Peningkatan Arus Penyeberangan dan Wisatawan Selama Libur Imlek 2026
Jumlah penyeberangan dari Sanur Denpasar menuju Nusa Penida dan Nusa Lembongan, Klungkung mengalami peningkatan signifikan selama libur Imlek 2026. Dalam sehari, jumlah orang yang menyeberang mencapai 6.000 orang, meningkat dibandingkan hari biasa yang rata-rata hanya 3.500 hingga 4.000 orang.
Ketua Wilayah Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Benoa Pelabuhan Sanur, Warsita, menjelaskan bahwa tren kenaikan trafik ini mulai terasa sejak Jumat (6/2) lalu dan terus bertahan hingga puncaknya kemarin, Selasa (17/2). Untuk mengakomodasi permintaan, frekuensi keberangkatan kapal pun ditingkatkan.
“Normalnya jumlah penumpang harian berkisar 3.500 sampai 4.000 orang, namun sekarang meningkat di rentang 4.000 hingga 6.000 penumpang. Untuk intensitas keberangkatan kapal, tercatat ada sekitar 80 sampai 88 call,” ujarnya.
Penyebab utama peningkatan ini adalah pergerakan wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menghabiskan masa libur panjang di destinasi populer Nusa Penida dan Lembongan. Pihak KSOP memastikan pengawasan ketat tetap dilakukan guna menjamin standar keselamatan pelayaran di tengah lonjakan arus penumpang.
Dinamika Sektor Akomodasi di Denpasar
Selain pelabuhan, sektor akomodasi di Denpasar juga merasakan dampak positif dari lonjakan wisatawan. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Denpasar, Ida Bagus Sidharta Putra, menyebutkan bahwa okupansi hotel selama periode Imlek ini diperkirakan mencapai angka 70 hingga 75 persen.
“Momentum libur panjang sangat berpengaruh. Saat ini sudah terlihat peningkatan pemesanan (booking) sekitar lima persen dibandingkan kondisi hari normal,” katanya.
Ia menjelaskan, pesanan kamar menjelang Imlek kali ini didominasi oleh wisatawan domestik asal Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya. Kondisi ini memberikan warna berbeda bagi kawasan Sanur yang biasanya lebih identik dengan pasar mancanegara.
Sebagai gambaran, komposisi wisatawan di Sanur sepanjang tahun umumnya dikuasai wisatawan mancanegara yakni Eropa 40 persen dan Australia 40%. Sementara porsi wisatawan domestik biasanya hanya di angka 10-15%. Namun, pada momen khusus seperti Imlek atau Lebaran, kontribusi pasar domestik bisa melonjak hingga 20%.
Dinamika reservasi saat ini juga semakin cepat berkat sistem online booking. Peningkatan okupansi mulai terlihat sejak sepekan sebelum hari H, dengan puncak kedatangan terjadi tepat dua hingga tiga hari sebelum perayaan Imlek pada Selasa.
Kunjungan Wakil Menteri Dalam Negeri ke Nusa Penida
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Republik Indonesia, Bima Arya, Minggu (15/2). Kunjungan kerja selama dua hari tersebut bertujuan untuk melakukan penyelarasan program serta mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah kepulauan Nusa Penida.
Kehadiran Wamendagri yang juga mantan Wali Kota Bogor ini disambut langsung Bupati Klungkung I Made Satria bersama Ny. Eva Satria, Wakil Bupati Tjokorda Gde Surya Putra, Sekretaris Daerah Anak Agung Gede Lesmana, Camat Nusa Penida, serta para Kepala OPD di lingkungan Pemkab Klungkung.
Pada hari pertama, Bima Arya meninjau sejumlah destinasi wisata unggulan di Nusa Penida, di antaranya Pantai Kelingking, Broken Beach (Pasih Uug) di Desa Bunga Mekar, serta Crystal Bay dan fasilitas SWRO Penida di Desa Sakti. Pada hari kedua, kunjungan dilanjutkan ke Pasar Mentigi, RSUD Gema Santi, SWRO Ceningan, serta Jembatan Kuning yang menghubungkan Lembongan dan Ceningan.
Bupati Klungkung, I Made Satria menyampaikan, Pemkab Klungkung tengah mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dasar melalui dukungan Program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah dan Air Minum.
Ia berharap kunjungan Wamendagri dapat menghadirkan dukungan konkret dari pemerintah pusat, mengingat Nusa Penida merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional dengan tantangan geografis yang memerlukan perhatian khusus.
“Kami sangat berharap dukungan untuk perbaikan akses jalan induk menuju destinasi wisata di Nusa Penida. Selain itu, kebutuhan air bersih juga akan semakin meningkat seiring perkembangan sektor pariwisata,” ujar Bupati Satria.
Bima Arya mengaku terkesan dengan keindahan alam Nusa Penida yang dinilainya memiliki potensi besar sebagai magnet wisatawan. Namun demikian, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya ditunjang infrastruktur yang memadai.
“Saya akan membantu mendampingi Pemkab Klungkung untuk mencari sumber pendanaan alternatif dari berbagai opsi. Ini harus cepat agar momentum meningkatnya kunjungan wisatawan bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bima Arya menyebut Nusa Penida sebagai hidden paradise yang belum sepenuhnya mendapat sentuhan pembangunan optimal. Ia mendorong pematangan konsep Green Island Nusa Penida yang terintegrasi dengan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) agar arah pembangunan semakin terstruktur dan berkelanjutan.
“Mumpung momentum antusiasme wisatawan cukup tinggi, kita harus bergerak cepat. Saya akan dampingi dalam penyusunan konsep Green Island yang kemudian diturunkan ke RDTR. Soal penganggaran juga akan kita lihat kembali, termasuk kemungkinan mengundang kementerian terkait untuk mendengarkan paparan ini,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan rencana untuk mengusulkan Nusa Penida kepada Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana agar dapat dipertimbangkan masuk dalam Program Destinasi Super Prioritas.
“Kita pilih beberapa titik dan bangun ekosistemnya secara menyeluruh, bukan hanya promosinya. Kemendagri memiliki dana insentif fiskal sekitar Rp 5 triliun. Nanti akan kita lihat kemungkinan dukungannya, termasuk untuk penanganan kemiskinan dan stunting,” ujarnya.







