Perjanjian New START Berakhir, Potensi Perlombaan Senjata Nuklir Meningkat
Perjanjian New START antara Amerika Serikat dan Rusia telah berakhir, mengakhiri pembatasan persenjataan nuklir yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade. Kesepakatan ini menjadi yang terakhir dalam sejarah hubungan dua negara besar dengan arsenal senjata nuklir terbesar di dunia. Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, para pengamat memperingatkan adanya risiko munculnya perlombaan senjata nuklir baru yang melibatkan tiga kekuatan utama dunia.
Penyesalan Rusia dan Tantangan AS
Pemerintah Rusia menyatakan penyesalan atas berakhirnya perjanjian tersebut. Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan perpanjangan kesepakatan selama satu tahun tambahan, asalkan Amerika Serikat melakukan langkah serupa. Namun, Presiden AS Donald Trump tidak menunjukkan komitmen jelas terkait perpanjangan. Justru, ia menginginkan keterlibatan China dalam kesepakatan baru, sebuah usulan yang ditolak oleh Beijing.
China menilai bahwa kekuatan nuklirnya masih jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia, sehingga tidak siap untuk terlibat dalam perundingan pelucutan senjata. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa pengendalian senjata nuklir di abad ke-21 tidak akan efektif tanpa melibatkan China, mengingat perkembangan pesat kekuatan nuklir negara tersebut.
Rusia Tetap Bertanggung Jawab
Putin diketahui membahas situasi ini dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam pembicaraan tersebut, Rusia menilai AS tidak merespons usulan perpanjangan yang diajukan Moskow. Para pejabat Kremlin menyatakan bahwa Rusia akan mengambil langkah yang seimbang dan bertanggung jawab berdasarkan analisis menyeluruh terhadap situasi keamanan global.
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menegaskan bahwa Rusia memandang berakhirnya perjanjian tersebut secara negatif. Meski demikian, Moskow tetap membuka peluang dialog jika mendapat respons konstruktif dari pihak AS. Selain itu, Rusia juga menegaskan akan mempertimbangkan langkah militer-teknis tegas guna menghadapi ancaman tambahan terhadap keamanan nasionalnya.
Dialog Militer Kembali Dilanjutkan
Di tengah berakhirnya New START, Amerika Serikat dan Rusia sepakat untuk kembali membuka jalur komunikasi militer tingkat tinggi. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan pejabat senior kedua negara di Abu Dhabi. Dialog militer tersebut sebelumnya dihentikan pada 2021 saat hubungan kedua negara memburuk menjelang invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Langkah pembukaan kembali komunikasi militer dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas di tengah ketegangan geopolitik yang semakin meningkat.
Isi Perjanjian New START
Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Kesepakatan ini membatasi masing-masing negara hanya boleh memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan pada tidak lebih dari 700 rudal dan pesawat pengebom strategis yang siap digunakan.
Perjanjian ini awalnya dijadwalkan berakhir pada 2021, namun kemudian diperpanjang selama lima tahun. Kesepakatan ini juga mengatur inspeksi langsung untuk memastikan kepatuhan, meski kegiatan tersebut dihentikan sejak pandemi COVID-19 pada 2020 dan tidak pernah dilanjutkan kembali.
Pada Februari 2023, Putin menangguhkan partisipasi Rusia dalam perjanjian tersebut. Ia beralasan Rusia tidak dapat mengizinkan inspeksi fasilitas nuklirnya ketika AS dan sekutu NATO secara terbuka menargetkan kekalahan Rusia dalam konflik Ukraina. Meski demikian, Rusia tetap berjanji mematuhi batas persenjataan yang telah disepakati.
Trump Dorong China Ikut Kesepakatan Baru
Trump menyatakan tetap mendukung pembatasan senjata nuklir, namun menilai kesepakatan baru harus melibatkan China. Ia sebelumnya mencoba mendorong pembentukan perjanjian nuklir tiga pihak, tetapi gagal karena penolakan Beijing. Pemerintah China menegaskan bahwa kekuatan nuklirnya tidak sebanding dengan AS dan Rusia, sehingga menolak ikut perundingan pelucutan senjata pada tahap saat ini.
Beijing justru meminta AS kembali melanjutkan dialog nuklir dengan Rusia serta merespons positif usulan Moskow untuk tetap mematuhi batasan utama perjanjian sementara waktu. Rusia sendiri menghormati sikap China. Namun, pejabat Moskow juga menilai bahwa jika perjanjian nuklir baru ingin diperluas, maka harus melibatkan negara anggota NATO yang memiliki senjata nuklir seperti Prancis dan Inggris.
Ancaman Perlombaan Senjata Baru
Para aktivis pengendalian senjata menyatakan kekhawatiran besar terhadap berakhirnya New START. Direktur Eksekutif Arms Control Association di Washington, Daryl Kimball, menilai jika AS meningkatkan jumlah senjata nuklir strategisnya, Rusia kemungkinan akan mengikuti langkah tersebut. Menurutnya, situasi tersebut juga dapat mendorong China mempercepat pembangunan kekuatan nuklirnya guna menjaga kemampuan serangan balasan strategis terhadap AS.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu perlombaan senjata nuklir tiga arah yang berbahaya dan berlangsung dalam jangka panjang.







