Program waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) kini memasuki tahap tender. Sebanyak 24 perusahaan internasional telah terlibat dalam proses ini, dan mereka diwajibkan untuk membentuk konsorsium agar dapat saling mendukung dalam penerapan teknologi dan solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Lead dari Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa konsorsium yang dibentuk oleh peserta tender diharapkan mampu memberikan transfer teknologi kepada perusahaan lokal maupun pemerintah daerah. Proyek WtE ini akan fokus pada empat kota utama, yaitu Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
Dalam proses tender tersebut, Danantara Indonesia menekankan pentingnya tata kelola yang kuat sejak awal. Hal ini mencakup pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) yang transparan serta berbasis mitigasi risiko. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya berdampak lingkungan, tetapi juga secara ekonomi dan sosial.
Beberapa perusahaan yang ikut serta dalam tender WtE berasal dari negara-negara besar seperti Prancis, China, dan Jepang. Berikut adalah profil singkat mengenai ketiga perusahaan tersebut:
Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)
Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd didirikan di Singapura pada 13 Desember 1997. Perusahaan ini merupakan bagian dari grup multinasional Veolia asal Prancis yang bergerak di bidang pengelolaan air, limbah, dan energi. Di tingkat global, Veolia hadir di lebih dari 50 negara dengan jutaan pelanggan.
Di Indonesia, Veolia hadir melalui PT Veolia Services Indonesia. Salah satu proyek yang mereka lakukan adalah pembangunan pabrik daur ulang PET dengan kapasitas 25.000 ton per tahun di kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang. Pabrik ini memproduksi PET food grade yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.
Selain itu, Veolia juga bekerja sama dengan PT Tirta Investama (Danone-AQUA) untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. Keduanya membentuk pabrik daur ulang botol plastik PET pada akhir Juni 2021, yang diresmikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
China Conch Venture Holding Limited (China)
China Conch Venture Holding Limited adalah perusahaan yang berbasis di Wuhu, Provinsi Anhui, China. Didirikan pada 2013, perusahaan ini fokus pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan infrastruktur. Mereka terdaftar di Bursa Efek Hong Kong dengan kode saham 0586.
Salah satu bidang usaha utama China Conch adalah waste to energy (WtE), yang mencakup solusi insinerasi limbah, pengolahan limbah padat, serta produksi dan penjualan peralatan pembangkit energi sisa panas. Selain itu, mereka juga terlibat dalam jasa logistik pelabuhan, material bangunan baru, dan energi terbarukan.
China Conch pernah menjalin kerja sama dengan PT Conch South Kalimantan Cement (PT CSKC), yang bernaung di bawah Anhui Conch Group Co., Ltd. PT CSKC pernah mendapatkan anugerah sebagai “Wajib Pajak Besar” dan memiliki kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal dan pemerintah di Kalimantan Selatan.
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) adalah salah satu pemain utama dalam proyek lingkungan dan energi bersih. Jejak mereka tercatat di Singapura melalui proyek TuasOne Waste-to-Energy Plant Project senilai 750 juta dolar Singapura.
Di China, MHIECE mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai, salah satu proyek WtE terbesar di dunia senilai 11 miliar yen. Di Shanghai, MHIECE mengolah 6.000 ton sampah setiap hari untuk menghasilkan listrik berkapasitas 144 megawatt (MW).
Di Jepang, MHIECE tercatat menandatangani kontrak baru pada 2025 untuk meningkatkan efisiensi energi listrik di pusat insinerasi limbah padat di Kanazawa dan Miyazaki. Energi listrik yang dihasilkan dari pengolahan 250 ton sampah per hari di Kanazawa mencapai 3 MW.
Mesin produksi MHIECE juga digunakan di Indonesia, khususnya di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) bersama PLN Nusantara Power yang berjalan sejak 2019. Energi listrik yang dihasilkan adalah 750 kilowatt per jam (kWh) untuk penerangan di sekitar tempat pembuangan.
Proses pengolahan sampah yang dilakukan MHIECE di lebih dari 300 pabrik di seluruh dunia menggunakan mesin pembakaran atau insinerator tingkat tinggi yang mampu membakar lumpur limbah dengan berbagai berat.







