Dampak Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Perekonomian dan Sosial
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan efek domino terhadap perekonomian nasional. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah pertanian, yang pada tahun 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.
Ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menyampaikan bahwa program MBG turut mendorong pertumbuhan sektor pertanian karena adanya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif. Menurutnya, di kuartal keempat tahun 2025, pertumbuhan ekonomi secara makro mencapai 5,39% (yoy). Salah satu motor penggerak utamanya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 6,12% (yoy).
Lebih dalam lagi, Fithra menjelaskan bahwa pertumbuhan sektor pertanian mencapai 5,33% (yoy), karena produknya terserap oleh SPPG. Hal ini menunjukkan bahwa program MBG memiliki peran penting dalam meningkatkan produksi pertanian.
Investasi di Sektor Hulu MBG
Selain itu, Fithra menilai bahwa saat ini mitra pengelola SPPG dan pengusaha mulai berinvestasi di produk hulu MBG seperti pertanian dan peternakan. Dengan demikian, tidak heran jika terjadi lonjakan pertumbuhan di sektor pertanian akibat dampak positif MBG.
“Pertumbuhan sektor pertanian tahun lalu terbilang tertinggi selama beberapa tahun terakhir. Tahun 2025 tumbuh 5,33%, sedangkan di 2024 hanya 0,68%, dan di 2023 hanya 1,31%. Jadi dari sini saja kita bisa melihat pertumbuhannya sangat signifikan,” jelas Fithra.
Investasi pada sektor hulu ini dianggap sebagai solusi jangka panjang agar kebutuhan pangan program MBG tidak mengganggu stabilitas harga di pasar umum. Selain itu, investasi ini juga memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kapasitas produksi petani lokal.
Dampak Jangka Pendek: Peningkatan Rantai Nilai UMKM
Selain berdampak pada sektor pertanian, salah satu dampak jangka pendek yang paling terasa adalah peningkatan rantai nilai di tingkat UMKM. Menariknya, program ini juga mendorong partisipasi aktif perempuan di sektor formal maupun informal.
“Program MBG ini jauh lebih inklusif jika kita bicara mengenai pola investasinya. Partisipasi perempuan menjadi lebih terlihat karena di sektor kuliner, peran perempuan cenderung dominan. Ini memberikan peluang ekonomi yang nyata bagi mereka,” ujar Fithra.
Penyerapan Tenaga Kerja dan Pemberdayaan Perempuan
Diketahui, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus meningkat. Hingga hari ini, SPPG yang dibangun telah mencapai 23 ribu unit. Diperkirakan sebanyak 1,4 juta tenaga kerja terserap secara langsung di dapur yang mengolah MBG. Berdasarkan data internal Badan Gizi Nasional, sekitar 55% pekerja dapur SPPG adalah perempuan, atau sekitar 770 ribu pekerja yang terserap oleh program MBG adalah perempuan.
Partisipasi aktif perempuan dalam SPPG juga berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi. Program MBG membuka peluang kerja baru, khususnya bagi perempuan, dan berkontribusi pada peningkatan pendapatan rumah tangga.
Efisiensi Anggaran Rumah Tangga
Menurut survei yang dilakukan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), terhadap 1.800 orang tua, program MBG terbukti memberikan dampak positif terhadap efisiensi anggaran rumah tangga. Sebanyak 36% responden mencatat penurunan pengeluaran harian, terutama berkat berkurangnya biaya bekal dan uang saku anak. Meskipun 63% keluarga melaporkan penghematan yang masih di bawah 10% dari total belanja bulanan, kehadiran MBG dinilai efektif dalam menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga.
Dukungan untuk Keberlanjutan Program
Dukungan terhadap keberlanjutan program MBG menurut hasil studi RISED mencapai 81 persen di kalangan orang tua rumah tangga. Orang tua siswa ternyata tidak sekadar melihat MBG sebagai manfaat ekonomi semata, namun juga sebagai program yang memberikan keamanan dan kenyamanan.
“Di luar manfaat ekonomi, ada aspek ketenangan batin yang dirasakan orang tua. Salah satu responden mengungkapkan, ‘Saya jauh lebih tenang kalau anak pulang sekolah dalam keadaan senang karena sudah makan. Rasanya ada kenyamanan tersendiri bagi kami orang tua mengetahui anak tidak pulang dalam kondisi lapar,” ungkap Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi.
Standar Gizi dan Kepuasan Orang Tua
Standar gizi yang diberikan MBG sudah sangat baik di mata para orang tua siswa. 72% orang tua dalam survei merasa setuju bahwa anak-anak jadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi sejak menerima MBG. Dengan begitu, beban pikiran orang tua pun berkurang untuk memikirkan nutrisi harian anak-anaknya.







