Ketersediaan Cadangan BBM Nasional dan Dampaknya pada Ekonomi
Menurut pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional kemungkinan kurang dari 20 hari, meskipun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa cadangan tersebut cukup untuk 20 hari ke depan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri, yang berdampak pada peningkatan permintaan akan BBM.
“Kan pasti harus dikeluarkan juga (cadangan BBM). Kalau misal tidak keluarkan, nanti akan terjadi antrean (di SPBU) dan akan menimbulkan masalah sosial baru,” ujar Fahmy Radhi dalam wawancara dengan Infomalangraya.com, YOGYA.
Permintaan yang tinggi ini berpotensi memicu kenaikan harga BBM, terutama karena dampak perang dan penutupan Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan bisa membuat harga minyak dunia mencapai US$ 82 atau bahkan lebih dari US$ 100 per barel.
Fahmy Radhi mengungkapkan bahwa cadangan BBM 20 hari tersebut dinilai sangat singkat. Ia menyarankan agar pemerintah segera membeli cadangan BBM saat harganya masih murah. Namun, jika situasi memburuk dan perang masih berlangsung, Indonesia mungkin harus membeli BBM dengan harga yang lebih mahal, yaitu di atas US$ 100 per barel.
Dilema Pemerintah dalam Menentukan Harga BBM
Dalam kondisi ini, pemerintah dihadapkan pada dilema antara menaikkan harga BBM subsidi atau mempertahankannya. Jika harga BBM subsidi naik, maka akan memicu inflasi, menurunkan daya beli masyarakat, dan menambah beban masyarakat. Namun, jika pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi, maka fiskal negara akan terbebani.
“Tetapi kalau pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi misalnya Pertalite dan Solar, maka momentumnya jangan saat Lebaran. Karena kita tahu tanpa kenaikan BBM saja inflasinya akan tinggi, apalagi ditambah kenaikan BBM. Momentumnya harus tepat, kalah salah bisa berakibat fatal,” tambah Fahmy Radhi.
Pentingnya Pasokan BBM
Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketersediaan pasokan BBM, khususnya selama Ramadan dan Idulfitri. Termasuk dalam hal ini adalah mengamankan cadangan BBM nasional. “Yang menjadi prioritas pertama adalah ketersediaan cadangan berapapun harganya. Karena harga kan uncontrollable, nggak bisa dikontrol oleh negara. Yang bisa dikontrol negara ya cadangan tadi, itu harus tetap dipertahankan,” lanjutnya.
Meski ada risiko harga beli yang tinggi, Fahmy Radhi menilai kemungkinan kelangkaan BBM dalam negeri akibat perang kecil. Hal ini karena Indonesia memiliki beberapa alternatif pasokan selain dari Timur Tengah, seperti Singapura dan Afrika. Namun, impor BBM yang besar bisa menguras devisa negara.
“Ini sangat berat, dan kalau harganya di atas US$100 bisa menguras devisa, rupiah kita akan semakin lemah,” jelasnya.
Rapat Terbatas dengan Presiden Prabowo
Presiden Prabowo memanggil sejumlah menteri dalam rapat terbatas, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, ke Istana, Senin (2/3/2026). Rapat tersebut membahas antisipasi pasokan minyak dunia imbas penutupan Selat Hormuz Iran.
Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa hingga saat ini pasokan minyak dalam negeri tidak terganggu dan cadangan minyak nasional masih cukup hingga 20 hari ke depan. Namun, ia mengakui potensi lonjakan harga minyak global akan terjadi.
Rencananya, Bahlil akan menggelar rapat dengan Dewan Energi Nasional, pada hari ini Selasa, untuk membahas langkah antisipatif lonjakan harga minyak.
Ancaman Iran Soal Minyak
Sebelumnya, Ebrahim Jabari, seorang penasihat senior untuk panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menegaskan kembali bahwa Selat Hormuz tertutup. Ia bahkan memperingatkan bahwa kapal apa pun yang mencoba melewatinya akan diserang.
“Selat (Hormuz) itu tertutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan menembak kapal-kapal itu,” kata Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima tertinggi IRGC, via Al Jazeera, Senin.
Teheran telah menargetkan infrastruktur yang sangat penting bagi produksi energi dunia sebagai bagian dari pembalasan atas pengeboman Israel dan AS yang dimulai pada hari Sabtu lalu. Penyerangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior lainnya.
Iran pun melontarkan ancaman besar terhadap AS yang akan berdampak kepada seluruh negara di dunia.
“Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai 200 dolar AS dalam beberapa hari mendatang,” kata Jabbari dalam sebuah unggahan di saluran Telegram IRGC.
Jalur Minyak Terpenting di Dunia
Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, adalah salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewatinya. Gangguan apa pun di sana akan semakin mendorong harga minyak mentah melonjak dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi regional.
Harga energi sudah naik tajam pada Senin pagi karena gangguan lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut dan kerusakan pada fasilitas produksi, meningkatkan ketidakpastian tentang bagaimana serangan AS-Israel terhadap Iran akan memengaruhi pasokan ke perekonomian dunia.
Guncangan terbesar terjadi pada harga gas alam, yang naik hampir 50 persen di Eropa dan hampir 40 persen di Asia setelah QatarEnergy, pemasok utama, menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah fasilitas LNG-nya diserang.
Sebelumnya, seorang juru bicara militer kepada kantor berita pemerintah Saudi Press Agency mengatakan, kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi juga diserang oleh pesawat tak berawak, dan sistem pertahanannya berhasil menembak jatuh pesawat-pesawat yang datang.
Kilang tersebut memiliki kapasitas lebih dari setengah juta barel minyak mentah per hari.







