:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/Dituding-terlibat-di-kasus-pembunuhan-ibu-dan-anak-di-Madiun-istri-sah-Dwi-Bagus-Martono.jpg)
Kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Kota Madiun, Jawa Timur, baru-baru ini berhasil menarik perhatian publik luas setelah terungkapnya fakta-fakta mengerikan di balik peristiwa tersebut. Pelaku utama dari kejahatan keji ini adalah seorang pria berusia 40 tahun bernama Dwi Bagus Martono. Secara mengejutkan, korban yang dihabisi nyawanya bukanlah orang lain, melainkan istri sirinya sendiri, Dini Hardiyanti (30), beserta anak sambungnya yang masih berusia empat tahun, berinisial AG.
Tindakan kriminal yang dilakukan oleh tersangka tergolong sangat biadab dan di luar batas kemanusiaan. Setelah merenggut nyawa kedua korban, pelaku tidak langsung menyerahkan diri atau melaporkan kejadian tersebut. Sebaliknya, ia tega memutilasi jasad korban dan membakarnya di area pekarangan belakang rumah yang terletak di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Jasad kedua korban dibakar hingga benar-benar hancur menjadi abu, sebelum akhirnya sisa-sisa tersebut dibuang ke aliran sungai guna menghilangkan jejak kejahatan yang telah diperbuatnya.
Di tengah kehebohan kasus ini, istri sah dari pelaku, Martha Amalia Iflahah (34), akhirnya memutuskan untuk membuka suara dan memberikan keterangan kepada publik. Dalam pernyataannya, Martha mengaku sama sekali tidak menaruh curiga dan sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya telah melakukan pernikahan siri dengan korban Dini Hardiyanti sejak tahun 2024 lalu. Keberadaan istri siri tersebut baru benar-benar terkuak oleh Martha setelah aparat kepolisian berhasil membongkar kasus pembunuhan berencana ini dan menangkap suaminya sebagai tersangka utama.
Mobilitas Pekerjaan yang Sangat Tinggi
Dalam sebuah sesi konferensi pers yang diselenggarakan di Hotel Mercure, Kota Madiun, Martha membeberkan secara detail mengenai latar belakang profesi serta mobilitas kerja suaminya. Menurut Martha, kesibukan dan tingkat mobilitas Dwi Bagus yang luar biasa tinggi menjadi alasan utama mengapa ia tidak pernah merasa curiga terhadap gerak-gerik sang suami selama ini.
Dwi Bagus Martono diketahui merupakan seorang lulusan dari salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Sebelum berurusan dengan kasus hukum ini, ia sempat berkarier sebagai seorang insinyur (engineer) di sebuah perusahaan swasta yang berlokasi di Jakarta, serta bekerja di perusahaan penyedia jasa servis minyak lepas pantai atau yang biasa dikenal dengan istilah offshore. Namun, pada bulan Agustus 2023, Bagus memutuskan untuk mengubah jalur kariernya dan memilih beralih status menjadi seorang insinyur lepas atau freelance engineer.
Pilihan profesi baru ini menuntut Bagus untuk sering bepergian lintas negara demi menangani berbagai proyek perminyakan internasional. Lingkup kerja suaminya tidak lagi terbatas di wilayah Indonesia saja, melainkan merambah ke berbagai perairan di belahan dunia lain.
Perjalanan Internasional
- Saat pertama kali beralih menjadi pekerja lepas, proyek perdana yang ditangani oleh Bagus membawanya bertolak ke Aberdeen, sebuah wilayah penting di Skotlandia, Britania Raya. Setelah proyek tersebut rampung, ia melanjutkan penugasannya ke berbagai negara lain yang memiliki proyek perminyakan serupa.
Fleksibilitas Kontrak Agen
- Sistem kerja freelance engineer yang dilakoni suaminya sangatlah fleksibel. Semua jadwal penugasan sangat bergantung pada kesepakatan kontrak kerja yang dibuat dengan agen-agen perminyakan internasional. Apabila mendapat proyek dari agen di Inggris, misalnya, Bagus diwajibkan untuk bertugas di tengah laut lepas pantai selama durasi delapan minggu penuh tanpa putus.
Ritme Libur yang Tidak Menentu
- Selesainya sebuah proyek tidak lantas memberikan kepastian jadwal libur yang tetap. Setelah masa tugas di laut usai, Bagus bisa saja berada di rumah dalam kurun waktu satu hingga dua minggu, atau bahkan bisa memperpanjang masa istirahatnya hingga satu bulan penuh jika belum ada kontrak baru yang masuk.
Panggilan Tugas Mendadak
- Sering kali, ritme kepulangan ke rumah tidak dapat diprediksi. Ada kalanya Bagus hanya memiliki waktu berkumpul bersama keluarga selama satu minggu saja di rumah, sebelum akhirnya harus kembali mendapatkan panggilan darurat dan bertolak menuju lokasi proyek perminyakan berikutnya di luar negeri.
Kepercayaan Penuh yang Dikhianati
Ritme pekerjaan di sektor lepas pantai internasional inilah yang pada akhirnya membuat Martha memberikan ruang gerak serta kepercayaan penuh kepada sang suami. Selama bertahun-tahun menjalani kehidupan rumah tangga, Martha mengaku tidak pernah memiliki pikiran buruk, perasaan curiga, ataupun prasangka negatif setiap kali suaminya pamit untuk pergi bekerja ke luar kota maupun ke luar negeri.
Lebih lanjut, Martha menegaskan bahwa dirinya bukanlah tipe seorang istri yang bersikap terlalu protektif. Ia tidak pernah memiliki kebiasaan buruk seperti memeriksa isi telepon genggam milik suaminya secara diam-diam atau mendesak untuk mengetahui berbagai kata sandi akun pribadi suaminya. Baginya, komitmen dalam pernikahan didasarkan pada rasa saling percaya yang mendalam.
Meskipun pada akhirnya kepercayaan tersebut dikhianati secara tragis lewat tindakan keji yang dilakukan oleh suaminya, Martha tetap mencoba tabah menghadapi kenyataan pahit ini. Ia meyakini bahwa segala urusan dan perjalanan suaminya di luar sana merupakan tanggung jawab pribadi yang harus dipertanggungjawabkan, sementara dirinya memilih untuk menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta.








