konsistensi lini belakang dan efektivitas serangan jadi modal utama Persebaya Surabaya untuk melanjutkan tren positif.
Namun, lawan yang dihadapi bukanlah tim yang mudah ditaklukkan. Dewa United datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah meraih dua kemenangan beruntun. Mereka baru saja menghajar Persijap Jepara dengan skor telak 4-0 dan menundukkan Arema FC 2-0. Hasil tersebut menegaskan bahwa mereka siap memberi perlawanan serius kepada Persebaya Surabaya.
Rekor pertemuan antara kedua tim tidak sepenuhnya berpihak pada Persebaya Surabaya. Kemenangan terakhir Green Force atas Dewa United tercatat pada 2023 lalu. Bahkan, Dewa United pernah mencuri kemenangan telak 3-0 di markas Persebaya Surabaya pada musim 2024/2025. Catatan ini membuat laga nanti diprediksi berlangsung ketat dan sarat tensi.
Dari sisi taktik, pertemuan ini mempertemukan dua gaya bermain yang bertolak belakang. Persebaya Surabaya di bawah arahan Bernardo Tavares dikenal reaktif dan disiplin, sementara Dewa United mengusung sepak bola ofensif berbasis penguasaan bola. Perbedaan filosofi tersebut berpotensi memunculkan duel-duel keras di lapangan. Situasi inilah yang membuat peran wasit menjadi perhatian utama pendukung Persebaya Surabaya.
Laga Persebaya Surabaya vs Dewa United akan dipimpin oleh wasit asal Bandung, Nendi Rohaendi. Sosok ini dikenal tegas dan tidak ragu mengeluarkan kartu kepada pemain. Statistik kepemimpinan Nendi Rohaendi di Super League 2025/2026 menunjukkan kecenderungan tersebut. Dari tujuh pertandingan, ia telah mengeluarkan 24 kartu kuning dan lima kartu merah. Pada beberapa laga sebelumnya, jumlah kartu meningkat signifikan, seperti saat memimpin laga Borneo FC melawan Persija pada pekan ketujuh, di mana Nendi mengeluarkan tujuh kartu kuning.
Persebaya Surabaya sendiri pernah merasakan ketegasan Nendi Rohaendi. Saat menghadapi Persik Kediri pada pekan ke-12, laga berakhir imbang 1-1 dengan satu kartu merah untuk pemain Persebaya Surabaya. Francisco Rivera menjadi sosok yang paling diingat dalam laga tersebut. Gelandang asing Persebaya Surabaya itu menerima kartu merah langsung karena pelanggaran violent conduct. Pengalaman tersebut masih membekas di benak pendukung Persebaya Surabaya. Mereka khawatir gaya kepemimpinan wasit kembali memengaruhi jalannya pertandingan penting ini.
Apalagi, tekanan laga dipastikan tinggi mengingat kedua tim sama-sama mengincar kemenangan. Kesalahan kecil berpotensi berujung kartu yang bisa mengubah peta permainan. Di sisi lain, Persebaya Surabaya tentu berharap fokus tetap terjaga sepanjang laga. Disiplin bermain dan kontrol emosi menjadi kunci agar tidak terjebak dalam keputusan-keputusan krusial wasit.
Bernardo Tavares diprediksi akan menekankan pentingnya bermain efektif tanpa banyak pelanggaran. Strategi reaktif Persebaya Surabaya menuntut ketenangan saat bertahan maupun menyerang balik. Bagi Dewa United, gaya ofensif mereka juga perlu diimbangi dengan kedisiplinan. Penguasaan bola yang tinggi sering memancing duel keras ketika kehilangan momentum.
Dengan segala dinamika tersebut, peran wasit kembali menjadi sorotan utama jelang kick-off. Pendukung Persebaya Surabaya berharap laga berjalan adil tanpa kontroversi yang merugikan tim kesayangan mereka. Pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin, tetapi juga pembuktian konsistensi Persebaya Surabaya di papan atas. Di tengah tensi tinggi dan wasit yang dikenal tegas, setiap keputusan akan berada di bawah pengawasan publik Gelora Bung Tomo.







