Pengawasan Distribusi Bahan Pangan Diperketat Menjelang Ramadan
Pengawasan terhadap distribusi bahan pangan terus diperketat menjelang Ramadan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa komoditas yang beredar di masyarakat memenuhi standar mutu serta aturan yang telah ditetapkan pemerintah.
Salah satu hasil pengawasan tersebut adalah terbongkarnya kasus peredaran bawang bombai impor yang tidak memenuhi standar ukuran di wilayah Kota Malang. Kasus tersebut diungkap oleh Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polresta Malang Kota setelah melakukan pemantauan terhadap distribusi komoditas hortikultura yang masuk ke daerah tersebut.
Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan ratusan karung bawang bombai yang diduga tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana menjelaskan bahwa penyelidikan bermula dari aktivitas distribusi bawang bombai impor yang dianggap mencurigakan. Petugas kemudian melakukan pengecekan di sebuah gudang yang berada di Jalan Rajasa, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang.
“Dari lokasi tersebut ditemukan bawang bombai merah impor yang diduga tidak memenuhi standar ukuran yang telah ditetapkan pemerintah,” ujar Kombes Pol Kholis, Sabtu (7/3/2026). Saat dilakukan pemeriksaan di gudang tersebut, petugas menemukan sekitar 700 karung bawang bombai yang ukurannya berada di bawah standar minimal.
Berdasarkan ketentuan dari Kementerian Pertanian, bawang bombai impor yang diperbolehkan masuk ke Indonesia harus memiliki diameter minimal 5 sentimeter. Untuk memastikan ukuran tersebut, petugas melakukan pengecekan fisik dengan metode pemotongan pada beberapa umbi bawang. Dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui bahwa banyak bawang bombai memiliki diameter kurang dari 5 sentimeter sehingga tidak memenuhi standar impor hortikultura yang telah ditetapkan pemerintah.
“Hasil pengecekan menunjukkan cukup banyak bawang bombai yang diameternya kurang dari lima sentimeter. Ini tentu melanggar ketentuan yang berlaku dalam regulasi impor hortikultura,” jelas Kombes Kholis. Bawang bombai tersebut diketahui dijual dengan harga sekitar Rp18 ribu per kilogram.
Sementara itu, total pasokan yang masuk ke gudang diperkirakan mencapai sekitar 1.500 karung, dengan berat masing-masing sekitar 9 kilogram. Dalam proses distribusinya, bawang bombai tersebut awalnya diangkut menggunakan truk kontainer sebelum dipindahkan ke kendaraan lain untuk kemudian dikirim ke sejumlah daerah. Salah satu daerah tujuan pengiriman diketahui berada di Mojokerto.
Dari hasil penyelidikan lebih lanjut, polisi akhirnya menetapkan seorang pria berinisial BS (46) sebagai tersangka. Ia merupakan seorang wiraswasta yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Menurut pihak kepolisian, BS diduga berperan sebagai pihak yang mengimpor sekaligus mendistribusikan bawang bombai dengan ukuran yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Modus yang dilakukan adalah memperdagangkan bawang bombai impor dengan ukuran di bawah standar yang dipersyaratkan. Padahal aturan impor secara jelas mengatur diameter minimal yang diperbolehkan,” terang Kombes Kholis. Selain menyita ratusan karung bawang bombai sebagai barang bukti, polisi juga mengamankan berbagai dokumen yang berkaitan dengan kegiatan impor tersebut.
Dokumen tersebut meliputi perizinan usaha berbasis risiko, persetujuan impor hortikultura, kontrak penjualan internasional, dokumen karantina, serta dokumen pengiriman barang dari India. Kasatreskrim Polresta Malang Kota AKP Rahmad Aji Prabowo menambahkan bahwa pengawasan terhadap distribusi bahan pangan akan terus ditingkatkan, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya diiringi dengan meningkatnya permintaan masyarakat.
Menurutnya, langkah ini dilakukan untuk mencegah adanya pelanggaran yang dapat merugikan konsumen sekaligus menjaga stabilitas distribusi pangan di pasaran. “Kami akan terus melakukan pengawasan secara preventif dan preemtif. Jika ditemukan pelanggaran yang merugikan masyarakat, tentu akan kami tindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Undang-Undang Hortikultura serta Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Ia terancam hukuman pidana penjara paling lama dua tahun atau denda maksimal sebesar Rp2 miliar. Selain melakukan penegakan hukum, Polresta Malang Kota bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah juga terus memantau distribusi bahan pangan di wilayah Malang. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan serta menjaga stabilitas harga selama Ramadan hingga Idul Fitri.






