Kehidupan Nurul Fatimah, Pesilat Muda yang Berjuang dengan Kedisiplinan
Nurul Fatimah lahir pada tanggal 28 April 2015. Ia tumbuh di kawasan Desa Kramatmulya, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan. Di tempat ini, ia bersekolah di MI PUI Kramatmulya. Sejak dini, ia menunjukkan sifat gigih dan tekun. Kedisiplinan mulai meresap ke dalam jiwanya melalui proses belajar dan latihan.
Nurul bukan tipe gadis yang aktif dalam banyak organisasi. Ia lebih memilih fokus pada satu hal, yaitu mengasah kemampuan fisik dan mentalnya di gelanggang pertandingan pencak silat. Baginya, kesuksesan tidak datang begitu saja. Dibutuhkan usaha dan ketekunan untuk mencapainya.
Setiap atlet besar memiliki rahasia di balik kekuatannya. Bagi Nurul, rahasia itu terletak pada dua hal yang sederhana: makan dan latihan. Ia sangat menyukai aktivitas tersebut karena keduanya saling berkaitan. Makan memberikan energi, sedangkan latihan membentuk keahlian. Ia memahami betul kebutuhan nutrisi bagi tubuhnya. Tanpa asupan yang cukup, latihan keras akan terasa sia-sia. Di sisi lain, latihan rutin menjadi kawah candradimuka yang membuatnya rajin mengasah jurus dan teknik bertandingnya.
Kedisiplinan ini lahir dari motivasi internal yang sangat kuat. Di balik keberhasilannya, ada sosok ibunda yang luar biasa bernama Afriyani. Ia menjadi pilar utama dalam hidup Nurul. Doa dan dukungannya selalu menyertai setiap langkah Nurul Fatimah. Baginya, restu orangtua adalah modal utama sebelum menginjakkan kaki di matras pertandingan.
Lingkungan Desa Kramatmulya juga memberikan pengaruh positif bagi perkembangannya. Meski tidak ikut organisasi, dukungan masyarakat sekitar tetap mengalir. Hal tersebut membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk membawa nama baik daerah dan sekolah.
Ketekunannya membuahkan hasil yang manis. Ia telah mengoleksi banyak medali dari berbagai kejuaraan. Salah satu momen emasnya terjadi di ajang Indramayu Champions 2026. Di sana, Nurul berhasil menyabet gelar Juara 1 kategori Tanding. Prestasinya tidak berhenti sampai di situ. Ia juga menunjukkan kemampuannya di kategori Jurus Seni Tunggal. Pada ajang yang sama, dirinya berhasil meraih Juara 2. Hal ini membuktikan sebagai pesilat yang serba bisa. Dirinya unggul dalam pertarungan fisik sekaligus indah dalam gerak seni. Kemampuan adaptasi tersebut sangat jarang dimiliki oleh pesilat pemula.
Dirinya pun berjaya di ajang Kejuaraan Jawara Cup II. Ia naik ke podium tertinggi sebagai Juara 1 Tanding. Prestasi tersebut semakin mengukuhkan namanya sebagai petarung yang disegani. Tak lama berselang, kembali unjuk gigi di Kuningan Championship. Di tanah kelahirannya sendiri, sukses membawa pulang gelar Juara 2 Tanding.
Nurul Fatimah adalah sosok yang mandiri dalam berpikir. Saat anak muda lain sibuk mencari idola untuk ditiru, ia memilih jalannya sendiri. Ia mengaku tidak memiliki idola dari kalangan figur publik. Baginya, setiap orang memiliki potensi untuk menjadi versi terbaik dirinya.
Prinsip hidupnya sangat jelas dan tegas. Ia ingin menjadi orang sukses dan tidak pernah menyerah. Hal itu dipraktikkan dalam setiap sesi latihannya yang berat. Dirinya percaya, kegagalan hanyalah kemenangan yang tertunda. Selama napas masih berhembus, perjuangan tidak boleh berhenti.
Karakter Pesilat Taurus yang dimilikinya sangat membantu karena zodiak tersebut dikenal sebagai pribadi yang setia pada proses. Mereka tidak mencari jalan pintas untuk mencapai kesuksesan. Begitu juga dengan Nurul yang menikmati setiap tetes keringat di medan latihan karena tidak ada kejayaan yang datang tanpa pengorbanan.
Meski kini dikenal sebagai pesilat muda, ia mempunyai mimpi lain karena bercita-cita menjadi seorang guru. Hal itu agar dirinya bisa membagikan ilmu dan pengalamannya kepada generasi penerus. Pendidikan adalah kunci kesuksesan yang sesungguhnya. Menjadi guru akan memberinya kesempatan untuk membentuk karakter anak muda. “Saya ingin mengajarkan bahwa olahraga bukan hanya soal otot. Ada nilai sportivitas, kejujuran dan kerja keras di dalamnya,” tutur Nurul Fatimah.







