Pemanfaatan Drone dalam Pertanian Bangka Selatan
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mulai mengadopsi teknologi drone sebagai langkah awal menuju modernisasi sektor pertanian. Penggunaan drone ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas di bidang pertanian, khususnya dalam hal penyemprotan pestisida dan pemupukan tanaman.
Salah satu dari tiga unit drone yang tersedia saat ini telah diuji coba untuk keperluan penyemprotan pestisida pada tanaman. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, menjelaskan bahwa sebelumnya diusulkan pengadaan 15 unit drone untuk memenuhi kebutuhan berbagai wilayah pertanian di daerah tersebut. Namun, saat ini pihaknya akan memaksimalkan penggunaan tiga unit drone yang diberikan oleh pemerintah pusat terlebih dahulu.
Risvandika menyebutkan bahwa penggunaan drone bertujuan untuk mendorong peningkatan produksi pangan. “Ini menjadi langkah awal kita dalam menggunakan teknologi drone untuk sektor pertanian,” katanya.
Meski jumlah drone masih terbatas, pemanfaatan teknologi ini sudah mulai dijalankan di lapangan. Drone yang ada saat ini difokuskan untuk tahap uji coba sekaligus pelatihan operator. Pemanfaatan drone mulai diterapkan di Desa Rias, Kecamatan Toboali, dan Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar. Kedua wilayah ini dipilih sebagai lokasi uji coba penerapan teknologi pertanian modern tersebut.
Hasil dari uji coba ini nantinya akan menjadi dasar evaluasi sebelum penggunaan drone diperluas ke berbagai wilayah pertanian lainnya. “Untuk sementara kita fokuskan di dua desa sebagai percontohan,” ucap Risvandika.
Dalam praktiknya, drone digunakan untuk pemupukan dan penyemprotan pestisida pada tanaman. Teknologi ini memungkinkan pekerjaan dilakukan lebih cepat dibandingkan metode manual. Selain itu, hasil penyemprotan pestisida menjadi lebih merata dan tepat sasaran.
Selanjutnya, distribusi drone akan diperluas sesuai dengan potensi lahan sawah di masing-masing wilayah. Sejumlah wilayah yang masuk dalam rencana pendistribusian antara lain Desa Serdang, Kecamatan Toboali, Desa Pergam, Kecamatan Airgegas, serta beberapa wilayah lain di Kecamatan Pulau Besar.
Pemerataan tersebut ditargetkan mampu mendorong peningkatan produksi pangan secara menyeluruh. “Nantinya drone akan dibagi sesuai potensi wilayah sawah yang ada,” ujar Risvandika.
Lebih lanjut, Risvandika menjelaskan bahwa bantuan drone tersebut pada prinsipnya diperuntukkan bagi sektor pertanian pangan. Namun demikian, pemanfaatannya tetap dapat diakses oleh petani secara luas di Kabupaten Bangka Selatan. Skema penggunaan drone ini masih terus dikaji, termasuk terkait biaya operasional dan sistem penyewaan.
“Pasalnya, drone menjadi barang baru dan menggunakan operator khusus, mekanisme penggunaannya masih perlu dipelajari,” tutur Risvandika.
Untuk mendukung optimalisasi penggunaan drone tersebut, pemerintah menyiapkan pelatihan bagi operator. Pelatihan dijadwalkan berlangsung pada 7–14 April 2026 di Surakarta, Jawa Tengah. Pelatihan akan melibatkan perwakilan dinas dan petani sebagai calon operator drone. “Kami diundang oleh penyedia untuk mengikuti pelatihan agar penggunaan drone bisa maksimal,” kata Risvandika.
Efisiensi Kerja yang Signifikan
KEPALA Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, mengatakan bahwa pemanfaatan drone berdampak signifikan terhadap peningkatan efektifitas kerja di sektor pertanian. “Penggunaan drone ini mampu meningkatkan efisiensi kerja hingga 85 sampai 90 persen dibandingkan cara manual,” katanya kepada Bangka Pos, Kamis (26/3).
Menurutnya, penerapan teknologi drone menjadi solusi atas berbagai keterbatasan tenaga dan waktu di lapangan. Teknologi ini memungkinkan pekerjaan seperti pemupukan dan penyemprotan dilakukan lebih cepat dan tetap sasaran. Dengan demikian, produktivitas petani dapat ditingkatkan secara signifikan. “Pekerjaan yang biasanya memakan waktu berhari-hari bisa diselesaikan dalam hitungan jam,” ujar Risvandika.
Dia menambahkan efisiensi yang dihasilkan tidak hanya dari sisi waktu, tetapi juga penggunaan sumber daya. Penyemprotan yang lebih presisi mampu mengurangi pemborosan bahan kimia dan air. Hal ini berimbas pada penurunan biaya operasional dalam jangka panjang sekaligus menjaga kualitas lingkungan. “Kami optimistis inovasi ini akan meningkat hasil panen sekaligus kesejahteraan petani,” kata Risvandika.







