Perjalanan Aiman Ricky Menuju Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji
Aiman Ricky berbagi kisah tentang pencapaian penting dalam hidupnya ketika ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dengan rasa syukur yang tulus, ia menceritakan bagaimana dirinya berhasil menyelesaikan sertifikasi pembimbing ibadah haji yang diikuti pada Desember lalu.
Pencapaian ini bukan hanya sekadar sertifikat, melainkan hasil dari niat yang kuat, usaha berulang, dan keteguhan hati. Menurut Aiman, keberhasilannya ini adalah salah satu pencapaian hidup yang sangat bermakna.
Keputusan untuk mengikuti sertifikasi pembimbing ibadah haji bukanlah langkah mendadak. Awalnya, Aiman memulai perjalanan dengan menjadi tour leader umrah. Dari pengalaman itu, ia mengikuti sertifikasi tour leader umrah dan mendaftarkan diri ke lembaga resmi. Namun, proses pendaftaran tersebut justru memberinya dorongan lebih besar.
Dalam proses pendaftaran, Aiman sempat ditanya mengapa tidak langsung mengikuti sertifikasi pembimbing ibadah haji. Alasannya karena ia telah menunaikan ibadah haji dan pernah menjadi petugas haji. Pertanyaan itu seperti membuka kembali mimpi lama yang sempat terpendam.
Aiman mengenang momen saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2022. Saat itu, ia sangat terkesan melihat para petugas haji yang dengan penuh keikhlasan membantu para jemaah lanjut usia dalam menjalankan rangkaian ibadah yang berat secara fisik. Dari situ, ia merasa bahwa menjadi petugas haji adalah pekerjaan yang mulia, terutama dalam melayani tamu-tamu Allah.
Sejak saat itu, niat untuk menjadi petugas haji semakin kuat. Pada tahun 2023, Aiman mulai melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan. Ia bahkan dua kali mengajukan pendaftaran. Namun, hasilnya belum berpihak. Ia dinyatakan tidak lolos karena berkas yang tidak lengkap, termasuk surat rekomendasi penting yang tidak ia miliki.
Kesempatan baru akhirnya datang melalui jalur sertifikasi pembimbing ibadah haji. Aiman menyadari bahwa pembimbing ibadah haji merupakan bagian dari petugas haji itu sendiri. Melihat peluang tersebut, ia memutuskan untuk menjadikannya sebagai jalan alternatif untuk tetap bisa mengabdi.
Proses sertifikasi yang dijalani Aiman ternyata sangat berat. Saat tiba di lokasi pelatihan, ia menemui sekitar 200 peserta lain yang ikut serta. Sebagian besar dari mereka berasal dari latar belakang profesional—dokter, profesor, hingga praktisi berpengalaman. Sementara itu, Aiman datang sebagai peserta mandiri.
Awalnya, ia merasa minder. Namun, ia tidak mundur. Ia percaya bahwa proses belajar itu lebih penting daripada hasil akhir. Selama delapan hari, ia menjalani karantina di asrama haji dengan jadwal kegiatan yang padat dan menguras fisik.
Aktivitas dimulai sejak pukul 3 dini hari hingga berakhir sekitar pukul 11 malam. Rangkaian kegiatan meliputi salat berjamaah, olahraga bersama demi menjaga ketahanan fisik, hingga materi pembelajaran yang nyaris tanpa jeda. Waktu istirahat pun sangat terbatas—dari biasanya delapan jam, menjadi hanya empat hingga lima jam per hari.
Ujian menjadi tantangan tersendiri dalam proses ini. Sejak hari pertama, peserta sudah dihadapkan pada pre-test, disusul berbagai ujian praktik, micro-guiding, hingga tes akhir yang berlapis. Materi ujiannya pun tidak main-main, mulai dari kemampuan Bahasa Arab, hafalan Al-Qur’an, hingga pemahaman teknis dan praktik pembimbingan jemaah.
Bagi Aiman, ujian tersebut sangat berat, terutama karena ia sebagai newcomer di antara para profesional. Namun, kondisi itu justru memacunya untuk belajar lebih giat. Ia kembali membuka catatan, memperdalam materi, dan memaksimalkan setiap kesempatan belajar yang ada.
Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Saat pengumuman kelulusan dibacakan, nama Aiman Ricky dinyatakan lolos. Di tengah ketatnya seleksi, terdapat empat peserta yang harus menerima kenyataan tidak lulus.
“Alhamdulillah, pas diumumin aku lolos, ya bersyukur aja,” ucapnya.







