Situasi Terkini di Timur Tengah: Penutupan Masjid Al-Aqsa dan Ancaman Trump
Pada Jumat pagi (20/3/2026) waktu setempat, pasukan Israel membarikade jalan masuk menuju Masjid Al-Aqsa. Ini adalah tindakan yang dilakukan sebagai bagian dari langkah keamanan terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Penutupan ini juga berdampak pada pelaksanaan salat Idulfitri bagi warga Palestina.
Larangan Salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa
Untuk pertama kalinya sejak 1967, warga Palestina dilarang melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa yang berada di Yerusalem Timur, Tepi Barat, Palestina. Sejak pendudukan wilayah Tepi Barat oleh Israel pada 1967, Masjid Al-Aqsa selalu menjadi pusat ibadah bagi umat Islam, terutama pada momen penting seperti Idulfitri.
Menurut laporan The Guardian, penutupan kompleks Masjid Al-Aqsa membuat ribuan warga Palestina berkumpul dan melaksanakan salat di luar kompleks. Mereka mengatakan bahwa penutupan tersebut merupakan strategi Israel untuk memperketat pembatasan dan memperkuat kendalinya atas situs suci tersebut.
Hazem Bulbul, seorang warga Palestina yang sejak kecil selalu menghabiskan akhir puasa Ramadan di Masjid Al-Aqsa, menyampaikan rasa sedihnya terhadap kebijakan tersebut. Ia khawatir hal ini akan menjadi preseden yang berbahaya, dan mungkin bukan yang terakhir. Ia juga menyoroti bahwa campur tangan Israel di kota suci ini telah meningkat sejak 7 Oktober 2023.
Kecaman dari Negara-negara Muslim
Aksi penutupan Masjid Al-Aqsa mendapat kecaman keras dari delapan negara Arab dan mayoritas Muslim. Negara-negara tersebut termasuk Qatar, Yordania, Indonesia, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab. Dalam pernyataan bersama para menteri luar negeri yang dirilis pada Rabu (11/3/2026), delapan negara mengecam pembatasan akses bagi jamaah Muslim.
Mereka menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem Timur yang diduduki maupun atas situs-situs suci Islam dan Kristen di wilayah tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa seluruh kompleks Masjid Al-Aqsa seluas sekitar 144 dunam merupakan tempat ibadah khusus umat Muslim.
Rencana Trump dan Ketegangan di Selat Hormuz
Rencana Trump untuk menyerang infrastruktur minyak pusat Pulau Kharg di Iran mendapat perhatian global. Menurut laporan Axios, Trump mengancam akan menyerang infrastruktur minyak pusat Pulau Kharg di Iran, kecuali Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Dalam pekan lalu, pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan presisi skala besar di Pulau Kharg di Iran. Serangan itu menghancurkan fasilitas penyimpanan ranjau laut, bunker penyimpanan rudal, dan beberapa situs militer lainnya.
Selat Hormuz, jalur air untuk transportasi minyak dan gas global yang memasok sekitar seperlima minyak mentah dunia, telah terhenti sejak awal Maret setelah perang dimulai. Namun, Iran masih berhasil mengekspor lebih dari 16 juta barel minyak sejak awal Maret, menurut perkiraan platform data dan analisis perdagangan Kpler.
Peran China dalam Ekspor Minyak Iran
Karena sanksi Barat dan risiko terkait, China menjadi pembeli minyak Iran terbesar. Menurut analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, volume ekspor minyak Iran tetap “berkelanjutan”. Iran berhasil memperoleh keuntungan dari penjualan minyak dan juga “mempertahankan jalur ekspornya sendiri” dengan mengendalikan titik rawan tersebut.
Beberapa kapal di dekat atau di selat tersebut diketahui telah menyatakan diri sebagai kapal yang terkait dengan Tiongkok atau memiliki seluruh awak kapal berkebangsaan Tiongkok untuk mengurangi risiko diserang, berdasarkan analisis sebelumnya di platform pelacakan kapal MarineTraffic.
Harga Minyak Melonjak
Harga minyak telah melonjak lebih dari 40 persen hingga di atas $100 per barel sejak perang Iran dimulai, dan Iran mengancam tidak akan mengizinkan “bahkan satu liter pun minyak” yang ditujukan untuk AS, Israel, dan sekutu mereka untuk melewati wilayah tersebut.
Untuk mencoba menstabilkan harga minyak, AS mengatakan pihaknya mengizinkan kapal tanker minyak Iran untuk melintasi selat tersebut. “Kapal-kapal Iran sudah mulai berlayar, dan kami membiarkan hal itu terjadi untuk memasok kebutuhan dunia,” kata Menteri Keuangan Scott Bessent dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada hari Senin.







